Rahasia Kesempurnaan Ibadah Haji Dalam Dialog Imam Ali Zainal Abidin Dengan Imam Asy-Syibliy

Mekkah Abad ke 11

Rahasia Kesempurnaan Ibadah Haji Dalam Dialog Imam Ali Zainal Abidin Dengan Imam Asy-Syibliy

KULIAHALISLAM.COM - Sebagai seorang Imam dan ulama besar yang mendalami ilmu Tasawuf dan hidup zuhud, Imam ‘Ali Zainal-Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib semoga Allah meridainya, menilai ibadah tidak hanya dari lahiriah saja, tetapi tekanan utamanya diarahkan kepada kebulatan batin orang yang menunaikannya. 

Ia mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa kesempurnaan ibadah hanya dapat dicapai bila dilakukan dengan tiga unsur yang tidak boleh dipisahkan yaitu unsur batin (qalbiy), unsur ucapan (qaulty) dan unsur perbuatan (fi’liy).

Pandangannya yang sangat cermat dan mendalam itu dapat kita ketahui dari dialog dengan salah satu muridnya yang bernama Imam Asy-Syibliy. Imam Asy-Syibliy dalam Dunia Islam terkenal sebagai Ulama besar Sufi dan terkenal pula sebagai Waliyullah. 

Imam ‘Ali Zainal Abidin dalam dialog dengan muridnya yang telah mencapai martabat ilmu tinggi itu mengungkapkan kesempurnaan ibadah haji dari segi hakikat pengertian dan hikmahnya, tidak semata-mata dari syarat dan rukunnya belaka, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh kaum awam.

Kiranya sangat besar manfaatnya bila nasihat Imam Ali Zainal Abidin kepada Imam Asy-Syibliy direnungkan dan diamalkan oleh setiap muslim pada waktu menunaikan ibadah haji. Imam Asy-Syibliy mendatangi gurunya dan terjadilah pertemuan serta dialog sebagai berikut, Imam Ali Zainal Abidin akan kami singkat menjadi (Z) dan Imam Asy-Syibliy akan akami singkat menjadi (S):

Z : Anda telah menunaikan ibadah haji bukan ?

S : Ya, benar, semoga Allah berkenan menerimanya.

Z : Apakah anda telah berwuquf (berhenti) di Miqat kemudian menanggalkan pakaian berjahit dan terlarang bagi setiap orang yang menunaikan ibadah haji ? Dan setelah itu apakah anda segera mandi ?

S : Ya, semua itu telah saya lakukan.

Z : Ketika Wuquf di Miqat, apakah anda meneguhkan niat Wuquf dan niat menanggalkan pakaian maksiat dan menggantinya dengan pakaian taat ?

S : Tidak.

Z : Pada saat anda meninggalkan pakaian yang berjahit itu, apakah anda telah membuang perasaan riya’ (pamrih pujian orang), nifaq (kelainan antara hati, ucapan dan perbuatan) serta segala mcam syubhat (hal yang diragukan halal dan haramnya) ?

S : Tidak.

Z : Ketika anda mandi dan membersihkan diri sebelum Ihram, apakah anda juga berniat membersihkan diri dari semua perbuatan dosa ?

S : Tidak.

Z : Kalau begitu, anda tidak berhenti di Miqat, tidak meninggalkan pakaian berjahit dan tidak pula mandi membersihkan diri. Imam ‘Ali Zainal Abidin bertanya lebih lanjut :

Z : Ketika anda mandi, berihram dan menunaikan ibadah haji, apakah anda telah membulatkan niat dan tekad hendak membersihkan diri anda dan mencucinya dengan pancaran sinar tobat yang setulus-tulusnya kepada Allah ?

S : Tidak.

Z : Pada saat berihram, apakah anda berniat menjauhkan diri dari segala yang diharamkan Allah?

S : Tidak.

Z : Setelah anda dalam keadaan sedang menunaikan ibadah haji, termasuk semua ketentuan yang mengikat diri anda, apakah anda merasa telah melepaskan diri dari semua jenis ikatan keduniaan dan hanya mengingatkan diri kepada Allah ?

S : Tidak.

Z : Kalau begitu anda belum membersihkan diri, belum berihram dan belum mengingatkan diri dari ibadah Haji. Bukankah anda telah memasuki Miqat, telah menunaikan salat Ihram dua rakaat kemudian mulai mengucapkan Talbiyah ?

S : Semua itu telah saya kerjakan.

Z : Pada saat memasuki Miqat, apakah anda berniat ziarah mendekati keridaan Allah semata ?

S : Tidak.

Z : Pada saat menunaikan salat ihram dua rakaat, apakah anda berniat Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan  tekad memperbanyak amal ibadah yang tertinggi nilainya yaitu salat yakni memperbanyak salat Sunnah ?

S : Tidak.

Z : Apakah anda telah memasuki Masjidil Haram, dan memandang Ka’bah, serta salat di sana ?

S : Ya benar.

Z : Ketika memasuki Masjidil Haram, adakah anda berniat mengharamkan atas din anda, segala macam pergunjingan terhadap diri kaum muslimin ?

S : Tidak.

Z: Dan ketika sampai di kota Makkah, adakah anda mengukuhkan niat untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan ?

S: Tidak.

Z :  Kalau begitu, anda tidak memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Ka’bah, dan tidak pun bersalat di sana !

 Z: Apakah anda telah bertawaf mengeliling Ka’bah. Baitullah, dan telah menyentuh rukun-rukunnya?

S : Ya.

Z : Pada saat bertawaf, adakah anda berniat berjalan dan berlari menuju keridhaan Allah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan tersembunyi ?

S :Tidak.

Z : Kalau begitu anda tidak bertawaf mengelilingi Baitullah, dan tidak menyentuh rukun-rukunnya. Dan apakah anda telah berjabatan (bersalam tangan) dengan Hajar Aswad, dan berdiri – bersalat di tempat Makam Ibrahim ?

S : Ya.

Z : Mendengar jawaban itu, Ali Zainal Abidin tiba-tiba berteriak, menangis dan meratap, dengan suara merawankan hati seperti hendak meninggalkan hidup ini, seraya berucap: “Oh.. Barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seakan-akan ia berjabatan tangan dengan Allah ! Oleh karena itu, ingatlah baik-baik, wahai insan yang merana dan sengsara, janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang menyebabkan engkau kehilangan kemuliaan agung yang telah kau capai, dan membatalkan kehormatan itu dengan pembangkanganmu terhadap Allah dan mengerjakan yang diharamkanNya, sebagaimana dilakukan oleh mereka yang bergelimang dalam dosa-dosa !

Z : Kemudian beliau berkata lagi: Ketika berdiri di makam Ibrahim, adakah anda mengukuhkan niat untuk tetap berdiri di atas jalan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan jauh-jauh segala maksiat ?

S : Tidak.

Z : Dan ketika salat dua rakaat di makam Ibrahim adakah anda berniat mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS dalam salat beliau, serta menentang segala bisikan setan?

S : Tidak.

Z : Kalau begitu anda tidak berjabat tangan dengan Hajar Aswad, tidak berdiri di makam Ibrahim, dan tidak pula salat dua rakaat di dalamnya. Dan beliau melanjutkan lagi: Apakah anda telah mendatangi dan memandangi telaga Zamzam dan minum airnya ?

S : Ya.

Z : Apakah anda, pada saat memandangnya berniat menujukan pandangan anda kepada semua bentuk kepatuhan kepada Allah, serta memejamkan mata terhadap setiap maksiat kepada-Nya?

S : Tidak.

Z : Kalau begitu anda tidak memandanginya dan tidak pula minum airnya ! Selanjutnya beliau bertanya lagi:  Apakah anda telah mengerjakan Sa’i antara Shafa dan Marwah, dan berjalan pulang pergi antara kedua bukit itu?

S : Ya benar.

Z : Dan pada saat-saat itu, anda menempatkan diri anda di antara harapan akan rahmat Allah dan ketakutan menghadapi azab-Nya?

S :  Tidak.

Z : Kalau begitu  anda tidak mengerjakan Sa’i dan tidak berjalan pulang-pergi antara keduanya! Lalu beliau bertanya: Anda telah pergi ke Mina ?

S : Ya.

Z : Ketika itu, adakah anda menguatkan niat akan berusaha sungguh-sungguh agar semua orang selalu merasa aman dari gangguan lidah, hati, serta tangan anda sendiri ?

S : Tidak .

Z : Kalau begitu, anda belum pergi ke Mina! Dan apkah anda telah berwuquf di Arafat ? Mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta menghadapkan doa-doa kepada Allah swt. di bukit-bukit as-Shakharaa  ?

S :  Ya benar.

Z : Ketika berdiri  wuquf di Arafat, adakah anda dalam kesempatan itu, benar-benar menghayati ma’rifat akan kebesaran Allah serta mendalami pengetahuan tentang hakikat ilmu yang akan menghantarkanmu kepadaNya? Dan apakah ketika itu anda menyadari benar-benar betapa Allah Yang Maha Mengetahui meliputi segala perbuatan, perasaan, serta kata-kata hati sanubari anda ?

S : Tidak.

Z : Danketika mendaki Jabal Rahmah, adakah anda sepenuhnya mendambakan rahmah Allah bagi setiap orang mukmin, serta mengharapkan bimbinganNya atas setiap orang muslim?

S : Tidak.

Z : Dan ketika berada di Wadi Namirah, adakah anda berketetapan hati untuk tidak mengamarkan (memerintahkan) sesuatu yang ma’ruf, sebelum anda mengamarkannya pada diri anda sendiri? Dan tidak melarang seseorang melakukan sesuatu, sebelum anda melarang diri sendiri ?

S : Tidak.

Z : Dan ketika berdiri di bukit-bukit di sana, adakah anda menyadarkan diri bahwa tempat itu menjadi saksi atas segala kepatuhan pada Allah, dan mencatatnya bersama-sama para Malaikat pencatat, atas perintah Allah ?

S :  Tidak.

Z : Kalau begitu  anda tidak berwuquf di Arafat, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, dan tak pula berdoa di tempat-tempat itu ! Dan Imam Ali Zainal Abidin bertanya lagi: Apakah anda telah melewati kedua bukit al-Alamain, dan mengerjakan dua rakaat shalat sebelumnya, dan setelah itu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah; memungut batu-batu di sana, kemudian melewati Masidil’Haram. . . ?

S :  Ya.

Z : Dan ketika shalat dua rakaat, adakah anda meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang tanggal sepuluh Dzul-Hijjah, dengan mengharapkan tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan?

S : Tidak.

Z : Dan ketika lewat di antara kedua bukit itu dengan sikap lurus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, adakah anda saat itu meneguhkan niat untuk tidak bergeser (menyeleweng) dari Agama Islam, agama yang haq, baik ke arah kanan atau pun kiri ,tidak dengan hatimu, tidak pula dengan lidahmu, atau pun dengan semua gerak-gerik anggota tubuhmu yang lain?

S :  Tidak.

Z : Dan ketika menuju Muzdalifah, dan memungut batu-batu di sana, adakah anda berniat membuang jauh-jauh dari dirimu segala macam maksiat dan kejahilan terhadap Allah, dan sekaligus menguatkan hatimu untuk tetap mengejar ilmu dan amal yang diridhai Allah ?

S :  Tidak.

Z :Dan ketika melewati al-Masidil Haram, adakah anda mengisyaratkan kepada diri anda sendiri, agar bersyi’ar seperti orang-orang yang penuh takwa dan takut kepada Allah Azza wa Jalla ?

S : Tidak.

Z : Kalau begitu anda tidak melewati ‘Alamin, tidak shalat dua rakaat, tidak berjalan ke Muzdalifah, tidak memungut batu-batu di sana, dan tidak pula lewat di Masidil Haram !Dan beliau melanjutkan: Wahai Syibli, apakah anda telah mencapai Mina, melempar Jumrah, mencukur rambut, menyembelih kurban, bershalat di masjid Khaif, kemudian kembali ke Makkah dan mengerjakan tawaf Ifadhah (Ifadhah adalah berangkat dan betemu kembali dari sesuatu tempat ke tempat lainnya. Yang dimaksudkan di sini ialah thawaf yang dikerjakan setelah berangkat pulang dari ‘Arafat) ?

S :  Ya benar.

Z : Ketika sampai di Mina, dan melempar Jumrah, adakah anda berketetapan hati bahwa anda kini telah sampai ke tujuan, dan bahwa Tuhanmu telah memenuhi untukmu segala hajatmu ?

S : Tidak.

Z :  Dan pada saat melempar Jumrah, adakah anda meniatkan dalam hati, bahwa dengan itu anda melempar musuh yang ramai, yaitu Iblis, serta memeranginya dengan disempurnakannya ibadah hajimu yang amat mulia itu?

S : Tidak.

Z : Dan pada saat mencukur rambut, adakah anda berketetapan hati bahwa dengan itu anda telah mencukur dari dirimu segala kenistaan dan bahwa anda telah keluar dari segala dosa-dosa seperti ketika baru lahir dari perut ibumu  ?

S :  Tidak.

Z : Dan ketika shalat di masjid Khaif, adakah anda berniat untuk tidak memiliki perasaan khauf (takut) kecuali kepada Allah serta dosa-dosamu sendiri? Dan bahwa anda tiada mengharapkan sesuatu kecuali rahmat Allah ?

S : Tidak.

Z : Dan pada saat memotong hewan kurban, adakah anda berniat memotong urat ketamakan dan kerakusan, dan berpegang pada sifat wara’ yang sesungguhnya? Dan bahwa anda mengikuti jejak Nabi Ibrahim alaihisalam yang rela memotong leher putra kecintaannya, buah-hatinya dan penyegar jiwanya agar menjadi teladan bagi manusia sesudahnya, semata-mata demi mengikuti perintah Allah ?

S : Tidak.

Z : Dan ketika kembali ke Makkah, dan mengerjakan tawaf Ifadhah, adakah anda meniatkan berifadhah dari pusat rahmat Allah, kembali kepada kepatuhan terhadapNya, berpegang teguh pada kecintaan kepadaNya, menunaikan segala perintahNya, serta bertaqarrub selalu kepadaNya ?

S : Tidak.

Z : Kalau begitu, anda tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak mencukur rambut, tidak menyembelih kurban, tidak mengerjakan manasik, tidak bershalat di masjid Khaif, tidak bertawaf  thawaful-Ifadhah, dan tidak pula mendekat kepada Tuhanmu ! Kembalilah-kembalilah , sebab anda sesungguhnya belum menunaikan Haji anda!

Mendengar keputusan gurunya itu, Imam Asy-Syibliy menangis tersedu-sedu menyesali kekuarangan yang telah dilakukannya dalam menunaikan ibadah Haji. Ia bertekad hendak mengulang kembali ibadah Hajinya btahun mendatang dan untuk kesempurnannya ia hendak menggali sedalam-dalamnya hakikat ibadah tersebut serta hikmah-hikmahnya.

Dari rincian dialog mengenai makna dan hakikat ibadah Haji tersebut di atas, kita dapat memperoleh gambaran singkat, bahwa Imam ‘Ali Zainal Abidin adalah seorang Ulama besar, wara’ (hidup Zuhud) dan ahli tasawuf. Pada zaman hidupnya (38-95 Hijriah) di kalangan kaum Tabiin, ia dikena, sebagai salah satu di antara sembilan Ulama Fiqih terkemuka di Madinah.

Sumber : H.M.H Al-Hamid al-Husaini dalam karyanya “ Rumah Tangga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”.

 

Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال