Belajar Mengenal Allah SWT Kepada Bikkers Subuh Sukoharjo

Dokumentasi bersama bikkers subuh Sukoharjo


Belajar Mengenal Allah SWT Kepada Bikkers Subuh Sukoharjo

KULIAHALISLAM.COM - Fenomena hijrah pada zaman ini sangat familiar lantaran berbondong-bondong melakukan edukasi dakwah di tengah rusaknya budaya masyarakat. Akibatnya, banyak yang kemudian mengunakan kesempatan hijrah sebagai pelarian khusus untuk menjadi lebih baik. 

Termasuk dari sasaran dakwahnya adalah masyarakat yang kurang begitu dekat dengan pemahaman agama. Sebagian besarnya memilih memisahkan agama dengan kehidupannya, karena merasa tidak pantas. Ada juga yang mencari cara menghilangkan dampak pengajaran dakwah tetapi lebih condong tidak membawa-bawa agama. 

Namun ada juga masyarakat yang konsisten berdakwah doktrinisasi hijrah sesuai visi dan tujuannya. Serta masih banyak lagi dampak perubahan hijrah pada zaman ini. Sampai-sampai di perumahan saya sekelompok komunitas semacam hijrah-hijrah mengendarai sepeda motor parkir di Masjid Nurul Huda, Perumahan Korpri, blok I, kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. 

Yang menjadi daya tarik tersendiri yakni muncul di awal subuhan. Di mana masyarakat terlelap tidur nyenyak enaknya nempel di Kasur. Mereka ini mempunyai nama komunitas Bikkers Subuh Sukoharjo. Melayaninya dengan cara : adzan, dan kultum sembari menikmati kopi hasil racikan mereka. 

Acara tersebut baru pertama kali dari sekian aliran hijrah di seluruh pelosok daerah yang memilih daerah saya sebagai jalan dakwahnya. Imam Subuhnya pun juga di imami salah satu tokoh komunitas mereka. Semua terususun rapi ala anak muda masa kini. 

Sisi lain, Agus selaku ketua Takmir juga menyampaikan “kami sangat terbuka lebar bagi siapa pun yang ingin dakwah di masjid ini, sekaligus sebagai motivasi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar kita bisa menghidupi masjid bersama-sama“ Minggu (03/07/22). 

Tidak hanya itu saja, Ustaz Rayhan Jantra juga menambahkan “kita disini juga ingin para jama’ah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan adanya seperti komunitas-komunitas hijrah lainnya, dan bisa mencontohkan sosok Mahmud Al-Fatah sebagai pedoman kita semua“ Minggu (03/07/22). 

Lalu ditegaskan kembali oleh perwakilan Komunitas Bikker dengan mengatakan “Selain dua pemaparan beliau-beliau tersebut, Komunitas Bikkers ini juga sudah tersebar di pelosok negeri. Akan tetapi lahirnya tidak di Sukoharjo, melainkan di Lampung."

Lebih lanjut "Kini semua sudah tersebar, di Klaten juga ada, dimana pun pasti ada. Tujuan kami adalah menghidupkan Subuh seperti apa yang dilakukan Mahmud Al-Fatih. Jadi ikut-ikutan motor itu membuka stigma buruk kepada masyarakat bahwa kita tak begitu buruk, kita benar-benar kerahkan kepada Allah SWT saja“.

Mendengar kajian tersebut ada beberapa catatan saya yang mungkin perlu diimplikasi kepada masyarakat awam. Pertama melalui pendekatan dakwah anak muda berupa motor. Mereka juga sangat peka ketika ada motor yang rusak. Sehingga kecintaannya terhadap motor sekaligus bisa memanusiakan manusia atau Hablum Minannas melalui prinsip Keislaman. 

Kedua dakwah mereka mengincar di waktu subuh. Kita bisa lihat kejadian hjrah pada umumnya, kebanyakan tidak fokus pada jenjang amaliahnya yang bersifat universal (umum). Hadirnya Bikkers Sukoharjo ini juga mengingatkan kita pentingnya salat subuh sering dilupakan anak-anak muda. 

Ketiga adalah mencintai Allah SWT dengan cara mereka. Allah SWT tidak memandang siapa saja, kecuali orang-orang yang mau dekat kepadannya. Tidak memandang pakaiannya yang ke’alim-aliman, justru kebersihan hati paling dalam. 

Ketiga prinsip catatan saya juga mengingatkan kita senantiasa untuk tetap melaksanakan edukasi dakwah dengan gambaran pendekatan kajian milenial. Bisa jadi hadirnya Bikkers membuat masyarakat sadar atas dosa-dosanya yang terlalu besar kepada siapa saja. 

Kita bisa tidak setuju stigma tiga prinsip Bikkers Sukoharjo, perlu saya tekankan kembali, perbedaan bukan menjadi permasalahan semua umat Islam. Perbedaan adalah cabang keindahan ketidaksempurnaan untuk saling mengenal satu sama lain. Dan cara kita lebih menghargai dan menghormati kepada perbedaan tersebut. 

Itulah pentingya mengenal Islam dengan jangkauan luas dalam ranah perbedaan. Semakin kita bisa menghargai perbedaan, maka semakin pula keimanan kepada Allah SWT sangat kuat. Karena pada dasarnya, menghargai juga salah satu perilaku Nabi Muhammad SAW ketika mendapat ancaman serius kaum kafir Quraisy. 

Beliau hanya berharap berdoa kebaikan supaya orang-orang zalim mendapat hidayah kepada Allah SWT. Tidak perlu membanding-bandingkan budaya Islam lainya, cukup memberikan ruang perbedaan Islam kepada masyarakat bahwa Islam adalah Rahmatallil’alamin.

Ahmad Zuhdy Alkhariri

Mahasiswa universitas Raden Mas Said Surakarta. Pernah suatu di UKM LPM Dinamika. Pegiat kajian sosial, politik dan keagamaan. Saat ini tinggal di Sukoharjo

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال