Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid Cinta Pertama Nabi Muhammad SAW

Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid Cinta Pertama Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW bersabda: Allah tidak memberi kepadaku istri yang lebih baik dari Khadijah. Ia beriman kepadaku di kala semua orang mengingkari kenabianku. Ia membenarkan kenabianku di kala semua orang mendustakan diriku. 

Ia menyantuni diriku dengan hartanya dikala semua orang tidak mau menolongku. Melalui dia, Allah menganugerahi anak kepadaku, tidak dari istri yang lain. (Diketengahkan oleh Ibnu ‘Abdu Birr di dalam Al Isti’ab).

Sebagaimana termaktub di dalam buku-buku sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, beliau ditinggal wafat ayahandanya sewaktu masih berada di dalam kandungan bundanya. Kemalangan demi kemalangan menimpa nasib beliau sebagai anak yatim. Dalam perjalanan pulang ke Mekkah bundanya wafat di pedusunan bernama Abwa.

Oleh pembantu ibunya yang bernama Ummu Aiman, Muhammad SAW yang masih kecil diserahkan kepada datuknya yang lanjut usia bernama Abdul Muthalib. Seusai Abdul Muthalib wafat, Nabi yang masih kecil diasuh pamannya bernama Abu Thalib. 

Meskipun Abu Thalib bagi masyarakat Quraisy merupakan seorang pemimpin yang dihormati, tetapi Abu Thalib tidak termasuk jajaran tokoh Quraisy yang kaya. Di tengah suasana hidup serba kekurangan itulah Muhammad SAW dibesarkan.

Setelah selama 17 tahun hidup di bawah naungan pamannya, beliau berpikir hendak membantu meringankan penghidupan Abu Thalib, setidak-tidaknya hidup mandiri tanpa menjadi beban yang memberatkan pamannya. 

Muhammad SAW sering duduk sendiri merenungi kemalangan hidup yang menimpa dirinya sejak masih dalam buaian. Abu Thalib berkata padanya: 

“Anaku, aku ini seorang yang tidak berharta, bertahun-tahun kita hidup menderita. Kita tidak mempunyai barang dagangan apapun yang dapat dijual dan tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarang kafilah Quraisy siap berangkat ke negeri Syam membawa barang-barang dagangan Khadijah.”

Seanjutnya, Abu Thalib berkata: Seumpama engkau mau datang kepadanya untuk keperluan itu tentu ia akan lebih mengutamakan dirimu daripada orang lain, karena sudah banyak mendengar kabar tentang kejujuran dan kesucian hatimu. 

Sebenarnya aku tidak suka engkau berpergian ke Syam, karena saya mengkhawatirkan keselamatanmu di tengah-tengah orang Yahudi. 

Saya mendengar bahwa Khadijah sudah menunjuk seseorang tenaga tambahan, saya tidak rela kalau ia memberi bagian keuntungan kepadamu seperti yang diberikan kepada orang itu ! Setujukah engkau kalau persoalan itu kusampaikan kepada Khadijah ? 

Muhammad SAW pun menyetujuinya.
Pergilah Abu Thalib menemui Khadijah, ternyata apa yang dikatakan olehnya dapat disetujui, bahkan diterima oleh Khadijah dengan segala senang hati. 

Kemudian berangkatlah Muhammad SAW bersama kafilah ke negeri Syam. Dalam waktu tidak beberapa lama semua barang dagangan yang dibawa oleh kafilah habis terjual. Setiap anggota kafilah (rombongan) menghitung-hitung laba. 

Nabi Muhammad SAW terlambat pulang bersama kafilah karena beliau singgah ke perkampungan Abwa untuk menziarahi ibunda beliau Sayyidah Aminah. Dalam perjalanan tersebut, Khadijah menyuruh Maisarah membantu Nabi Muhammad SAW selama perjalanan. 

Sebelum berangkat Khadijah telah berjanji akan memberi bagian keuntungan kepada Muhammad SAW lebih banyak daripada yang diterima orang lain, yaitu dua kali lipat.

Setelah beberapa saat menatapkan pandangan matanya ke arah pusaran bundanya, beliau bergerak dengan untanya. Beliau teringat akan peristiwa sedih dalam perjalanan beliau yang pertama ke Yastrib (Madinah) bersama bundanya berziarah ke makam ayahandanya, kemudian di dalam perjalanan pulang ke Makkah bundanya wafat di Abwa.

Tibalah kafilah Quraisy di Makkah dengan selamat. Keluarga dari masing-masing anggota kafilah menyambut berbondong-bondong mengerumuni unta-unta yang masih tampak letih. Mereka bergembira menyambut kedatangan keluarganya masing-masing. 

Itulah mereka, tetapi Nabi Muhammad saw siapakah yang menyambut kedatangan Muhammad SAW ? Beliau langsung menuju ke rumah Khadijah setelah beberapa kali berthawaf di Ka’bah. Maisarah yang datang lebih dahulu langsung menemui Khadijah. 

Maisarah menceritakan perilaku Nabi Muhammad SAW selama berniaga ke Syam. Cerita Maisarah itu menarik perhatian Khadijah. Ketika Muhammad SAW menuju ke arah rumahnya Khadijah, Khadijah yang tak sabar menanti Muahmmad SAW cepat turun menyambut kedatangan beliau. 

Dengan ramah dan suara lembut Khadijah mengucapkan selamat datang seraya berada di depan pintu. Sejenak Muhammad SAW mengangkat kepala dan dua mata saling beradu pandang. Nabi Muhammad SAW malu tersipu-sipu dan segera membuang pandangannya ke arah lain.

Beliau mengangguk tanda pernyataan terima kasih atas kesempatan berniaga yang diberikan oleh Khadijah. Khadijah saat itu diam terpaku. Lidahnya terasa sulit bergerak untuk mengucapkan kata-kata. 

Khadijah Terpesona menyaksikan kejujuran seorang pria yang dipercayainya berniaga menjualkan barang daganganya. Khadijah menyerahkan bagian keuntungan yang telah dijanjikan sebelumnya.

Hingga beliau beranjak meninggalkan tempat, Khadijah masih termangu-mangu. Dengan suara lirih dan irama sejuk Khadijah mengucapkan “selamat jalan”. Beliau tampak makin jauh meninggalkan rumah Khadijah, tetapi janda rupawan dan hartawan yang berusia empat puluh tahun itu tetap mengarahkan pandangan matanya ke arah beliau yang makin lama makin menjauh.

Beliau pulang ke rumah pamannya, Abu Thalib dengan perasaan lega dan gembira, pertama karena beliau tiba kembali ke Makkah, selamat dari gangguan orang-orang Yahudi di Syam dan kedua karena beliau dapat meringankan beban penghidupan pamannya sekeluarga. (saksikan kelanjutannya).

Sumber : H.M.H Al-Hamid Al-Husaini dalam Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW diterbitkan Pustaka Hidayah, 2007.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال