KH Zuhri Zaini Paiton Itu Adalah Ulama

KH Zuhri Zaini Paiton | Dok. Alfikr


KULIAHALISLAM.COM - Sebelum melangkah lebih jauh, penting dijelaskan siapa itu ulama? Dan apa syarat-syarat seorang disebut menjadi ulama? Ulama adalah bentuk jamak atau plural dari akar kata “alim” yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan, “orang yang ahli, paham, mengetahui”. 

Maka dari keterangan ini, Albert Einstein, Karl Marx, dan para Saintis Barat adalah ulama. Karena mereka adalah orang yang ahli, mengetahui, pakar, sesuai masing-masing bidang.

Hanya saja, menurut al-Imam al-Nawawi, seorang fakih mazhab Syafi’iyah, dalam mognum opus-nya Minhaj al-Thalibin menyebutkan, bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah mereka yang memiliki kualifikasi terhadap ilmu-ilmu Keislaman seperti tafsir, hadis, fikih. Itu saja. Sementara orang yang ahli qira'ah, ahli sastra Arab, dokter, ahli ilmu kalam bukan termasuk ulama.

KH. Afifuddin Muhajir sering menjelaskan bahwa, ulama itu adalah orang yang padanya terdapat ketakwaan dan keilmuan yang mendalam (man jama’a bayna al-Khasyah wa al-Fiqh). Kesimpulan ini sebenarnya di ilhami dari penggalan surat Alquran surat Fathir ayat 28.

Perpaduan keilmuan dan ketakwaan adalah sebuah keharusan seseorang mendapat gelar ulama. Karena orang berilmu tanpa ketakwaan akan menjadi jahat, sementara bertakwa tanpa ilmu adalah sesat. 

Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan, barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah ketakwaanya, maka ia semakin jauh dari Tuhannya.

Pertanyaannya, siapa di Indonesia yang memiliki dua kualifikasi ini, ketakwaan dan keilmuaan. Saya berhusnuzzan, Kiai Zuhri Zaini memiliki kualifikasi ini. Siapa Kiai Zuhri Zaini? Beliau adalah pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Pesantren Nurul Jadid adalah pesantren besar yang santrinya lebih dari “7 ribu” orang. Bahkan mungkin jumlah ini sangat sedikit dibanding jumlah yang sebenarnya. 

Bukan hanya kerena dalam angka, pesantren ini juga dikenal karena kualitasnya. Dari pesantren ini lahir, kiai, guru, dosen, politisi dan orang-orang yang bermanfaat kepada negeri. 

Kembali ke soal pengasuhnya, Kiai Zuhri Zaini. Secara keilmuan beliau adalah orang yang tak perlu diragukan. Mahfud MD dalam cuitan Twitternya menyebut bahwa, di Jawa Timur ada dua Kiai yang walaupun tidak kuliah ke Arab dan ke Barat, tapi mampu menulis makalah ilmiah dan buku dengan baik. Dua Kiai itu adalah Kiai Afifuddin Muhajir Situbondo dan Kiai Zuhri Zaini Probolinggo.

Dari segi katakwaan, akhlak dan sopan santunnya luar biasa. Beliau tak hanya membaca kitab tasawuf untuk para santri. Tetapi ia adalah “laboratorium tasawuf” yang bisa dirujuk oleh para santri. Kesederhanannya luar biasa. Beliau sederhana dalam ucapan, tindakan dan pakaian. 

Dari segi tindakan, beliau sederhananya juga masya Allah. Kalau berjalan selalu merunduk. Baru ketika berpasasan dengan orang lain ia menaikkan pandangannya. Lalu lebih dahulu melempar senyum kepada orang lain tersebut. Ini bukan katanya-katanya (qila wa qala), tapi saya sendiri yang mengalaminya.

Sejauh dalam pandangan saya, Kiai Zuhri ini kalau pergi ke undangan atau sebuah acara, ia tidak ditemani siapa-siapa, tidak dikawal khaddam yang jumlahnya puluhan apalagi sampai pakai pawai. 

Bahkan sopirnya selalu disuruh menunggu dalam mobil. Begitu juga ketika memiliki keperluan dan ingin membeli sesuatu, ia pergi sendiri ke tokoh Basmalah atau ke swalayan yang lain tanpa pengawalan.

Tak hanya itu, dari segi pakaian dan fashion, tak perlu ditanya lagi. Pakaian beliau sangat sederhana juga, bahkan jika dibandingkan dengan pakaian saya saja, sarung dan baju Kiai kalah, apalagi mau dibandingkan dengan ustaz-ustaz seleb itu. 

Jauh sekali. Pakaian yang biasa dipakai Kiai Zuhri adalah sarung berwarna putih, baju koko warna putih, sesekali pakai coklat dan kopyah putih. Semuanya sangat sederhana dan harga sangat murah sekali.

Bahkan, rumah yang beliau tempati begitu sederhana dan apa adanya. Tidak sejalan dan sebanding dengan gedung-gedung pesantren miliknya yang amat mentereng. 

Mungkin Kiai Zuhri paham bahwa, dunia adalah tempat sementara, dan akhirat adalah tujuan selamanya. Maka biarlah rumah sederhana, asal pesantren tempat mencetak generasi megah berdiri dan menjulang tinggi.

Padahal secara trah dan garis keturunan beliau termasuk darah biru, leluhurnya bersambung dengan raja-raja Sumenep melalui Bhindere Saod. Jaraknya sangat dekat, sehingga untuk menelusuri ketinggian nasab beliau sangat mudah. Tapi keluhuran nasab tersebut tidak membikin Kiai Zuhri jumawa dan merendahkan orang selainnya. 

Ciri keserderhanaan, baik pada ucapan, tindakan dan pakaian yang melekat pada diri Kiai Zuhri adalah sebagai tanda bahwa, ia adalah ulama. Al-Ghazali berkata:

واعلم ان اللائق بالعالم المتدين ان يكون مطعمه وملبسه ومسكنه وجميع ما يتعلق بمعاشه في دنياه وسطا لا يميل الى الترفه والتنعم.

“Ketahuilah! bahwa yang patut disebut ulama adalah orang yang makanan, pakaian, dan tempat tinggalnya dan seluruh kehidupan duniawi sederhana tidak bermewah-mewah dan tidak berlebihan dalam kenikmatan.”

Syahdan, melihat Kiai Zuhri Zaini, jujur ada energi positif yang dahsyat dan masuk ke jantung hati. Tamparan, sindiran dan pukulan telak kepada saya yang sering angkuh dan jumawa padahal tak memiliki apa-apa. 

Ala kulli hal, saya berharap Kiai Zuhri tetap sehat dan terus mengedukasi untuk izzu NU wa al-nahdhiyyin, izzul Islam wal muslimin, izzu Indonesia wal Indunisiyyin. 

Salman Akif Faylasuf

Salman Akif Faylasuf. Alumni Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di Ponpes Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال