Imam Mahdi Menaklukan Negara-Negara Arab dan Asia

KULIAHALISLAM.COM - Imam Mahdi mengutus seorang delegasi untuk menghadap seorang laki-laki bergelar As Syufani yang memerintah Irak dan sebagian besar jazirah Arab. Tentang As-Syufani ini, Ali Bin Abi Thalib pernah berkata bahwa “  As-Sufyani berasal dari keturunan Khalid bin Yazid bin Abu Sufyan. Seorang laki-laki yang buncit perutnya. Di wajahnya terdapat bekas luka dan di matanya terdapat sebuah bintik putih”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa “ Di salah satu matanya terdapat tanda-tanda kemalasan yang lemah”. 

Imam Mahdi
Ilustrasi Imam Mahdi

Disebutkan bahwa As-Syufani menduduki damaskus, wilayah teluk dan Jazirah Arab beberapa waktu sebelum Imam Mahdi muncul. Imam Mahdi juga mengirim utusan kepada para penguasa negara-negara Arab seperti Qatar, Kuwait, dan Yaman dan mengutus delegasi kepada negara Iran Afghanistan Pakistan dan negara-negara Islam yang bau bebas dari kekuasaan Rusia yang terpecah belah. Selanjutnya Imam Mahdi juga mengutus utusan ke Indonesia, Malaysia, dan Mindanao yang telah menyatakan dirinya sebagai negara otonom.

Respon yang diberikan negara-negara tersebut berbeda-beda satu sama lain. Sebagian diantaranya langsung memberikan baiat dan sebagian lainnya ragu-ragu dan sebagian lainnya menolak. Akan tetapi, jutaan orang dari Iran dan negara-negara Islam yang bebas dari kekuasaan Uni Soviet berbondong-bondong menuju Jazirah Arab untuk memberikan baiat secara langsung kepada Imam Mahdi.

Orang Iran memberikan andil besar bagi kalangan Sunni dapat memahami Imam Mahdi dan melakukan pendekatan guna menjernihkan berbagai perbedaan yang ada selama ini untuk kemudian mencari titik temu pada prinsip-prinsip aqidah.

As-Syufani menyambut utusan Imam Mahdi Dengan mengatakan bahwa ia akan datang sendiri ke Mekah dan Madinah tempat kediaman sementara Imam Mahdi. As-Syufani datang ke Madinah dengan pasukannya yang sangat banyak untuk memberikan baiat kepada Imam Mahdi tetapi baiat itu sebetulnya digunakannya untuk membunuh Imam Mahdi karena ia tidak yakin bahwa Imam Mahdi telah datang.

As-Syufani seakan-akan menguji Allah, sekalipun ia mengetahui tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi yang waktu itu sudah muncul akan tetapi Buta Hati menyebabkannya tidak memerlukan bukti-bukti sekalipun bukti-bukti itu demikian nyata.

Imam Mahdi telah mengetahui rencana As-Syufani sehingga ia mengumumkan akan memenggal nya karena mengingkari Allah Subhanahu Wa Ta'ala namun Imam Mahdi pada akhirnya mengampuni kesalahannya dan mencopot jabatannya sebagai penguasa Irak.

Namun demikian, As-Syufani mencoba melarikan diri keluar Madinah.Ia lalu memerintahkan pasukannya yang dulu dibawanya untuk menyerang pasukan Madinah Al Munawarah. Ruangan Dahsyat pun pecah sehingga Madinah Al Munawaroh hancur kecuali masjid Nabawiyah dan makam Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, peninggalan para sahabat nabi masjid-masjid yang disucikan dan sejumlah tempat lainnya. Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa sewaktu ditanya tentang orang yang menghancurkan Madinah, Nabi menjawab : Ia adalah orang yang jahat”.

Penghancuran kota Madinah adalah penghancuran kesucian, sebagaimana diingatkan oleh Imam Al qurthubi dalam pengertian bahwa perang Madinah itu hanya sekedar awalan dan bukan perang yang menghancurkan Madinah untuk selamanya. Ini adalah kehancuran yang akan berlalu kemudian Madinah bangkit kembali dalam bentuknya jauh lebih cantik.

Ada salinan manuskrip yang terdapat di Perpustakaan Kitabkanah, Turki  yang berada di bawah nama atau nomor 3664/Turats al-Munawarrah yang ditulis oleh seorang ulama asal Madinah yang menetap di kota Madinah pada abad ke-3 Hijriyah. Ia bernama Kildah bin Zaid bin Barakah al-Madani. Mansukrip itu berjudul “ Asma al-Masalikli Ayyam al-Mahdi al Malik li Kulli ad-Dunya bin Amrillah al-Malik.

Dalam manuskrip itu terdapat kalimat sebagai berikut “ Madinah Al Munawaroh hancur oleh tangan seorang pemeluk Islam yang jahat yang kejahatannya tiada tandingnya. Ia adalah orang yang menggali lubang. Akhirnya, dia sendiri yang terjerumus ke dalam lubang itu. Akan tetapi Allah menolak tipu muslihatnya dan mengembalikan akibatnya kepada dirinya, pada masa penghancuran Dzimmah dan penghancuran agama dan para penguasa yang berpuasa baik dan pada hari fitnah-fitnah yang menakjubkan karena masuknya agama lain ke Jazirah Arab padahal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah melarang Bertemunya dua agama di dalamnya. Mereka memerintah selama 6 atau 70 tahun dan tidak pula mencapai 8 dan 90 tahun. Kehancuran mereka datang dengan munculnya seorang pemuda dari Lembah Nil dan keluarnya Shahib Al-Bait menjadi pelindungnya serta pohon-pohon dan kurma”.

Dalam manuskrip lain disebutkan bahwa “ akan tetapi Allah menghendaki kehancuran laki-laki jahat itu melalui tangan seorang Mulia Putra orang Mulia yakni Al Mahdi bin Abdullah yang membunuhnya berdasarkan perintah Allah dalam bentuk Ilham dalam mimpi dan kasyaf dalam perbuatan. Ia memotong pohon jahat yang tumbuh di Syam dan syamnya Irak yang mereka penuhi dengan buah-buahan yang masang, pahit dan banyak durinya. Telah tiba kehancuran mereka dari hulu Babilonia kuno”.

Sesudah As-Syufani dihukum mati di depan umum, Imam Mahdi menyerahkan kekuasaan atas ia kepada seorang pemimpin Saleh sebagai wilayah berada dalam kekuasaan khalifah Islam dan membaiat bangsanya untuk patuh dan menunggu Fajar keadilan sesudah berlalunya kezaliman dan kegelapan.

Setelah itu negara Oman memberikan baiatnya kepada Imam Mahdi namun negara Kuwait berada dalam tarikan dua kekuatan yakni kekuatan baik dan kekuatan buruk. Kekuatan pertama adalah kekuatan Islam yang sadar dan kuat yang waktu itu tidak diketahui oleh para penguasa yang didukung oleh bangsa asing. Sementara itu kekuatan kedua adalah penguasa-penguasa yang menduduki singgasana dan menikmati kehidupan mewah dengan dukungan kekuatan zat Amerika dan barat yang kekuatannya berakhir hingga waktu itu. Perang antara kedua kekuatan itu dengan hebat melanda Kuwait.

Atas kehendak Allah, Imam Mahdi berhasil membebaskan Kuwait. Kemudian Imam Mahdi juga berhasil menaklukan negara-negara Arab, Qatar, dan Bahrain. Negara Turki dibebaskan oleh Imam Mahdi sebelum pembebasan Palestina sesudah pengangkatan penguasa di Irak oleh Imam Mahdi. Saat itu di Turki terdapat penguasa-penguasa yang bersih selain pejabat-pejabat Yahudi dan pengikut-pengikut Dajjal. .

Imam Mahdi disambut oleh masyarakat di Pakistan dan Afghanistan dan negara-negara Asia lainnya. Amerika mengalami kepanikan hebat dan berusaha memainkan strategi di belakang layar tetapi tipu muslihat mereka justru menjelang leher mereka sendiri sebab kaum muslimin benar-benar selama ini. Negara-negara Islam yang memisahkan diri dari Uni Soviet Rusia juga segera menyampaikan baiatnya kepada Imam Mahdi sebab para ulama di negeri ini lazimnya sudah mengetahui nubuat-nubuat akhir zaman bahkan sebagian dari mereka menyimpan manuskrip yang lebih langka dari permata-pemata Firaun.

Referensi: M Isa Daud dalam “Inikah Imam Mahdi yang Dijajikan ?”

 

Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال