Dromologi Saintifik di Mulai Dari Kampus (Membangun Generasi Muda Moderat Anti Hoax)


Oleh : Julhelmi Erlanda

Mengkhawatirkan! Di era internet ini, gaya hidup kita secara tidak sadar digerakkan oleh obsesi kecepatan, bahkan realitas dunia industri bahkan kebudayaan semua diputuskan atas dasar logika kecepatan. Kita telah meninggalkan gaya hidup yang berprinsip pada produksi dan konsumsi. Begitulah paling tidak kalimat sederhana dari penjelasannya Paul Virilio dalam bukunya Speed and Politics: an essay on dromology.  

Sementara kakek nenek kita masih meyakini bahwa Knowledge is power seperti yang pernah diungkap oleh Francis Bacon, dimana pengetahuan adalah segalanya, maka menurut Virilio bahwa sebagai kendaraan terakhir, Internet menjadikan persaingan di atas dunia ini tidak hanya didasarkan pada pengetahuan saja, tetapi juga siapa yang paling cepat mengetahui dan siapa yang paling cepat memanfaatkan pengetahuan itu. 

Inilah era postmodernitas yang ditegakkan oleh prinsip dromologi. Bukankah telah terjadi perlombaan adu kecepatan dalam industri media informasi; siapa cepat dialah yang terdepan, siapa cepat dialah yang menang, sementara diam berarti mati. 

Dalam interaksi sosial pun terjadi perlombaan dalam pemerolehan informasi. Didukung oleh percepatan teknologi pertukaran data di dunia maya, semua orang menjadi berhasrat untuk selalu mengikuti kabar terbaru di media sosial serta ada rasa takut ketinggalan informasi, fear of missing out

Namun sayangnya, adu kecepatan itu bukan dikarenakan rasa keingintahuan akan informasi itu sendiri, melainkan sekekadar agar kita bisa terus terlibat dalam diskursus dengan teman kita. 

Dengan dorongan emosi, para pengguna media sosial kini dengan mudah melupakan prinsip verifikasi, cenderung terburu-buru sampai hilang nalarnya karena sekedar ingin menjadi yang pertama mengabarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Inilah fenomena dromologi kebohongan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tiga ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS, Sinan Aral, Soroush Vosoughi, dan Deb Roy menyimpulkan bahwa hoaks menyebar 6 kali lebih cepat ketimbang berita fakta. 

Selain lebih cepat, artikel mereka juga menyatakan bahwa berita  hoaks juga 70% berdampak lebih luas dibanding berita fakta. Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena dromologi kebohongan di masyarakat akan mengakibatkan terbitnya era post-truth, yakni emosi dan perasaan lebih penting ketimbang fakta dan data. 

Berita bohong kini dengan mudah dapat disebarluaskan dengan kecepatan dan daya jangkau yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Belum lagi adanya kejadian trial by the press yang dilakukan oleh media massa dalam banyak kasus, sering sekali terjadi peradilan sepihak yang dilakukan oleh netizen dengan memberikan berita terus menerus sehingga menarik opini publik untuk menghakimi tersangka atau terdakwa yang dianggap bersalah padahal proses perkara belumlah selesai atau berkekuatan hukum tetap.  

Inilah mungkin yang dimaksud oleh Virilio bahwa kecelakaan integral dari ditemukannnya internet adalah ketika realitas virtual lebih kuasa dibandingkan realitas aktual.  Lalu, selain upaya literasi digital yang digalakkan pemerintah dan penguatan norma hukum, Bagaimana dengan respon civitas kampus menjawab tantangan ini?

Agar virus dromologi kebohongan bisa dicegah, cara paling mungkin adalah dengan menerapkan strategi dromologi saintifik. Karena nilai kebenaran dari sebuah informasi tentu tidak bisa hanya didasarkan pada banyaknya penyebar berita, atau ramainya diskursus yang memviralkannya. 

Karena sebuah informasi bisa dinyatakan benar bila telah melalui serangkaian proses yang kecurigaan skeptis dan prinsip kehati-hatian, maka berita yang datang perlu mendapat respon ‘jaga jarak’ terlebih dahulu sebelum ditemukan vaksinnya. 

Proses cuci otak dengan metode Blow up informasi yang disengaja itu harus dianggap seperti virus yang siap menyerang pikiran siapa saja. Penyebaran informasi yang dianggap berkualitas sangat ditentukan oleh kemampuan  kita dalam memverifikasi. 

Dan memang nalar yang paling tepat untuk mendukung tersebut adalah nalar akademis. Sehingga tradisi ilmiah lah yang menjadi garda terdepan dalam melayani vaksinasi ini kepada masyarakat disekitarnya di era industri 4.0 ini.

Mari kita ambil saja contoh kasus dalam konteks budaya. Misalnya keyakinan masyarakat terhadap nilai kesakralan keris harus didasarkan pada asas saintifik. Sebagai warisan budaya telah diakui dunia, perlu ada pemahaman yang konfrehensif dalam upaya konservasi keris dalam akal budi masyarakat kita. 

Masyarakat awam perlu diangkat dan diajak ke dalam dunia ilmiah. Bukankah telah banyak bukti sakral ilmiah yang telah dibuktikan kebenarannya dari pada sekedar prosesi ritual dengan aura magisnya?

Kemampuan keris awet dan bertahan selama ratusan tahun adalah bukti kecanggihan keterampilan pengrajin besi di masa silam. Terbukti secara ilmiah bahwa lapisan-lapisan logam penyusun struktur pada keris lebih stabil dari pengaruh cahaya dan radiasi UV sehingga mampu bertahan dari pengkaratan. 

Bahkan bila dibandingkan dengan senjata tradisional di budaya lain; misal samurai dari Jepang, keris memiliki daya tahan dan kelenturan paling tinggi. Bahkan seni racikan logam tingkat tinggi pandai besi nenek moyang kita telah dimanfaatkan oleh pihak militer Rusia. 

Campuran besi pada keris yang anti radiasi dimanfaatkan untuk menyembunyikan senjata nuklir dari deteksi satelit musuh. Dengan penemuan dan penjelasan secara ilmiah tersebut, diharapkan motif pensakralan warisan luhur ini tidak hanya didasarkan pada mitos-mitos yang sulit ditemukan kebenarannya. 

Karena cara gaya non ilmiah inilah yang akan menyebarkan  virus dromologi kebohongan. Seperti yang telah disebutkan diatas, hoax yang tak terkendali mengendalikan belief system masyarakat. 

Apalagi sampai dimanfaatkan oleh oknum tertentu demi keuntungan pribadi. Mereka menyebarkan dromologi kebohongan demi popularitas, uang dan jabatan. 

Bukankah nilai luhur kesakralan dari warisan budaya itu tidak seharusnya menyebabkan berbagai kasus penipuan dan asusila di masyarakat? Akibat dari dromologi inilah yang justru dikhawatirkan menyebabkan hilangnya kesakralan dari keris itu sendiri di tengah kemajuan teknologi ini.

Demikianlah ada adu kecepatan antara dromologi saintifik melawan fenomena dromologi kebohongan. Pengenalan fakta ilmiah seperti ini perlu dilakukan secara masif; digalakkan dalam oleh civitas akademik; untuk contoh kasus keris di atas bisa dimulai oleh akademisi Islam ataupun Budayawan. 

Ketika proposal penelitian ilmiah telah mendapat dukungan moril dan materiil dari berbagai pihak, maka berbagai Karya ilmiah sejenis Jurnal yang telah kita  terbitkan dan terindeks di platform terakreditasi nasional maupun internasional itu  tentu jangan hanya menjadi bentuk beban kerja kepentingan kepangkatan dan sertifikasi dan akreditasi kampus atau beserta  hiasan kepakaran saja. 

Hasil kesimpulannya juga jangan hanya tersebar di seminarkan dan webinar semacam dalam ruang formil saja, namun juga perlu dibawa ke ranah awam  dalam bentuk konten yang menarik di medsos. Tentu kerja ilmiah ini adalah kerja komunitas, segala upaya gotong royong antara peneliti, dosen dan mahasiswa dalam sebuah program kampus.

Tentu strategi dromologi saintifik ini ujungnya adalah hadirnya influencer ilmiah yang sukses tidak hanya di dunia kampus namun mampu berkiprah di dunia maya. Para dosen muda sangat besar berpeluang membantu pemerintah mendesain algoritma di internet yang bisa dijadikan proposal pembentukan kebijakan; dengan alasan untuk mencegah pembodohan, perpecahan, dan disintegrasi sosial. 

Untuk menunjang Tri Dharma pendidikan ini, tentu perlu sistem yang apik dari hulu ke hilir, langkah vaksinasi dengan dromologi saintifik ini bisa dimulai dari kampus. Lalu siapa pun bisa membangun generasi muda yang moderat anti hoax. Bukankah  Kita bersama sudah seharusnya sepakat bahwa dalam rangka memenuhi hajatan inilah program merdeka belajar ini diluncurkan? Yaitu memerdekakan masyarakat dari dromologi kebohongan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال