Pemilu dalam Pandangan Islam

KULIAHALISLAM.COM - Di tahun 2024 Indonesia dihadapkan gebyar Pemilu (Pemilihan Umum) dari Presiden Wakil Presiden, Calon legislatif tingkatan Nasional, Provinsi, Kabupaten, sampai daerah aslinya sendiri yang menjadi pelabuhan peningkatan karir politik sebagai putra daerah. 


Gebyar ini juga dihadiri berbagai tim kampanye pendukung dari golongan mahasiswa, pelajar, dosen, guru, pedagang kaki lima dan masih banyak yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Baliho, baju partai, tak ketinggalan meriahnya pesta demokrasi supaya meriah serta memenangkannya. 

Segala bentuk atribut termasuk uang menjadi senjata politik melakukan segala cara dengan menguasai daerahnya. Yang dulunya pernah nyaleg, sekarang nyaleg lagi, yang dulunya sering gagal, sekarang mencoba lagi. Memang politik ini tidak hanya gayeng di pemilihan capres dan cawapres, semuannya ikut merayakannya. 

Fasilitas iming-imingan mewah pun ikut andil dalam politik identitasnya. Saya tak habis pikir berapa biaya dikeluarkan partai untuk pemilu? Dan dari mana uang sebanyak itu? Menurut beberapa sumber yang pernah saya baca dan channel TV khususnya Metro TV dana partai merupakan anggaran pemerintahan setiap tahunnya, tetapi dalam catatan kader partai harus ada yang mengisi calon legislatif pemerintahan pusat. 

Agar anggaran itu menjadi bukti bahwa partai memiliki kontribusi penting untuk negara dan bangsa. Negara dan bangsa? Apa harus ikut kader politik untuk membawa perubahan?  Iya nggak juga sih kalau dikatakan berkontribusi. Penilaian ini terlalu jauh sekali dalam hal memilih dan memilah. 

Apalagi partai berkedok agama yang sangat berpengaruh di Indonesia, sebut saja : PKS, PAN, PKB, P3, dan lain sebagainya. Anehnya, ada juga kader partai ketika mengisi kajian/ kultum dengan berdalih politik bukan bagiannya, dan tidak berjalan dengan prinsip Islam, wah itu sangat amatir sekali dalam memahami Islam secara global (umum). 

Apalagi sistem pemilu diadakan secara demokrasi, orang bisa nyoblos seenaknya, atau menurutnya bagus, atau manut-manut saja. Mereka lupa carannya bernegara dengan baik dan benar. Karena masih memiliki sifat fanatisme yang berlebihan. Sebab kuranya belajar banyak hal, dan mudah menyalahkan orang lain, dan masih dikatakan jauh dari harapan sesungguhnya. 

Dalam sejarah Islam, kita kalian pasti tahu namannya Khulafaur Rasyidin kan? Penerus Rasulullah SAW menjaga integritas negara dan bangsa, dan memberikan kemakmuran kepada rakyat sekitar. Zamannya Abu Bakar hingga Ali Bin Abi Thalib yang kemudian diteruskan anaknya Sayyidina Husein hingga melahirkan tokoh politik Islam hebat. 

Dan sangat banyak sekali kalau berbicara politikus Islam hebat sepanjang masa, maka ini adalah suatu kehebatan luar biasa dalam bernegara dan berbangsa demi menguasai wilayahnya. Politik dalam kajian KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan proses pembentukkan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. 

Namun dalam politik, apapun bisa berubah sesuai rencana, atau bisa menjadi lading penghianatan sekaligus sebagai rivalitas sekalipun. Nah ada poin penting kita sebagai umat Islam dalam memandang politik sebagai berikut. 

Menurut Imam Mawardi dalam karyanya Fiqih Siyasah (Politik) 6 unsur pokok yakni : 

1. Peran agama menjadi kekuatan moral dan harus dihayati sebagai kesejahteraan. Hal ini bisa kita saksikan televisi, atau channel YouTube, atau lihat langsung banyak para calon-calon tiba-tiba sowan kiai dan ustaz dianutnya. Karena peran agama bisa memberikan pelayanan yang baik. 

2. Penguasa yang kharismatik. Nah, ini harus kita kenali dulu para calon-calon secara kepribadiannya, karakteristiknya, bagaimana dia bisa membaur masyakat. Bagaimana dia memperlakukan masyarakat itu terbukti latar belakangnya, cara mendekatkannya. 

3. Keadilan menyeluruh. Berbicara keadilan memang sangat sulit kita tebak suatu saat nanti. Bisa jadi kebijakannya blunder, bisa jadi dia beralasan. Mungkin penilaian ini bisa kita lihat latar belakangnya, atau ketika sudah jadi. 

4. Keamanan yang merata. Setiap calon harus memilki keamanannya masing-masing, dan harus memberi jaminan kepada rakyat, kalau tidak hancurlah sudah harapan besar rakyat. 

5. Kesuburan tanah yang berkesinambungan. Kita bisa baca visi misinya, apakah sesuai standar masyarakat Indonesia, atau terlalu berlebihan. Biasannya mereka sengaja blusukkan daerah-daerah dengan embel-embel bantuan materialnya guna mencari dukungan di pemilu. 

6. Harapan kelangsungan hidup. Ini juga berkaitan visi misinya membangun Indonesia lebih maju. Setiap calon pasti punya motivasi lebih untuk memakmurkan rakyatnya. 

Tentu ini harapan yang sangat sulit dicapai oleh para politisi negeri ini. Dan kalau masih ngomongin politik ada hal-hal yang harus dilihat. 

Pertama amanah memiliki arti dapat dipercaya. Kedua Shiddiq (jujur) harus jujur dalam perkataan dan perbuatan. Ketiga Fatonah (cerdas) bisa memberikan solusi terbaik bagi umat, dan harus tahu letak permasalahannya. 

Keempat Tablig (menyampaikan) maksudnya dia harus menyempaikan apa adannya, tidak boleh dibuat-buat. Jadi kalian pilih mana? Pilihan ada dihati kalian masing-masing. 

Kalian bisa memilih sesuai gagasannya, atau bahkan suka dengannya. Itu kalian yang memilih sesuai apa yang kalian inginkan. Tanpa menyelahkan masing-masing. Karena setiap calon pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Sebisa mungkin, pilih yang menurut prinsip islam sejalan. Semoga pemilu ini berjalan lancar.

Ahmad Zuhdy Alkhariri

Mahasiswa universitas Raden Mas Said Surakarta. Pernah suatu di UKM LPM Dinamika. Pegiat kajian sosial, politik dan keagamaan. Saat ini tinggal di Sukoharjo

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال