Islam Menyeru Umatnya Mencari Ilmu Pengetahuan

(Sumber Gambar: Redaksi Kuliah Al-Islam)
Oleh: Fitratul Akbar

KULIAHALISLAM.COM - Islam adalah agama yang amat mementingkan dan menyeru umatnya untuk menuntut ilmu. Bahkan Al-Qur'an telah memainkan peranan yang cukup penting dalam pembinaan tamadun islam agar umatnya terus belajar dan berkembang serta sering menyelidiki terhadap sesuatu perkara. Perkara ini dibuktikan di dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw dalam firman Allah swt (Al-Alaq 96: 1-5) yang bermaksud, Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk). Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang maha pemurah, yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan; ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya".

Ayat ini memberi isyarat dan perintah yang amat jelas dalam bidang pendidikan. Perkataan iqra (bacalah) yang di sebutkan oleh malaikat jibril as berulang ulang kali kepada Rasulullah saw menegaskan supaya umat manusia belajar, mengkaji, dan mencari ilmu. Jika diteliti secara lebih mendalam, ayat ini mendidik dan mengajak orang yang beriman supaya menjadi orang yang berilmu(Yusuf Ahmad, 2002: 53). Petunjuk awal ini jugalah yang telah mendorong Rasulullah menjadikan aspek pembinaan pribadi cemerlang sama ada secara fisikal, mental, maupun spiritual mendahului segala agenda lain yang bersifat duniawi, material, dan pembangunan fisikal(Ja’far, 2003: 137).

Berdasarkan ayat ini juga, ulama membuat kesimpulan bahwa belajar atau mencari ilmu itu adalah wajib, terutamanya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama Islam (Yusuf Ahmad, 2002:53). Kejadian Allah SWT yang sangat luas memerlukan kajian yang mendalam, memerlukan manusia menggunakan akalnya, dan memperoleh pengetahuan yang tinggi. Penguasaan ilmu adalah amat dituntut oleh Islam. Justeru itu, Islam mewajibkan setiap umatnya, lelaki atau perempuan, untuk menuntut ilmu secara terus berkelanjutan. Kewajiban ini juga bertujuan supaya umat Islam itu tergolong dalam umat yang cerdas dan terhindar dari kejahilan. Inilah ayat-ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT dan ia merupakan rahmat Allah yang terbesar untuk umat manusia.

Dalam ayat-ayat permulaan ini, Allah SWT telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW supaya membaca dan memperhatikan bukti kebesaran Allah di muka bumi ini; serta ayat ini jugalah yang telah menjadi landasan terciptanya pendidikan Islam bagi sekalian umat Islam (Reza, 2008: 24). Selain daripada perintah secara langsung dari surah Al-Alaq, minda dan kesedaran manusia selalu dirangsang dengan pertanyaan retorik firman-firman Allah SWT yang berbentuk “Apakah engkau tidak berakal?”, “Apakah engkau tidak berfikir?”, dan seumpamanya. Menurut Mahyuddin Ashaari (2001:2), dalam Al-Qur’an, perkataan “akal” diulang sebanyak 49 kali yang kebanyakannya diungkapkan dalam bentuk perbuatan (fi’il mudhari’). Dalam ilmu Bahasa Arab, ungkapan dalam bentuk ini membawa maksud selalu menggunakan akal dan berfikir. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sering merangsang dan menggalakkan manusia supaya menggunakan akal atau berfikir. Sehubungan dengan itu, manusia juga dilahirkan dalam keadaan yang suci, bersih, dan tidak mengetahui apa-apa.

Pendidikan awal adalah amat penting bagi mencorakkan kehidupan seseorang itu yang bermula dari peringkat kanak-kanak lagi. Firman Allah SWT yang bermaksud: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu kamu dengan keadaan tidak mengetahui sesuatupun; dan Dia mengaruniakan kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (akal fikiran) supaya kamu bersyukur". Di samping itu, Allah SWT juga telah menegaskan dalam firman-Nya, surah Al-Zumar (39:9) tentang perbedaan di antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Firman-Nya yang bermaksud adalah seperti berikut: Katakanlah lagi (kepadanya): “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya, orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dan peringatan hanyalah orang-orang yang berakal sempurna.

Dalam ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan penghargaan yang cukup tinggi terhadap orang yang berakal, berfikiran, dan berilmu pengetahuan. Dalam ayat ini pula perkataan ulul al-bab dapat diartikan sebagai orang yang berakal, atau orang yang mempunyai hati, yakni orang yang mempunyai hikmah dan kebijaksanaan, yang terdiri daripada para ulama, golongan cendekiawan, dan intelektual, serta siapa saja yang menggunakan hati dan akal untuk memerhatikan dan memikirkan semua kejadian di muka bumi ini (Ashaari, 2001:3). Sehubungan dengan itu, dalam Al-Qur’an terdapat juga galakan supaya manusia senantiasa berusaha untuk memperlengkapkan diri mereka dengan ilmu pengetahuan. Sebagai contohnya, firman Allah SWT dalam surah Al-Mujadalah (58:11) yang bermaksud: “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”. Janji ganjaran di sisi Allah ini merupakan insentif terpenting bagi umat manusia dalam mencari dan menyebar ilmu yang mana telah mewujudkan satu budaya ilmu yang universal.

Dalam sejarah, umat Islam bersikap terbuka terhadap khazanah ilmu tamadun-tamadun lain, tetapi kritis dengan menyebutkan khazanah ilmu tersebut dengan nilai-nilai dan tuntutan Islam. Insentif inilah yang telah menjadi pendorong kepada pemimpin-pemimpin Islam untuk menjadi pelopor dan penaung kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan memberikan hak kepada setiap lapisan masyarakat untuk memperkembangkan minat dan kecenderungan mereka terhadap ilmu pengetahuan, walaupun tidak semua yang melibatkan diri secara aktif (Nor Wan Daud, 1990:63). Menurut Ibn Khaldun (2000:537), Allah SWT telah memberikan derajat yang tinggi kepada manusia dan membedakan manusia dengan makhluk lain ciptaan-Nya melalui kemampuan manusia untuk berfikir supaya manusia dapat mengatur segala tindak-tanduknya dengan baik. Al-Ghazali pula menyifatkan ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mampu meninggikan martabat manusia serta memberi input yang berkesan untuk membina kekuatan pada jiwa manusia. Kekuatan inilah yang akan mematahkan keinginan hawa nafsu dan membawa manusia menghampirkan diri (taat) kepada Maha Pencipta. Jelasnya, ilmu pengetahuan bukan saja menduduki hirarki terpenting dalam pembangunan manusia dan pembinaan masyarakat secara keseluruhan, bahkan menjadi medium utama untuk menggerakkan manusia melaksanakan fungsi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Oleh yang demikian, potensi yang dibekalkan oleh Allah SWT kepada manusia ini perlu dibangun, dididik, dan dilatih secara seimbang bagi melayakkan mereka memikul tanggungjawab mengurus dan memimpin umat manusia, di samping merancang dan mengatur untuk membangun dan memakmurkan alam ini sesuai dengan kejadiannya sebagai makhluk berakal (dipetik oleh Ashaari, 2001:2).

Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan izin Allah SWT. Oleh yang demikian, terdapat banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk menempuh dan menggunakan pelbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Selain itu, terdapat banyak lagi ayat Al-Qur’an yang menunjukkan tentang kelebihan ilmu dan betapa tingginya kedudukan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Umum mengetahui bahwa pengutusan Nabi Muhammad SAW adalah merupakan era baru dalam arena pendidikan. Ini termaktub dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah (2:151), yang bermaksud: "(Nikmat berkiblatkan Ka'bah yang Kami berikan kepada kamu itu), samalah seperti (nikmat) Kami mengutuskan kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu (yaitu Muhammad), yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, dan membersihkan kamu (dari amalan syirik dan maksiat), dan yang mengajarkan kamu kandungan kitab (AlQur’an) serta hikmat kebijaksanaan dan mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui. Oleh itu ingatlah kamu kepada-Ku (dengan mematuhi hukum dan undang-undang-Ku), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan; dan bersyukurlah kamu kepada-Ku dan janganlah kamu kufur akan nikmat-Ku"

Pendidikan pada era Rasulullah ini agak berbeda dengan yang sebelumnya, karena ia bersumberkan wahyu. Aktivitas pembetulan akidah dan pembersihan kebudayaan yang di jalankan oleh Nabi di Mekah adalah proses pertama ke arah pembentukan sebuah tamadun Islam yang beradab. Program peningkatan tamadun umat Islam ini diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah dengan memperbanyakkan lagi institusi pendidikan. Baginda telah menjadikan masjid-masjid di sekitar Madinah sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran, di samping kegiatan-kegiatan lain (Bakar, 1999:55). Untuk mewujudkan kekuatan sebuah bangsa dan negara, kekuatan agama hendaklah di bina dan di kembangkan di semua peringkat pendidikan. Manakala untuk mencapai matlamat memiliki warganegara yang baik, asas-asas pembinaan manusia haruslah berpadu dan bermula dengan pembinaan akidah yang benar dan kukuh (Thaiibul Mas’udil Banjaari, 2008).

Pendapat ini juga adalah berdasarkan firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf ayat 172, yang bermaksud: Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka dan Ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil bertanya dengan firman-Nya): “Bukankah Aku Tuhan kamu?”. Mereka semua menjawab: “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: “Sesungguhnya kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang hakikat tauhid ini”.

Dari sudut pandangan Islam, mencari ilmu dan mengajarkannya adalah satu kewajiban yang sangat mulia; maka oleh yang demikian, mencari ilmu adalah satu kewajiban bagi setiap Muslim. Lebih tegas lagi, Islam mewajibkan bagi setiap umat Islam untuk menuntut ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang bermaksud: “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban ke atas setiap orang Islam” (Yahya Ibrahim, 2004). Sabda Rasulullah SAW ini menunjukkan bahwa kewajiban menuntut ilmu bukanlah eksklusif kepada golongan tertentu sahaja, bahkan kewajiban tersebut adalah ke atas seluruh umat Islam. Allah SWT (Subhanahu Wa-Ta’ala) tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka berusaha untuk mengubahnya sendiri; dan di antara cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan ilmu yang boleh didapati daripada proses pendidikan. Terdapat juga beberapa Hadis yang menunjukkan tentang kepentingan pendidikan kepada umat Islam. Sebagai contohnya, dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari RA (Radiallahu Anh) dan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, maksudnya: “Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam keadaan suci, maka ibu bapanyalah yang menjadikan ia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi”.

Dalam Hadis ini menerangkan bahwa ibu bapa memainkan peranan yang cukup penting dalam pendidikan awal, seperti membentuk asas-asas perkembangan diri seseorang anak. “Melentur buluh biarlah di waktu rebung”, peribahasa ini membawa analogi bahwa untuk mendapatkan keberkesanan dalam pendidikan seseorang itu mestilah bermula daripada masa kanak-kanak. Ini bertepatan dengan beberapa sabda Rasulullah SAW, contohnya: (1) “Suruhlah anak-anak kamu bersolat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun, jika masih tidak bersolat”; dan (2) “Didiklah anak-anak kamu dengan sopan santun dalam tiga perkara: kasihkan Nabi kamu, kasihkan kaum keluarganya, dan membaca Al-Qur’an” (Langgulung, 1986). Sejarah juga telah membuktikan kepada kita bahwa kemajuan sesuatu bangsa adalah bergantung kepada pencapaian ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh tamadun tersebut. Kedudukan istimewa manusia di muka bumi ini, seperti yang dinyatakan dengan jelas oleh Allah SWT, terletak kepada kelebihannya dalam ilmu pengetahuan.

Rasulullah SAW juga telah mengangkat tinggi orang-orang yang berilmu pengetahuan dan menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu tanpa mengira tempat, masa, dan bahasa. Antara sabda-sabda yang pernah diungkapkan oleh Baginda Rasulullah SAW tentang kelebihan menuntut ilmu ialah: “Ilmu itu hidupnya (jiwanya) dan Islam tiang agamanya”. Siapa yang berbicara tentang ilmu berarti memuji Tuhan. Siapa yang berusaha mencari ilmu berarti menyembah Tuhan. Siapa yang mengajar ilmu, Allah menyempurnakan pahalanya, dan siapa yang mempelajari ilmu dan mengamalkannya, Allah akan menunjukkan hal-hal yang belum diketahuinya”. “Sesungguhnya Malaikat-malaikat menghantarkan segala sayap bagi orang yang menuntut ilmu dan redha dengan apa yang dituntutnya”. “Siapa yang berjalan dalam keadaan jalan menuntut padanya akan ilmu, niscaya memudahkan Allah Ta’ala baginya jalan ke surga, dan sesungguhnya orang yang berilmu memohon ampun baginya oleh orang-orang yang di dalam tujuh petala langit dan mereka yang ada di dalam bumi sehingga segala ikan yang di dalam air”. “Menghidupkan Allah Ta’ala akan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat, kemudian Dia membedakan para ulama, maka Dia berfirman kepada mereka: Wahai para ulamak, sesungguhnya Aku tidak menghantar ilmu-Ku pada kamu karena hendak menyiksa kamu, tetapi demi memuliakan kamu; pergilah kamu sekalian ke Surgaku, maka sesungguhnya Aku telah mengampuni bagi kamu”.Siapa yang datangnya Malaikat maut, sedang dia dalam menuntut ilmu supaya menolong dengannya Islam, maka antaranya dan antara para Anbia derajat yang satu di dalam surga”. “Ilmu ada khazanah-khazanah dan anak kuncinya pertanyaan dan tanyakanlah olehmu sekalian, maka sesungguhnya bertanya tentang ilmu itu diberi pahalanya empat orang: Pertama, orang yang bertanya. Kedua, orang yang kena tanya. Ketiga, orang yang mendengar pertanyaan dan jawaban. Keempat, orang yang kasih kepada ketiga-tiga orang tersebut”. “Demi sesungguhnya engkau berpagi-pagi, maka engkau menuntut satu bab daripada ilmu lebih baik daripada bahwa engkau sembahyang sunat seratus rakaat”.

Berdasarkan kepada Hadis-hadis di atas, rata-rata memberikan dorongan kepada manusia supaya senantiasa berusaha dalam memperlengkapkan diri dengan ilmu pengetahuan yang boleh didapati daripada proses pendidikan. Pendidikan mempunyai kuasa untuk mengubah minda, pandangan, dan cara hidup seseorang. Tegasnya, ilmu pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting sebagai asas kekuatan sesuatu bangsa atau tamadun. Malah telah berlaku beberapa kali dalam sejarah, bagaimana sesuatu bangsa yang kuat tetapi tidak di tunjangi dengan budaya ilmu yang baik akan memeluk dan menganut nilai-nilai dan ciri-ciri tamadun lain yang di taklukinya.

Fitratul Akbar

Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Pegiat Isu-isu Filantropi Islam dan Perdamaian Dunia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال