Dinasti Ottoman Turki dari Berdirinya, Kejayaannya Hingga Keruntuhan


Foto : IST

Dinasti Ottoman Turki dari Berdirinya, Kejayaannya Hingga Keruntuhan 

KULIAHALISLAM.COM - Kerajaan Islam yang berpusat di Turki dan merupakan salah satu diantara tiga kerajaan Islam yang besar pada abad pertengahan, selain kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India. Dalam sejarah Islam, periode itu disebut juga masa tiga kerajaan besar. Kerajaan Ottoman didirikan oleh Usman putra Artogrol.

Artogrol adalah kepala suku Kayi di Asia kecil yang datang ke Turki dan mendapat kepercayaan dari penguasa salah jika, Alauddin Kayi kobad untuk menjadi Panglima perangnya. Jabatan itu kemudian beralih kepada Utsman setelah ia wafat.

Sepeninggal Sultan Alauddin Kaiqobad pada tahun 1300, Usman mengambil alih kekuasaan dan sejak itu berdirilah kerajaan Ottoman yang berlangsung selama kurang lebih 7 Abad sejak berdiri sampai runtuhnya, kerajaan Ottoman dipimpin oleh 36 Sultan.

Usman sebagai sultan pertama lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada usaha-usaha untuk memantapkan kekuasaannya dan melindungi wilayahnya dari segala macam serangan khususnya dari Bizantium yang memang mengancam hendak menyerang. Kemudian Orkhan, Putra Usman membentuk pasukan tangguh yang disebut dengan Inkisyariah (Janissary) atau  untuk membentengi kekuasaannya.

Pada masa Orkhan dimulai upaya perluasan wilayah pasukan Inkasaria atau janin saya dapat menaklukkan Broissa (Turki) , Izmir (Asia kecil)  dan Ankara.

Ekspansi yang lebih besar terjadi pada masa Murad I. Di masa ini berhasil ditaklukan Balkan, Andrianopel (sekarang Edirne, Turki), Mecedonia, Sofia (Bulgaria) dan Yunani. Melihat kemenangan yang diraih Murat I, kerajaan-kerajaan Kristen di Balkan dan Eropa Timur menjadi murka.

Mereka lalu menyusun kekuatan yang terdiri atas Bulgaria, Serbia, Romania Hongaria dan Walacia untuk melawan kerajaan Ottoman. 

Ekspansi berikutnya dilanjutkan oleh putranya, Bayazid I. Pada tahun 1391 pasukan Bayazid I dapat merebut benteng Filadelphia dan Gramania atau Kirman atau Iran. Dengan demikian kerajaan Ottoman secara bertahap tumbuh menjadi suatu kerajaan besar.

Kesuksesan Bayazid I kembali menimbulkan kegelisahan di daratan Eropa yang mengakibatkan Paus menyeru umat Kristen Eropa supaya mengangkat senjata.

Dengan dipimpin oleh Raja Hongaria yaitu Sijisimod, mereka bergabung dengan tentara Prancis dan Jerman. Maka terjadilah pertempuran di Nicoposlis 25 September 1936.

Kerajaan Ottoman berhasil memenangkan peperangan tersebut, sedangkan Eropa menerima kekalahan yang terparah.

Pada tahun 1402, kerajaan Ottoman di bawah pemerintahan Bayazid I di gempur oleh pasukan Timur Lenk yang jumlahnya tidak kurang dari 800.000 orang, jumlah pasukan Bayazid I hanya 120.000 orang.

Dalam pertempuran itu Bayazid I tewas, berikut sejumlah besar pasukannya. Akibatnya kekalahan itu, wilayah Ottoman hampir seluruhnya jatuh ke tangan Timur Lenk.

Disamping itu, kekalahan tersebut menyebabkan terjadinya perpecahan di antara putra-putra Bayazid I:  Muhammad I atau Muhammad celebi, Isa, Sulaiman dan Musa.

Pada masa berikutnya Muhammad I berhasil membangun kekuatan, sehingga dapat menundukkan saudara-saudaranya.

Usahanya diarahkan pada konsolidasi pemerintahan dan mengembalikan kekuasaan yang hilang selama pendudukan Timur Lenk.

Pada tahun 1421 Muhammad Celebi meninggal dunia dan digantikan oleh Sultan Murad II Kerajaan Ottoman bangkit kembali pada masa pemerintahan Murad II.

Di masanya ekspansi kembali dilanjutkan ia dapat menunjukkan wilayah Venesia, Salonika, dan Hongaria.

Usaha Murad II diteruskan oleh putranya, Muhammad II. Ia dikenal dengan gelar Al Fatih sang penakluk karena pada masanya berlangsung ekspansi kekuasaan Islam secara besar-besaran.

Kota penting yang berhasil ditaklukan pada masanya adalah Konstantinopel pada tahun 1453, dengan demikian sempurnalah penaklukan Islam atas kerajaan Romawi Timur yang dimulai sejak zaman Khalifah Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu.

Konstantinopel dijadikan ibukota kerajaan dan namanya diubah menjadi Istambul yang dalam artinya adalah Tahta Islam.

Kejatuhan Konstantinopel memudahkan tentara Dinasti Ottoman menaklukkan wilayah lainnya, seperti Serbia, Albania dan Hongaria.

Ada tiga hal penting yang dapat diambil dari kejatuhan Konstantinopel  : (1). Titik bagi umat Islam, terpenuhinya tugas historis dalam pengembangan wilayah Islam ke Persia dan Romawi Timur, (2). Berakhirnya abad pertengahan yang gelap dan mulainya zaman kesadaran bagi bangsa Eropa selain masuknya ilmu pengetahuan, kekalahan tersebut membangunkan bangsa Eropa dari tidur yang panjang untuk mengejar ketertinggalan selama ini, yang pada akhirnya melahirkan pola pikir yang maju.

Mereka melepaskan diri dari lingkungan Gereja dan muncullah supremasi Barat dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan, (3). Dengan dikuasainya Konstantinopel oleh Islam, yang selama ini merupakan gerbang Eropa dan jalur perdagangan Timur dan barat, nasib Barat tergantung sepenuhnya pada Kerajaan Ottoman.

Seusai penaklukan Konstantinopel yang bersejarah Itu, Sultan Muhammad Al Fatih kembali ke kota Andrianopel, ibukota kerajaan Ottoman sebelum Konstantinopel ditaklukan, dan kemudian memerintahkan untuk membangun kembali kota Konstantinopel yang kacau akibat gempuran tentara Islam.

Hagia Sofiya di Istanbul

Meskipun kota ini telah ditaklukan, Sultan Muhammad Al Fatih tetap memberi kebebasan beragama kepada penduduknya sebagaimana yang dilakukan pada masa penguasa Islam sebelumnya apabila mereka menduduki suatu wilayah.

Bahkan, dalam tulisan Voltaire Filsuf Prancis disebutkan bahwa Sultan Muhammad Al Fatih membiarkan penganut agama Kristen menentukan sendiri ketuanya atau pemimpinnya.

Setelah itu, ketua yang terpilih dilantik oleh Sultan Muhammad Al Fatih. Puncak kejayaan kerajaan Ottoman dicapai pada pemerintahan Sultan Sulaiman I.

Ia digelari Al-Qanuni (Pembuat undang-undang) karena keberhasilannya membuat undang-undang yang mengatur masyarakat.

Selain itu Sultan Sulaiman I juga bergelar Sultan Sulaiman yang agung. Pada masanya, wilayah Dinasti Ottoman meliputi Aljazair, Asia kecil, Balkan, Bulgaria, Bosnia, Yunani, Hongaria, Romania, dan tiga laut, yaitu Laut Merah, Laut Tengah dan Laut Hitam.

Lambang Dinasti Ottoman

Karena keluasan wilayahnya ke Dinasti Ottoman menjadi adidaya saat itu. Ada lima faktor yang menyebabkan kesuksesan ke Dinasti Ottoman dalam perluasan wilayah Islam.

Pertama, titik kemampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh Ghanimah (harta lampasan perang).

Kedua, Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga mudah digerakan untuk tujuan penyerangan.

Ilustrasi Pasukan elit Ottoman Turki

Ketiga, titik semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam. Keempat, titik letak Istanbul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayahnya ke Eropa dan Asia.

Istanbul terletak di antara dua benua dan dua laut, dan pernah menjadi pusat kebudayaan dunia, baik kebudayaan Macedonia, kebudayaan Yunani maupun kebudayaan Romawi Timur.

Kelima, Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Ottoman mengalahkannya.

Keruntuhan Dinasti Ottoman

Dinasti Ottoman mulai melemah setelah wafatnya Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Sultan-sultan yang menggantikannya umumnya lemah dan tidak berwibawa.

Penyebab lainnya adalah kehidupan mewah dan berlebih-lebihan di kalangan bangsawan istana sehingga banyak terjadi penyimpangan dalam keuangan negara pada saat situasi dalam negeri semakin memburuk negara-negara Eropa melancarkan serangan ke wilayah-wilayah yang dikuasai Dinasti Ottoman.

Misalnya, pada masa Sultan Salim II, Dinasti Ottoman menderita kekalahan dari tentara sekutu Kristen Eropa dalam Perang Liponto.

Lalu ketika pemerintahan dipegang oleh Sultan Ahmad I, pasukan Austria melakukan penyerangan yang berlangsung selama 15 tahun.

Akhirnya, Austria dapat mengalahkan Dinasti Ottoman. Kekalahan ini memberi pukulan hebat bagi Dinasti Ottoman dan membuat cahaya kejayaan Turki semakin memudar di mata bangsa-bangsa Eropa.

Akibatnya, upeti yang biasa dikirimkan oleh wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan dinasti di Eropa tidak lagi diberikan.

Hal ini mengakibatkan perekonomian dinasti otomatis semakin melemah. Pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1640 - 1648 M) suasana dalam Dinasti Ottoman menjadi semakin kacau.

Para wanita atau Ibu Suri dan permaisuri intervensi dalam mengendalikan roda pemerintahan. Sultan Ibrahim seorang sultan yang sangat lemah sehingga ia hanya dijadikan boneka oleh wazirnya (Perdana Menteri) yang bernama Mustafa.

Pada hakikatnya Mustafalah yang memegang tampuk kekuasaan. Akan tetapi, kepemimpinan Mustafa tidak mampu menentramkan suasana bahkan mengundang banyak permusuhan di kalangan petinggi istana Dinasti Ottoman.

Permaisuri Ibrahim yang berkomplot dengan pejabat dan  keluarganya mampu menggulingkan Mustafa.

Kerusuhanpun timbul di mana-mana. Kelompok Janisari (pasukan elit kerajaan) mengambil alih kekuasaan dan menurunkan Sultan Ibrahim.

Sebagai gantinya diangkat Muhammad IV yang ketika itu baru saja berusia 7 tahun. Untuk memulihkan keamanan dalam negeri, Ibu Sultan Muhammad IV mengangkat Koprulu, seorang panglima Turki Yang berpengalaman, menjadi perdana menteri.

Koprulu tidak hanya berhasil mengurus masalah dalam negeri dengan baik, tetapi juga dapat merebut kembali Pulau Lemnos dan Pulau Tenedos dari Venesia.

Wilayah Turki yang begitu luas justru menjadi beban bagi pemerintahan Ottoman karena tidak seluruh wilayah dapat dikontrol dengan baik.

Selain itu penduduk dari wilayah yang luas itu pun terdiri dari bermacam-macam bangsa yang mempunyai adat istiadatnya masing-masing.

Di antara bangsa-bangsa yang berbeda itu sering terjadi konflik terutama antara bangsa Arab dan bangsa Turki. Masing-masing menganggap dan derajatnya lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang lainnya.

Hal seperti itu merupakan salah satu faktor yang melemahkan kekuasaan Dinasti Ottoman, yang pada akhirnya membuat Ottoman mengalami kekalahan dalam peperangan melawan bangsa Eropa.

Perjanjian Dinasti Ottoman

Selain kalah perang Ottoman juga terpaksa menandatangani perjanjian yang isinya justru memojokan pihak Dinasti Ottoman. Diantara perjanjian itu adalah sebagai berikut :

Pertama, Perjanjian Karlowitz yang terjadi pada tahun 1699 di masa pemerintahan Sultan Mustafa II. Isi penting dari perjanjian itu adalah pihak Ottoman  menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Kroasia kepada Habsburg (nama dinasti-dinasti Raja Eropa serta daerah-daerah Dalmatia kepada Venesia).

Kedua, Perjanjian Pasaarowitz yang ditandatangani tahun 1718, antara Sultan Ahmad III dan Austria dengan Venesia yang isinya adalah Dinasti Ottoman menyerahkan Semua daerah yang dikuasai Australia, sementara Ottoman hanya dibenarkan menduduki pulau-pulau yang direbut dari Venesia.

Ketiga, perjanjian Kainarji, pada tahun 1774, antara Sultan Abdul Hamid I dan Rusia. Perjanjian ini menyebutkan bahwa Rusia berhak atas daerah Azov (laut dangkat  yag merupakan bagian dari Laut Hitam), kemerdekaan Tatar diakui dan kapal-kapal Rusia diizinkan melintasi Laut Hitam.

Keempat, perjanjian Sistova pada tahun 1791 antara Kerajaan Ottoman yang saat itu dipimpin Sultan Salim III dan Austria yang isinya antara lain mengembalikan batas kedua kerajaan itu kepada keadaan sebelum perang tahun 1787.

Kelima, perjanjian Jassy pada tahun 1792 antara Sultan Salim IIII dan Rusia yang isinya adalah Ottoman menyerahkan ke dunia kota dekat Laut Hitam kepada Rusia.

Keadaan Akhir Dinasti Ottoman

Keadaan ini semakin parah takala Napoleon, Jenderal dan Kaisar Prancis menguasai Mesir pada tahun 1798. Sejak itu, Dinasti Ottoman dijuluki the Scik man of Europe) (orang sakit dari Eropa) karena kondisi pemerintahannya yang semakin melemah. 

Dulu penguasa Ottoman dapat mengalahkan bangsa-bangsa Eropa, tetapi kini mereka membiarkan wilayahnya yang dirampas oleh bangsa Eropa.

Prancis mengambil Aljazair pada tahun 1830 dan Tunisia pada tahun 1881. Italia menduduki wilayah Dinasti Ottoman di Afrika Utara pada tahun 1911. Inggris menguasai Mesir pada tahun 1882 dan Irak pada tahun 1917. Kesempatan ini juga digunakan oleh wilayah lainnya untuk melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti Ottoman misalnya Rumania, Yunani, Bulgaria, sippus, Albania dan Macedonia.

Pada tahun 1876 Sultan Abdul Hamid II naik tahtah. Pemerintahannya bersifat absolut dan penuh kekerasan.

Karena itu timbul rasa tidak senang baik di kalangan sipil maupun di kalangan militer gerakan-gerakan oposisi terhadap pemerintahan absolut Sultan Abdul Hamid II inilah yang kemudian dikenal dengan nama gerakan Turki muda, dengan para pelopornya antara lain Ahmad Riza, Muhammad Murrad dan pangeran Sahabuddin.

Sementara itu, kelompok militer semakin memperketat usaha mereka untuk menggulingkan Sultan dan membentuk Komite komite rahasia, seperti komite perkumpulan persatuan dan kemajuan.

Salah seorang pemimpin komite itu adalah Mustafa Kemal yang kemudian populer dengan panggilan Kemal Ataturk ( Bapak Bangsa Turki).

Pada tahun 1908 perkumpulan persatuan dan kemajuan dapat mendesak Sultan Abdul Hamid II untuk menghidupkan kembali Konstitusi 1876.

Akibat desakan itu, Pemilihan Umum diadakan dan terbentuklah parlemen yang diketuai oleh Ahmad Riza dari perkumpulan persatuan dan kemajuan. Di dalam parlemen itu, Turki muda juga ikut memegang kekuasaan.

Dalam perkembangan selanjutnya, perkumpulan persatuan dan kemajuan Dinasti Ottoman ke dalam Kancah Perang Dunia I dengan berpihak pada Jerman.  Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan pihak Jerman dan dinasti Turki. Akibatnya, kabinet Turki muda mengundurkan diri dan para pemimpinnya melarikan diri ke Eropa.

Perdana menteri yang baru, Ahmad Izzet Pasha, mencari perdamaian dengan pihak sekutu yang memenangkan peperangan. Sebagai pihak yang menang perang, tentara sekutu masuk dan menduduki bagian-bagian tertentu kota Istanbul.

Sementara itu, Yunani dengan bantuan Inggris Prancis dan Amerika Serikat hendak merampas kembali wilayah-wilayahnya dari Turki. 

Kehadiran tentara sekutu dan Yunani menimbulkan amarah dan semangat rakyat Turki untuk mempertahankan tanah air mereka.

Dalam suasana serupa inilah tampil Mustafa Kemal yang dengan gagah berani berjuang menyelamatkan Dinasti Ottoman dari kehancuran total dan ekspansi Eropa.

Atas usaha Mustafa Kemal dapat dibentuk Majelis Agung pada tahun 1920 dan ia terpilih sebagai ketuanya. Setahun kemudian disusun konstitusi baru yang menjelaskan bahwa kedaulatan adalah milik rakyat.

Dari hari ke hari kedudukan Mustafa Kemal semakin kuat di mata rakyat. Dalam kedudukannya sebagai panglima dari semua pasukan yang ada di Turki Selatan, Mustafa Kemal membentuk pemerintahan tandingan di Anatolia, sebagai imbangan terhadap kekuasaan Sultan Abdul Majid II di Istanbul.

Hal ini dilakukannya karena ia melihat Sultan sudah berada di bawah kekuasaan sekutu. Akhirnya, pada tahun 1992, Majelis Agung di bawah pimpinan Mustafa Kemal menghapuskan jabatan Sultan.

Ia kemudian memproklamasikan Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923 pada tahun 1924 jabatan khalifah juga dihapuskan dan Abdul Majid II, Khalifah terakhir diperintahkan meninggalkan Turki.

Di samping berperan dalam perwilayahan wilayah kekuasaan Islam, Dinasti Ottoman juga mempunyai peranan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, Pendidikan, Kebudayaan, publikasi dan penterjemahan agama, hukum dan ekonomi perdagangan dan lain sebagainya.

Ilmu pengetahuan yang banyak berkembang adalah ilmu-ilmu terapan yang berhubungan dengan kemiliteran, seperti ilmu maritim, teknik, pembuatan mesin dan Meriam.

Sebelum abad modern, lembaga pendidikan yang ada hanya Madrasah.Sejak pemerintahan Sultan Mahmud II mulai didirikan sekolah-sekolah modern, diantaranya sekolah pengetahuan umum, sekolah sastra, di samping sekolah militer, Sekolah Teknik dan sekolah kedokteran. Selain itu, Sultan Mahmud mendirikan Dar-ul Ulumu Hikemiye ve Mekteb-i Tibbiye-i Sahane yang meruapakan gabungan sekolah kedokteran dan pembedahan.

Pengembangan budaya Turki tampak lebih menonjol bidang bahasa. Bahasa Turki digunakan di seluruh wilayah kekuasannya. Dalam arsitektur, Turki mempunyai corak khusus dalam desain bangunan. Arsitekur Turki dalam dilihat di Masjid Sulaiman di Itsnambul dan Masjid Salim di Andrianopel.

Di bidang agama, syariat Islam menjadi satu-satunya sumber hukum Islam Dinasti Ottoman dengan Madzhab Hanafi sebagai Madzhab negara. Dalam bidang Tasawuf, ajaran Tarekat Bektasyi berkembang pesat.

Tarekat ini diajarkan oleh Bektasyi Veli dari Khurasan dan menjadi terkenal di Anatolia pada tahun 1281.

Ensiklopedia Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta.

Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال