Menjadi Pemimpin Demokrasi yang Baik dan Adil Menurut Perspektif Hadis

Menjadi Pemimpin Demokrasi yang Baik dan Adil Menurut Perspektif Hadis 

Oleh : Muhammad Zaenal Arif

KULIAHALISLAM.COM - Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “demos” dan “kratos”. Demos berarti rakyat, sedangkan kratos berarti pemerintahan. Jadi demokrasi berarti suatu bentuk pemerintahan yang mengikutsertakan seluruh anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut soal-soal kenegaraan dan kepentingan bersama. 

Dengan pengakuan terhadap hak-hak rakyat ini, pemerintahan demokrasi dapat disebut governance from the people, by the people, for the people. Demokrasi didasarkan pada prinsip kedaulatan rakyat artinya rakyatlah yang sesungguhnya berdaulat atau berkuasa, karena pada dasarnya semua manusia memiliki kebebasan dan hak serta kewajiban yang sama.

Padangan lain mengatakan bahwa demokrasi adalah suatu sistem politik dan sosial yang membangun hubungan antar individu, masyarakat dan negara, serta keikutsertaan mereka secara bebas dalam membuat undang-undang atau hukum yang mengatur kehidupan umum yang mengacu kepada prinsip bahwa rakyat adalah pemilik kekuasaan dan sumber hukum. Dengan demikian secara istilah dapat dikatakan bahwa demokrasi pada hakekatnya adalah suatu bentuk pemerintahan yang menganut sistem kedaulatan rakyat.

Salah satu isu yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia terutama para intelektual Muslim adalah demokrasi. Memang menjadi hal yang wajar bila terjadi sebuah kontroversi dalam hal demokrasi di negeri yang menganut sistem demokrasi seperti di Indonesia. Apalagi demokrasi menjadi topik yang sangat hangat bila terjadi sebuah penyelewengan kekuasaan, maka sering kali demokrasi dipertanyakan.

Demokrasi adalah barang asing yang datang bukan dari dunia Islam. Demokrasi datang dari dunia Barat yang memiliki historis dan pandangan dunia (worldview) yang berbeda dengan dunia Islam. 

Bahkan ada juga yang memiliki pandangan bahwasanya demokrasi itu memiliki landasan substansial yang berbeda dengan landasan agama Islam. Jika Islam bersumber pada Alquran dan Sunnah Nabi, maka demokrasi murni hasil pemikiran manusia.

Kandungan Hadis Tentang Demokrasi (Musyawarah)

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Artinya: Auf bin Malik  berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, kalian mendo›akan mereka dan mereka mendo›akan kalian. Sedangkan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian, kalian mengutuk mereka dan mereka pun mengutuk kalian." Mereka berkata, "Kemudian kami bertanya, Wahai Rasulullah, tidakkah kami memerangi mereka ketika itu?" beliau menjawab: "Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian, tidak selagi mereka masih mendirikan shalat bersama kalian. Dan barangsiapa dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian dia melihat pemimpinnya bermaksiat kepada Allah, hendaknya ia membenci dari perbuatannya dan janganlah ia melepas dari ketaatan kepadanya." (HR. Muslim).

Dalam hadis diatas disebutkan bahwa pemimpin yang paling baik adalah yang mencintai dan dicintai warganya. Pemimpin yang demikian adalah pemimpin yang menyadari hak dan tanggung jawabnya. Dia menyadari bahwa rakyat telah memilihnya sebagai pemimpin, karena itu dia menjalankan kewajibannya terhadap rakyat. 

Dia tidak hanya berpikir bagaimana menarik pajak dari rakyat, tetapi juga memanfaatkan pajak itu sebaik-baiknya untuk pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dia akan membangun infrastruktur yang dibutuhkan seperti jalan raya, jembatan, pasar, rumah sakit, gedung sekolah dsb. 

Pemimpin yang baik tidak hanya memikirkan bagaimana meningkatkan pendapatan daerah atau pendapatan negara dari Badan Usaha yang dimilikinya seperti Bank, Sarana Transportasi, Listrik, pertambangan dll. Akan tetapi juga memikirkan bagaimana menyalurkan pendapatan digunakan sebaik-baiknya untuk kemajuan bangsa.

Pemimpin yang demikian tidak hanya dicintai oleh rakyat, tetapi juga akan didoakan oleh mereka semoga berhasil menjalankan tugas dan sukses memimpin warganya. Sebaliknya pemimpin yang baik itu pun mendoakan rakyatnya agar dapat hidup sejahtera dibawah kepemimpinannya. 

Sedangkan pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang membenci dan dibenci oleh rakyatnya sendiri, pemimpin yang mengutuk dan dikutuk oleh rakyatnya. Hal itu mungkin saja terjadi apabila pemimpin lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan keluarganya dari pada kepentingan rakyatnya. 

Pendapatan daerah atau negara yang diperoleh melalui pajak dan badan usaha tidak digunakan sebagaimana mestinya, bahkan dimanipulasi dan dikorupsi. Menghadapi pemimpin yang berlaku jahat itu, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW apakah boleh memerangi mereka. 

Rasulullah SAW menjawab “Tidak boleh, selama pemimpin itu masih menjalankan salat bersama kalian”. 

Bahkan kemudian Rasulullah menambahkan: “siapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian pemimpin itu bermaksiat kepada Allah, maka dia boleh membenci perbuatannya, tetapi harus tetap taat kepadanya”.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW menganjurkan umatnya yang menghadapi pemimpin yang demikian untuk tetap menjalankan kewajiban mereka dan berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkan hak-hak mereka yang tidak diberikan oleh pemimpin. 

Artinya: Dari Ibnu Mas'ud dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Sungguh akan terjadi sifat-sifat egoisme yang kalian ingkari". Mereka bertanya; "Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan untuk kami (bila zaman itu kami alami)?". Beliau menjawab: "Kalian tunaikan yang menjadi kewajiban kalian dan kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian". (HR. Bukhari) 

Jadi faktor ketidaksukaan kepada pemimpin apapun penyebabnya, tidak bisa menjadi alasan bagi rakyat untuk membangkan dari kewajiban-kewajiban mereka kepada negara seperti membayar pajak, mentaati aturan berlalu lintas, mematuhi undang-undang dsb. karena semua itu sudah dibuat secara demokratis melalui musyawarah. 

*****

Demokrasi tidak pernah secara tersurat disebutkan dalam Alquran maupun hadis. Di dalam Alquran dan hadis hanya menyebutkan perintah untuk bermusyawarah (syura’). Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwasanya syura’ lebih sempit daripada demokrasi. 

Jika kita menelaah pendapat beberapa intelektual yang menyatakan bahwa keselarasan syura’ dan demokrasi terletak pada beberapa prinsip demokrasi, yakni keadilan (al-‘adalah), persamaan (al-musawah), kemerdekaan (al-hurriyah), musyawarah (asy-syura’), dan pertanggung jawaban (al-mas’uliyyah). Dari prinsip-prinsip tersebut dapat dilihat bahwa syura’ hanyalah bagian kecil dari sistem demokrasi yang lebih luas.

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Admin

Redaksi Kuliah Al Islam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال