Kebangkitan Reformis dan Modernisme Islam dalam Analisis Prof. Dr. Marcel A. Boisard

Prof. Dr. Marcel Andre' Boisard

Kebangkitan Reformis dan Modernisme Islam dalam Analisis Prof. Dr. Marcel A. Boisard

KULIAHALISLAM.COM - Prof. Dr. Marcel Andre’ Boisard lahir di Jenewa tahun 1939. Ia merupakan intelektual dan diplomat Swiss. Ia menyelesaikan studinya di Swiss, Jerman dan Amerika Serikat. Pada tahun 1980, ia bergabung dengan PBB. Tahun 1992, ia diangkat sebagai Direktur Eksekutif United Nations Institute for Training and Research (UNITAR). 

Pada tahun 2001, ia diangkat menjadi Asisten Sekretaris Jenderal Persarikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia terkenal di dunia Islam setelah ia pernah menjabat sebagai Wakil Komite Palang Merah Internasional di Aljazair, Yaman, Saudi Arabia, Suriah dan Mesir. Ia banyak menerbitkan tulisan berkaitan dengan Islam dan politik kebudayaan di Swiss, Inggris, Belgia dan Austria.

Marcel Andre’ Boisard dianugerahi Order of Merit oleh Anwar Sadat yang saat itu menjadi Presiden Mesir. Karyanya yang terkenal adalah L’ Humanisme de I’ Islam yang kemudian buku itu diterjemahkan oleh Prof.Dr. Mohammad Rasjidi dengan judul “Humanisme dalam Islam”. 

L’ Humanisme de I’ Islam awalnya diberikan langsung oleh Prof. Marcel A. Boisard kepada Prof. Moh. Rasjidi dalam acara Konferensi Meja Bundar Dakwah Islam dan Misi Kristen tahun 1976 di Swiss.

Prof. Mohammad Rasjidi berkata “Setelah membaca buku itu saya sebagai seorang Indonesia yang menginginkan kesetabilan masyarakat Indonesia, khususnya dalam menghadapi masa sekarang dan masa mendatang, saya merasa bahwa buku itu akan menjernihkan suasana di Indonesia; masalah di Indonesia adalah pengaruh Barat dalam bidang filasafat dan agama”.

Kebangkitan Islam dan Kaum Reformis

Prof. Dr. Marcel A. Boisard menyatakan bahwa: Dalam bidang sejarah politik, nasib Islam semenjak abad ke-16 Masehi ditentukan oleh sikap-sikap Eropa. Inggris dan Perancis memasuki daerah-daerah Islam. Kehidupan beragama menderita dengan keadaan tersebut.

Orang-orang mengutamakan unsur kebudayaan tradisional dibandingkan  mengadakan riset ilmiah. Iman menjadi terdesak dalam ortodoksi yang sempit. Maka pandangan Islam tentang dunia menjadi sempit. 

Selama masa kemunduran yang lama, bangsa Arab telah menyelinap dari panggung sejarah Islam. Orang-orang Turki bersedia menjiplak teknik militer Barat namun tidak menunjukan kemampuan untuk memahami konsepsi politik dan sosial Islam.

Orang-orang Turki tidak merasa bahwa Eropa telah memasuki Imperium Turki dan mencekiknya. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk memahami agama mereka. Hal ini selalu diperingatkan oleh kaum reformis. Masuknya kekuasaan Perancis dalam pusat Islam telah memaksa umat Islam untuk menetapkan sikapnya terhadap Barat yang jaya.

Penjajahan menimbulkan rasa harga diri yang diremekan dan hal ini menjadi usaha untuk kebangkitan keagamaaan, kebudayaan dan politik. Dengan melakukan usaha-usaha anti kolonial, bangsa Arab muncul kembali dalam sejarah Islam.

Islam membuktikan dirinya sebagai jiwa dan daya utama untuk bertahan, disertai dengan bangsa-bangsa yang dijajah dalam bidang politik. Islam menuju kepada proses yang bercabang. 

Orang-orang Arab terpaksa menghadapi dua musuh. Musuh yang pertama adalah membebaskan diri dari penjajahan Turki Utsmani, bangsa Arab bekerja sama dengan Barat dan musuh yang kedua yaitu melawan balik pihak Barat ketika mereka memahami bahwa adalah mustahil untuk kerjasama dengan pihak yang memaksakan kolonial kepada mereka, sebagaimana yang dibuktikan dengan sistem mandat dan deklarasi Balfour.

Di Afrika, agama Islam ikut mendirikan masyarakat baru yang menjelma dari sistem suku-suku menjadi masyarakat yang mampu berdaya saing menentang pengaruh asing. Di Asia, Islam yang lunak dan supel bertahan dan berkembang menentang kolonialisme dalam suatu rangka sosial tradisional.

Islam selalu membawa bendera perjuangan anti kolonialisme. Ada suatu fenomena ganda tiga yang terjadi di sekitar Islam dan memimpin gerakan emansipasi yaitu Reform, identifikasi dan afirmasi.

Tiga manifestasi ini bersama merupakan dasar daripada sejarah modren. Kebangkitan Islam, sebagian besar didorong oleh kemauan kebebasan dari anti penjajahan. Setelah bebas dari dominasi asing, Islam perlu mengakhiri kemunduran ekonomi dengan menimba teknik dan aspek-aspek kelengkapan kebudayaan dari sumber-sumber asing. 

Rasa hina yang disebabkan oleh dominasi kolonial, oleh kekalahan di Palestina dan oleh keterbelakangan ekonomi telah membantu menjadikan afirmasi politik sebagai sesuatu aspek penting dalam penyelidikan keagamaan.

Pada pembaharu pada umumnya mengelakan diri untuk memisahkan diri dari Islam dan berbarengan itu mereka mengarahkan sebagian besar dari tenaga mereka kepada politik.

Aspirasi untuk kebanggaan nasional, reform keagamaan dan perjuangan politik bercampur menjadi satu dan tiap aliran menerima bahan secara timbal balik. 

Afirmasi tentang keunggulan agama Islam dinyatakan dengan campuran ingatan tentang masa yang lampau yang sangat gemilang dan dengan campuran ingatan tentang masa lampau yang sangat gemilang dan dengan keinginan untuk pembaruan doktrin.

Karena khawatir akan kemenangan materialisme Barat, umat Islam kembali pada sumber-sumber yang pokok untuk memantapkan diri. Gerakan reformis Islam telah menjadi obyek literatur yang sangat penting. 

Para reformis masing-masing mengatakan Islam tidak dapat dipersalahkan dan dianggap bertanggung jawab atas stagnasi yang telah lama dan dekadensi yang nyata dalam dunia Islam. 

Keburukan-keburukan yang ada sekarang harus dinisbatkan kepada orang-orang Islam sendiri yang tak dapat hidup menurut ajaran agama mereka.

Untuk menghilangkan cadar yang menutupi dunia Islam, kita perlu menegaskan bahwa wahyu Alqur’an itu bersifat rasional secara sempurna dan bahwa ajaran Nabi mengandung kemungkinan-kemungkinan yang tak terhingga.

Argumen-argumen yang diambil dari masa lampau tidak hanya dimaksudkan sebagai apologi (mempertahankan agama) akan tetapi untuk mengugah kesadaran Islam. Pendekatan ini berhasil mempengaruhi rakyat jelata secara tidak terasa.

Rencana-rencana umum yang dikemukakan kaum reformis adalah memurnikan pratik agama dari takhayul dan hal-hal yang sudah tidak relevan yang terkumpul semenjak berabad-abad, membedakan yang pokok dan yang tidak pokok agar dapat memelihara dogma yang pokok dan akhirnya kembali kepada Alqur’an dan Hadis dengan cara pemikiran yang merdeka.

Terdapat dua aliran kaum reform yang menonjol yaitu aliran apologetik bersifat konservatif dan bertujuan untuk mempertahankan nilai-nilai Islam dan menetang pengaruh kebudayaan materialis asing, dan yang kedua aliran yang menerima perinsip sekuler dalam masyarakat modern di mana agama itu tetap terhormat akan tetapi tidak lagi menjadi dasar pemikiran politik.

Kaum reformis yang terikat kuat kepada peninggalan kebudayaan Islam dan menganjurkan untuk kembali kepada peninggalan kebudayaan Islam dan menganjurkan untuk kembali kepada ortodoksi walaupun ada penolakan dan akan berhadapan dengan lawan mereka yaitu orang-oramg modernis yang menganjurkan asimilasi kritik terhadap pemikiran modern dengan Islam Liberal dan rasionalis yang mendapat banyak inspirasi ide-ide Eropa Barat.

Adalah lebih berfaedah untuk menerangkan secara singkat teori agama dan politik para pembaharu yang pokok-pokok daripada sekedar menganalisa persamaan dan perbedaan antara keadaan aliran tersebut yang nuansanya dapat berbeda-beda secara tak terbatas.

Kebangkitan Reformisme Jamaludin Al-Afghani

Jamaluddin Al Afghani karena merupakan pelopor dan karena kepribadiannya yang kuat dan selalu berubah adalah sukar untuk dipelajari. Tulisan serta ide-idenya berubah menurut kelompok yang mendengarkannya. Ia selalu emosi dan spontan dan tidakannya mempunyai pengaruh besar terhadap kaum Muslimin.

Jamaluddin Al Afghani menyerang lembaga-lembaga yang ada, menganjurkan kembali kepada persaudaraan Islam orisinal serta melontarkan kritik pedas terhadap materialisme Barat dan sikap apathi dari kaum Muslimin. 

Menurut Al Afghani, persatuan ideologi dan politik dunia Islam adalah satu-satunya benteng yang dapat bertahan melawan imperialisme Eropa. Ia memberikan kepada Islam suatu image ideal dari zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabatnya yang kekuatan dan keberhasilan militernya bertentangan sama sekali dengan dunia Islam pada masa itu.

Sejarah menganggapnya sebagai pelopor kebangkitan Islam, persaudaraan dan solidaritas Islam dalam mengahadapi Barat sebagai pembawa panji-panji anti imperialisme dan sebagai ahli teori yang sedikit kabur mengenai bentuk nasionalisme Pan Islamic. 

Murid AlAfghani yang paling menonjol adalah Muhammad Abduh dari Mesir yang mendasarkan pemikirannya atas dua postulat pokok yaitu pertama peran agama yang perlu secara mutlak bagi kehidupan manusia dan sebagai terusannya, keistimewaan yang tak dapat disangkal lagi tentang wahyu Alqur’an. Dan kedua, perlunya menggunakan dan mengasimilisasikan bagian yang terbaik dalam pengetahuan Barat.

Muhammad Abduh berbeda secara terang-terangan dengan gurunya, ia berpikir bahwa pembebasan dunia Islam dapat berjalan dengan emansipasi perorangan dan menuntut penghapusan perbudakan yang dipaksakan oleh sikap meniru secara otomatis kepada dogma agama yang disalahpahamkan. 

Muhammad Abduh ingin memberikan kembali kepada kaum mukminin kepercayaan terhadap diri sendiri  dengan memberikan dasar-dasar moral dari masyarakat baru yang akan dibentuk, dengan jalan kembali kepada Islam yang sudah dimurnikan yang sangup mengasimilisasi kemajuan dari luar dan menegakan keadilan sosial dari dalam.

Rasyid Ridha memberikan gerakan reformis Arab suatu nada yang lebih bersifat apologetik bahkan kadang-kadang bersifat polemik. Ia mengulangi ide-ide Muhammad Abduh dalam menafsirkan agama atas sumber-sumbernya yang asli akan tetapi memberikan penjelasan yang menunjukan pengaruh besar dari Al Afghani.

Ia mencoba memberikan dimensi politik bahkan Pan Islamic untuk memperbarui dunia Islam. Rasyid Ridha berpendirian mendirikan Khilafah baru yang dapat memainkan peranan efektif dalam urusan spritual dan material masyarakat Islam.

Walaupun dalam urusan spiritual, ia seorang yang berpegang keras kepada hukum, tetapi ia tidak membatasi diri untuk kembali kepada peraturan-peraturan tradisional. 

Rasyid Ridha menyesuaikan konsep Alqur’an tentang musyawarah dan konsesus masyarakat secara aklamasi untuk menunjukan kemungkinan membentuk pemerintah representatif dalam negara Islam. 

Rasyid Ridha seperti gurunya Muhammad Abduh yaitu mengakui manfaat ide modern. Rasyid Ridha melampaui Muhmmad Abduh  dengan menerjunkan diri ke dalam politik dan dengan begitu menyiapkan timbulnya gerakan yang kemudian menghebohkan medan politik yaitu Ikhwanul Muslimin.

Gerakan Ikhwanul Muslimin ingin mendirikan kembali masyarakat Islam menurut prinsip Alqur’an yang ketat yang akan membawa pemecahan problema-problema sosial pada waktu itu. 

Mereka berusaha mengadakan gerakan massa untuk mengambil kekuasaan. Menurut mereka Islam pertama merupakan sistem moral dan keadilan sosial meliputi segala nilai yang diperlukan oleh kaum Mukminin untuk mendirikan masyarakat yang menjamin kemakmuraan dan kemerdekaan individu.

Kebangkitan Islam di Anak Benua India

Aliran reformis tampaknya lebih orisinil. Seperti saudara-saudara mereka bangsa Arab, umat Islam di India menghendaki reinterpertasi rasionalis tentang dogma-dogma, karena reinterpertasi tersebut tak terdapat dalam Alqur’an dan Al-hadis. 

Pada umumnya, orang-oramg india bersikap kurang tradisionalis dari pengarang-pengarang Arab. Sir Sayyid Ahmad Khan menganjurkan dimasukannya kemajuan-kemajuan ilmiah serta menerima lembaga-lembaga Barat dalam Islam modern, untuk keperluan tersebut ia mendirikan universitas.

Reformis kedua adalah Amir Ali yang mengembangkan ajarannya atas dasar riwayat hidup Nabi Muhammad Sallallahu ‘alahi wasallam yang ditulisnya dengan nada apologetik. Menurut Amir Ali, kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bukti yang nyata tentang kemampuan Islam untuk adaptasi dengan zaman modern.

Walaupun ia adalah seorang pengikut aliran Syiah tetapi ia berhasil sangat baik, juga di negara-negara Arab. Tentu saja hanya sedikit sekali pembaca yang menyetujui pendapatnya bahwa Alqur’an adalah karangan Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam.

Akhirnya Muhammad Iqbal merupakan penulis yang paling terkenal tentang gerakan reformasi di India berkat pengetahuannya yang luas serta daya tarik syair-syairnya karena yakin bahwa Islam memiliki keluwesan yang tak terbatas. 

Ia menganjurkan untuk meninjau kembali keseluruhan sistem Islam tanpa memutuskan peninggalan masa lalu. Ia menuntut dibentuknya demokrasi spiritual dengan aspirasi Islam dengan mengadakan konsensus mayarakat dan usaha pemikiran perorangan.

Bertentangan dengan Rasyid Ridha, ia menolak mendirikan Khilafah kembali dengan mengatakan bahwa Islam adalah kesetiaan kepada Tuhan dan hukumnya dan bukan suatu petunjuk politik untuk mendirikan pemerintahan.

Dengan mengasosiasikan doktrin dan lembaga-lembaga Islam tradisional yang kadang-kadang ia tafsirkan secara allegoris (Qiasan) dengan rasionalisme Barat, prinsip-prinsip Yuridis dan pengetahuan teknik, Iqbal berpendapat bahwa Reform dapat menghasilkan suatu kompromi tanpa bentrokan.

Islam Reformis dan Modernisme Islam

Penjelasan singkat tentang doktin Islam di atas memungkinkan kita untuk membedakan dua aliran pokok dalam gerakan pembaruan Islam yaitu reformisme dan modernisme. 

Reformisme tidak mencari kemajuan dengan bertitik tolak dari pengetahuan politik, sosial atau teknik yang ada sekarang, akan tetapi mencari program aksi yang ditunjukkan oleh Islam. Kembali pada sumber asli tidak berarti bahwa pendekatan intelektual ideal tidak mengindahkan kenyataan-kenyataan di depan kita, dan lembaga-lembaga asing dalam rangka identitas Islam semata.

Dalam konteks Islam, tiap kebangkitan harus dimulai dengan reform keagamaan. Walaupun begitu gerakan reformis melakukan kesalahan dengan hanya memajukan dalam tingkat dogmatik terbatas tanpa memberi perhatian yang cukup kepada dinamismenya masyarakat industri kontemporer.

Kaum modernis Islam timbul daripada dasar yang sama dengan reformis, mengajak kepada kemurnian dan menghidupkan kembali agama. Mereka yang menganjurkan modernisme bertujuan untuk westernisasi (pembaratan) struktur sosial daripada untuk mengubah lembaga-lembaga. 

Mereka ini terlalu progresif dan tidak mengindahkan “jiwa Islam”, maka mereka itu, sampai batas tertentu, sudah ikut menambah ketidakseimbangan masyarakat Islam sekarang.

Doktri modernisme merupakan kumpulan ide-ide yang diamsukan oleh elit Barat yang tergila-gila pada ide Liberal karena mereka mengira dapat memperoleh obat terhadap dominasi kolonial dan dispotisme dalam negeri. Modernisme dengan aliran-aliran yang sangat ekstremis melahirkan kecenderungan kepada sekularisme negara Islam modern.

Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال