Al-Qur'an dan Rekayasa Peradaban Masa Depan



Oleh: Ahmad Syafii Maarif 

Pendahuluan

Dalam kitab "Muqaddimah" karangan Ibnu Khaldun terdapat istilah "al-hadharah" yang diterjemahkan sebagai "peradaban". Peradaban pada umumnya berkembang di kota dan di kalangan kelompok urban. Menurut Ibnu Khaldun, hadharah atau peradaban itu merupakan puncak dari segala macam kebobrokan.. Pendapat tersebut merupakan hasil dari penelitian dan pengamatannya di wilayah Afrika Utara, seperti Tunisia, Aljazair, Mesir, Spanyol, dan negara-negara lainnya pada kurun waktu antara tahun 1332 - 1406, atau selama masa hidupnya.

Mengapa al-hadharah/peradaban itu justru dikatakan sebagai puncak dari segala kebobrokan moral? Menurut Ibnu Khaldun, masyarakat Islam atau dinasti-dinasti Is-lam pada waktu itu sudah terjerumus dalam kubangan dosa-dosa sejarah, yaitu dosa kesombongan serta dosa kemewahan (menghambur-hamburkan harta benda).

Dari kondisi diatas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana al-Qur'an merekayasa peradaban yang akan datang dengan sumber daya yang ada. Untuk kasus Indonesia, misalnya, dimana umat Islam merupakan mayoritas, namun sektor perdagangan (ekonomi) dikuasai oleh non- muslim. Disamping itu umat Islam juga belum pernah mengalami era industri, atau belum pernah menjadi 'masyarakat industri'. Belum ada satu pun bangsa muslim yang berpengalaman dalam hal industri (hi-tech) yang merupakan peradaban masa kini dan masa mendatang.

Kalau apa yang diungkapkan dalam "Muqaddimah" Ibnu Khaldun itu benar, yaitu setelah mengalami kemajuan dalam bidang peradaban, kemudian penguasa penguasa Islam itu jatuh satu per-satu. Pada saat itu mulailah moralitas masyarakat Islam jatuh, dimana mereka tidak lagi mengindahkan norma-norma agama. Perzinahan merajalela di mana-mana, sehingga seorang ayah tidak lagi mengenali anaknya. Sementara itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang kasar, dan kaum perempuan sudah tidak dihormati lagi. Dengan demikian, apa yang terjadi di masyarakat Barat saat ini, menurut "Muqaddimah" pernah juga menimpa masyarakat Islam pada abad ke 14. Karena itulah maka kita tidak boleh berapologi bahwa kita merupakan umat yang beriman dan karenanya maka kita akan selamat sampai masa mendatang. Itu merupakan sikap yang tidak tepat. Umat Islam harus menyiapkan diri untuk menghadapi masa depannya.

Dalam kaitan hal diatas, al-Qur'an mengatakan: "waltandzur nafsun maa qoddamat lighoddin, wattaqullaha, innallaha khobirun bimaa ta'maluuna". Jadi hendaknya seseorang itu bersiap menghadapi masa depannya, lalu bertakwa kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kita kerjakan. Lalu ayat berikutnya mengatakan "wa laa takuunuu kalladzina nasullaha faansaahum anfusakum ulaaika humul faasiquun". Janganlah kita menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, sebab nanti Allah akan membuat kita lupa kepada diri sendiri. Kalau itu terjadi, maka mereka termasuk orang-orang yang fasik. Menurut tafsir Muhammad Asad, fasik adalah or-ang yang menyalahgunakan kemampuan intelektualnya. Mereka mungkin orang yang wacana intelektualnya banyak, tapi disalahgunakan untuk sesuatu yang mengancam atau menjatuhkan martabat manusia.

Jadi janganlah kita enak-enak. menghadapi masa depan dengan berprinsip asal kita beriman, maka Allah akan berpihak kepada kita. Hal itu tentu saja ada syaratnya. Kalau nanti masyarakat industri sudah terwujud di Indonesia, dimana daerah-daerah lain di Indonesia berkembang seperti Jakarta (metropolitan), mampukah kita mengarahkan peradaban. masa depan itu? Jawabannya sangat tergantung kepada kualitas umat Islam (yang merupakan mayoritas tersebut). Hendaknya kita tidak cepat puas dengan kondisi politik saat ini, ada "ijo royo royo" dan lain sebagainya. Hal itu tentu baik untuk konsumsi politik, tapi bukan jaminan bahwa kita akan mampu mengarahkan masa depan. Dalam kaitan ini pun, Muhammadiyah dengan gerakan amar ma'ruf nahi munkar-nya tidak akan pernah efektif kalau secara intern tidak melakukan pembenahan-pembenahan. Hal itulah, diantaranya, yang akan menentukan apakah masa depan akan berpihak kepada kita ataukah kita akan terhempas menghadapi gelombang perubahan. 

Dari pengamatan saya, nanti pada awal abad 21, peradaban Barat yang sekuler, atheis dan hedonistis ini, akan tetap mewarnai peradaban manusia, entah berapa dekade lagi. Pada masyarakat Barat, peranan agama sudah sangat terbatas. Masyarakat menjadi stress yang mengakibatkan akal sehatnya terganggu. Ini bukan suatu ungkapan agar kita takut, tetapi fenomena ini sama seperti yang terjadi pada masa Ibnu Khaldun di abad ke-14. Lalu apa yang diungkapkan Ibnu Khaldun tentang hidup yang serba boleh (permissive society), masyarakat yang serba membolehkan, termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan tanpa nikah, itu sudah terjadi di mana-mana. Di kota kota besar, hal tersebut sudah menjadi rahasia umum. Kita tidak bisa hanya mengatakan "biarlah Tuhan yang nanti akan menghukumnya". Menurut konsep al-Qur'an, kalau kita tidak bertindak mengatasi masalah tersebut, maka bencana yang nantinya ditimpakan Allah itu akan merata, termasuk menimpa juga kepada orang-orang yang mengaku beriman dan orang-orang yang berada dalam gerakan amar ma'ruf nahi mungkar. Oleh karena itu kita harus berbuat sesuatu.

Kita seringkali disibukkan oleh masalah-masalah yang terlalu politis atau menyangkut kepentingan ekonomi, sehingga kita lupa membina ummat, dan bahkan lupa membina diri sendiri. Itu berarti juga kita lupa kepada Allah dan akibatnya Allah akan membuat kita lupa pada diri sendiri. Karena itulah kita hendaknya dapat menyeimbangkan antara kesibukan pribadi dengan kegiatan amar ma'ruf nahi munkar (membina ummat). Jadi, kita memang tidak bisa bebas dari hal-hal semacam itu.

Dalam kaitan tersebut, persyarikatan Muhammadiyah ini harus menjadi pelopor. Muhammadiyah jangan sampai menjadi gerakan pinggiran yang diperhitungkan orang, tetapi harus dibina agar tampil sebagai gerakan sosial keagamaan yang disegani serta mempunyai wibawa moral. Untuk ke arah itu, menurut saya sumber daya manusianya sudah ada, hanya sayangnya kita seringkali mengaku tidak memiliki waktu karena kesibukan kesibukan kita. Kalau demikian, maka sampai kapan pun kita tidak akan memiliki waktu. Kita ingat perilaku orang qurays dalam surat At-Takatsur yang gemar menumpuk harta dan kekuasaan. Nah, kalau kita sekarang ini mempunyai perilaku seperti itu, maka kita harus waspada! terhadap peringatan Allah sebagaimana yang tercantum dalam surat At-Takatsur.

Ukuran Peradaban

Kembali kepada masalah peradaban, apa sesungguhnya ukuran untuk mengatakan bahwa hal ini maju dan hal ini merata, tidak? Ukurannya hanya pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Kalau pertumbuhan ekonomi sudah sekian persen dan income per-kapita masyarakat sudah naik sekian persen, maka masyarakat atau bangsa tersebut sudah dinilai sebagai bangsa yang maju. Padahal bagaimana masalah nasib pekerja, masalah keadilan dan pemerataan, itu sudah kurang diperhatikan. Kesenjangan ekonomi nampak sangat jelas sekali. Sebagai contoh, kurang lebih 70% uang hanya beredar di Jakarta saja. Ini menunjukkan ekonomi kita terkonsentrasi di satu tempat saja. Apa akibat dari keadaan ini? Akibatnya masyarakat akan terus berdatangan memenuhi wilayah Jakarta ini, yang pada akhirnya akan memunculkan masalah baru yang pelik pemecahannya. 

Hidup di dunia yang hanya sekali ini memang sangat desessive, sangat menentukan. Oleh karenanya kalau kita sudah mempunyai konsep semacam ini bahwa hidup yang hanya sekali ini sangat menentukan maka niscaya kita akan selalu berhati-hati, sebab di hadapan Allah kita tidak punya pengacara lagi. Jadi semuanya akan tergantung kepada perbuatan kita di dunia ini.

Dalam kaitan ini kita bisa mengemukakan satu pertanyaan: apakah ukuran kemajuan itu? Secara umum dapat dikatakan, bahwa setidaknya ukuran kemajuan seseorang dapat dilihat dari sisi ekonomi dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Masalah moralitas tidak diperhitungkan dalam hal ini, sebab sekarang ini ukuran baik dan buruk sudah menjadi relatif. Artinya, ukuran baik dan buruk saat ini sangat tergantung pada kondisinya.

Sikap Eksklusif Menghambat Per-kembangan Peradaban

Ada satu kenyataan yang saat ini sedang mengejala. Di Yogyakarta (dan juga di kota-kota lainnya), ada sekelompok ummat di mana umumnya warga Muhammadiyah-yang mengikuti aliran yang eksklusif. Kaum prianya memelihara jenggot dan memakai peci putih, sementara kaum wanitanya berjubah panjang menutupi seluruh tubuhnya kecuali (wajahnya). Mereka sangat tertutup dan ekstrim. Yang mengherankan, ada Ketua Bagian Tabligh Cabang Muhammadiyah di suatu daerah yang menjadi Amir dari kelompok ini. Jadi, langsung maupun tidak langsung, kelompok ini akan menggerogoti Muhammadiyah. Dapatkah membayangkan bagaimana bentuk peradaban kita di masa depan jika ummat Islam seperti itu? Ini adalah satu pekerjaan rumah bagi kita semua. Kita perlu mengetahui, kenapa sebagian besar yang ikut kelompok ini adalah anak-anak atau warga Muhammadiyah?

Kita seharusnya prihatin dengan kelompok-kelompok usroh yang eksklusif itu, yang meniru dan mengembangkan kembali tradisi-tradisi yang berlaku di masyarakat Arab zaman rasulullah (makan selalu bersama-sama dan menggunakan tiga jari, gosok gigi pakai siwak, dan lain lain). Kita perlu khawatir, kalau peradaban semacam itu yang ditawarkan, maka nanti akan berkembang peradaban kumuh. Cara makannya tidak higienis sama sekali. Dan yang lebih menjadi masalah adalah bahwa hal itu dipakai atas nama agama, dan menurut mereka itulah ajaran yang paling murni. Kalau tidak mengatasnamakan agama itu urusan mereka sendiri.

Sementara itu apa yang mereka lakukan hanya mengkritik Ormas-ormas keagamaan seperti Muhammadiyah, NU dan Persis, dan mereka sendiri tidak berbuat hal yang berarti. Kita seharusnya mewaspadai hal ini dan mencari tahu bagaimana ummat bisa menjadi demikian. Apa yang terjadi pada sekelompok ummat itu bukan lagi kebanggaan peradaban tetapi penyakit peradaban.

Untuk mengatasi masalah di atas, pertama-tama kita harus meneliti betul betul apa sebabnya, kita kumpulkan fakta dan data-datanya. Dengan begitu kita akan bisa membuat peta dakwah dan menentukan kebijakan (policy) dakwah.

Kita bisa menyebut satu contoh misalnya al-Arqom. Ada yang mengatakan al-Arqom memberikan kepastian. Islamnya adalah Islam hitam-putih". Memang bagi jiwa yang sedang goncang, bagi jiwa yang tidak stabil, adanya kepastian secara hitam putih itu perlu sekali. Tetapi lama-kelamaan arahnya adalah eksploitasi. Sehingga seperti di Malaysia, akhirnya pemimpin al-Arqom di depan televisi. Jadi bisa dikatakan bahwa itu adalah sebuah petualangan spiritual yang semu. Tetapi karena dia bisa memberikan kepastian terhadap oknum-oknum ummat yang sedang malang melintang tidak ada pegangan, maka mereka menjadi mudah terpengaruh. Jadi saya kira Pemuda Muhammadiyah boleh saja berfikir politik, tetapi masalah ini juga mendesak untuk segera diatasi.

Dari kenyataan seperti diuraikan di atas, muncul anggapan bahwa Muhammadiyah selama ini terlalu kering. Terlalu banyak mengurusi amal usahanya, sehingga masalah-masalah rohaniah kurang diperhatikan. Aspek intelektualnya saja yang selama ini diperhatikan. Ini merupakan satu tantangan buat kita. Hanya saja ada tantangan lain yang lebih besar, sebagaimana yang termaktub dalam al Qur'an surat al-Baqoroh ayat 143 yang terjemahannya adalah: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." demikian pula yang termaktub dalam surat al-Hajj ayat 78 yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan."

Nah, sekarang bagaimana kita akan menjadi "saksi" dan akan mengarahkan peradaban kalau kita "membaca" al-Qur'an saja jarang. Padahal, al-Qur'an itu akan diam saja (pasif) kalau tidak diajak berunding atau dikaji maknanya. Dia tidak akan memberi informasi kalau tidak. ditanya. Oleh karenanya kita harus banyak berkonsultasi dengan al-Qur'an dan jangan hanya diperlombakan saja. Apalagi Muhammadiyah punya semboyan "Kembali kepada Al-Qur'an dan As Sunnah" yang diambil dari Ibnu Taimiyah pada abad ke 13. Dengan demikian maka sesungguhnya beban kita lebih berat lagi. Jadi menurut hemat saya, kalau kita berbicara tentang pengembangan peradaban ke depan, maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah penguasaan al-Qur'an. Setidak-tidaknya kita konsisten dan rutin "membaca" al-Qur'an, sebab al Qur'an itu petunjuk (huda), rahmat (rohmat), dan kesehatan (syifa).

Penguasaan Teknologi dan Ekonomi

Dengan makin berkembangnya teknologi komunikasi akhir-akhir ini, dimana salah satu bentuknya adalah pro gram jaringan komputer internet, maka kita akan dengan mudah berkomunikasi dengan orang-orang di berbagai belahan dunia. Tidak ada lagi yang bisa kita rahasiakan sekarang ini. Hanya saja masalahnya, teknologi itu sekarang ini belum kita kuasai. Dengan kata lain teknologi itu masih dikuasai orang lain dan kita bisa dijadikan bulan-bulanan karenanya. Apalagi sementara ini, masih ada beberapa kelompok ummat yang mungkin masih mengharamkan barang canggih' ini. Hal ini seperti yang terjadi pada masa kerajaan Turki Utsmani, dimana para muftinya mengharamkan mesin cetak. Oleh karenanya, untuk memenangkan 'perlombaan dalam memajukan peradaban itu sepenuhnya tergantung kepada kita, dan itu perlu komitmen. Kalau sudah diangkat menjadi pengurus Muhammadiyah, maka janganlah hanya menjadi "pengurus papan nama", sebab kita mengemban amanah ummat dan nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Jika kita memiliki komitmen yang kuat, maka saya percaya bahwa Muhammadiyah nantinya akan mampu membingkai peradaban di mendatang.

Untuk itu, terutama bagi generasi muda, hendaknya bisa menggalang kekuatan ekonomi. Menurut saya, harus ada sebagian ummat yang menjadi konglomerat, meskipun itu memerlukan waktu. Menurut sebuah buku, diramalkan bahwa di abad mendatang yang akan memegang ekonomi dunia ini adalah keturunan Cina. Bangsa- bangsa di Eropa dan Amerika nantinya akan tersaingi oleh etnis Cina. Saya berharap warga Muhammadiyah akan menjadi warga yang kaya di abad mendatang, dan itu harus kita usahakan melalui program-program yang terencana Kalau warga Muhammadiyah kaya, maka kita akan bisa mengumpulkan ZIS (zakat. infak, dan sedekah) dalam jumlah yang memadai untuk pengembangan program program. Sekarang ini, untuk ukuran organisasi sebesar Muhammadiyah, dana yang kita miliki masih sangat kecil. Untuk membiayai Lembaga Dakwah Khusus (LDK) saja kita sudah kepayahan. Jadi kita ini masih merupakan gerakan orang-orang yang lemah. Oleh karenanya kita harus memberikan perhatian lebih khusus kepada peningkatan ekonomi umat. Memang ada beberapa yang sudah kuat ekonominya, tapi jumlah itu masih terlalu kecil dibandingkan 88,7% ummat Islam Indonesia. 

Dalam kaitan di atas, kalau kondisi ekonomi kita sudah membaik, kita harus sadar akan kewajiban sebagai orang kaya. Surat al-Maa'uun telah memberi peringatan secara tegas kepada kita. Surat al-Maa'uun mengatakan bahwa kita adalah pendusta jika membiarkan kelaparan terjadi atau tidak menyantuni anak yatim.. walaupun kita sembahyang setiap hari 5 kali. Jadi al-Qur'an tidak kepulang tanggung mengingatkan hal tersebut. Hanya saja terkadang kita tidak memperhatikannya karena sudah kehabisan waktu, sibuk dengan urusan urusan proyek, kantor, dan lain-lain. Meskipun demikian, marilah kita sisakan waktu kita untuk urusan ummat, kita pakai sebagian usia kita untuk berbuat hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain dan bermakna di setiap tingkatan.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa tidak ada orang yang jatuh miskin kalau hartanya itu dimanfaatkan untuk berbuat di jalan Allah. Padahal secara hitungan matematis pasti jumlahnya. berkurang. Oleh karena itulah maka dalam konteks ini iuran anggota Muhammadiyah harus dihidupkan kembali. Sebab bagi Ranting, iuran anggota itu mempunyai arti yang penting sekali. Dulu di zaman Jong Islamiten Bond (JIB) tahun 1925-1935, iuran anggotanya tertib sekali. Apalagi semasa almarhun Kasman Singodimejo, iuran anggotanya berjalan baik sekali. Bahkan Kongres mereka dibiayai hanya dari iuran anggotanya. Kalau Muhammadiyah kan tidak. Sekarang ini harus dikumandangkan kembali semboyan yang berbunyi "apa yang bisa saya berikan kepada Muhammadiyah, bukan apa yang bisa Muhammadiyah berikan kepada saya". Semboyan ini jangan dibalik-balik. Memang sekarang ini kita tengah berada dalam kegalauan sistem nilai. Tetapi kita tetap harus hidup dan berkembang. Dalam kegalauan ini kita tidak boleh menyerah, sebab sekali "menyerah berarti kita mengkhianati nabi. Ini juga penegasan al Qur'an: wa laa taiasuu min rauhillahi. Ada hadits nabi yang juga memberi ilustrasi tentang hal ini: rasulullah pernah bersabda bahwa kalau kita mempunyai biji korma di dalam kantong, sementara esok hari akan kiamat, maka tanamlah biji tersebut.

Jadi hendaknya sebagai muslim kita tetap bisa tentram dan tidak selalu gelisah. Dalam keadaan apapun hendaknya kita tetap tenang dan istiqomah. Kalau melihat kemiskinan, bagaimana seharusnya sikap kita? Dalam al-qur'an ajaran Islam sangat jelas. Islam sangat simpati kepada orang miskin, tapi anti kemiskinan. Tetapi yang pasti jangan terus menerus seperti itu, keadaan kemiskinan itu harus dirubah sehingga menjadi "kaya". Kalau kita "kaya" maka kita akan bisa melaksanakan perintah Allah untuk membayarkan zakat. Perintah Allah tegas: bayarkanlah zakat! bukan terimalah zakat. Perintah untuk membayar zakat berarti kita juga diperintahkan untuk menjadi "kaya". Is lam bukan agamanya pengemis, bukan agamanya dhu'afa atau orang terlunta Junta. Islam adalah agama "tangan di atas".

Dalam konteks ini pula, dalam ber Muhammadiyah kita jangan mengembangkan budaya paternalisme, dimana semuanya serba menunggu Pimpinan Pusat atau menunggu atasannya. Selama tidak menyimpang dari kebijakan umum Muhammadiyah, kita harus berani mengambil inisiatif sendiri, membuat aksi dan memegang komando di tingkat yang paling bawah. Menurut saya, kalau hal ini kita lakukan, walaupun pada awalnya kecil, saya yakin Allah akan melancarkan usaha kita. Allah berfirman: "in tanshurullaha yanshurukum wa yustabbit aqdaamakum". Itu logika yang luar biasa. Jadi, apa-apa yang telah menjadi kebijakan dan program-program persyarikatan, kalau tidak didukung dengan sumber daya yang siap berkorban dan mempunyai komitmen kuat, saya kira itu semua tidak akan berjalan.

Dalam kaitan ini, dunia akan memperlakukan kita sesuai dengan kualitas kita. Dunia tidak perduli dengan agama seseorang, entah dia itu Hindu, Kristen, Budha, dan lain-lain. Kalau memang dengan kualitasnya tersebut dia tidak bisa menghadapi tantangan zaman ini, maka dia akan tertinggal. Kita bisa melihat sejarah masa lalu, misalnya ummat Islam di Spanyol. Sudah 7 abad berkuasa di Spanyol, akhirnya terusir. Kenapa sebabnya? Terjadi perkelahian antar kelompok ummat Islam di sana untuk. berebut menjadi raja, sementara orang Kristen melakukan konsolidasi besar-besaran. Ini adalah masalah kualitas, yaitu kualitas moral. Dan anehnya, ummat Is-lam justru bangga dengan perkelahian itu. Tapi setelah betul-betul kalah, kemudian mereka diusir dan dibunuh, baru kita. menyumpahi sejarah. Ini merupakan sikap yang tidak adil. Karena sejarah sudah begitu, maka kita harus mengantisipasi agar hal itu tidak terulang lagi.

Mayoritas Harus Berkualitas

Jumlah ummat Islam yang besar (mayoritas) harus dilihat sebagai suatu as- set atau modal, dan hal itu harus disyukuri. Ini merupakan hasil kerja (dakwah) dari orang-orang terdahulu. Mengapa masyarakat Jawa yang peradabannya begitu tinggi, ada Borobudur, Prambanan, dan hasil-hasil peninggalan peradaban masa lalu yang luar biasa itu. Kenapa pemimpin-pemimpin agama itu kemudian menjadi Muslim? Hingga sekarang, dari hasil penelitian yang dilakukan, belum ada jawaban pasti, kenapa itu bisa terjadi. Padahal di Jawa Tengah, peradaban Hindu dan Budha itu sudah berlapis-lapis, kenapa masih bisa ditembus oleh ulama-ulama terdahulu. Itu prestasi dakwah yang spektakuler atau gemilang sekali. Hasilnya kita lihat Islam merata di mana-mana, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Nah, sekarang tugas kita adalah bagaimana merubah yang mayoritas ini menjadi berkualitas dan bermutu tinggi. Inilah tugas Muhammadiyah yang paling mendasar.

Jadi menghadapi perlombaan peradaban di masa mendatang ini hal pertama yang diperlukan adalah kerja keras. Sekolah kita tingkatkan kualitasnya, rumah sakit kita tambah jumlah dan kita tingkatkan mutunya, demikian juga dengan panti-panti asuhan Muhammadiyah. Dulu, KH Ahmad Dahlan dikritik para ulama bahwa rumah sakit, panti asuhan dan sekolah itu merupakan tugas pemerintah, kenapa kita harus mendirikan juga? Seandainya KH Ahmad Dahlan terpancing juga dengan kritik tersebut, maka tidak akan ada amal amal usaha seperti yang sekarang ini terwujud. Tetapi menghadapi kritik-kritik tersebut kyai Dahlan tetap tegar. Jadi pada waktu itu Muhammadiyah bukan hanya memberikan reaksi terhadap tantangan zaman, tetapi memberikan jawaban, jalan keluar dengan usaha yang nyata, yaitu dengan mendirikan amal-amal usaha. Dalam bahasa al-Qur'an ada istilah "syuhada ala an-naas", yaitu menjadi saksi atas perjalanan sejarah dan peradaban manusia. Untuk memenuhi peran sebagai "saksi" itu dibutuhkan orang-orang yang berkualitas tinggi. Karena itulah kita merasa penting untuk menciptakan pemimpin pemimpin yang berwawasan jauh ke depan, bertanggung jawab, dapat bermusyawarah, tidak mau kuasa sendiri. Atas dasar itulah. maka sesungguhnya tantangan kita besar. sekali, tapi mudah-mudahan masih bisa kita jawab.

Saya memperkirakan ummat Islam ini akan tetap ada sampai hari kiamat. Tetapi kalau adanya itu tidak berperan, tidak bermakna, maka itu akan tidak memberi manfaat apa-apa. Jadi adanya seperti tidak adanya (wujuduhu ka'adamihi). Nah, dalam konteks ini Muhammadiyah kan tidak berpolitik praktis. Tetapi golongan golongan lain telah menyiapkan kader- kader yang akan memegang berbagai jabatan formal, seperti jabatan menteri, presiden, dan lain-lain. Apa jadinya nanti jika hal itu terjadi? Oleh karenanya saya kira kita juga harus memikirkan hal ini, dengan sejak dini mengarahkan anak-anak kita untuk memilih sekolah yang tepat. Janganlah kita menjawab masalah ini dengan berapologi membeberkan kejayaan Islam masa lalu, sebab sekarang ini masalahnya sudah jauh lebih kompleks. Kalau kita berintrospeksi sejenak, adakah cita-cita kita mewujudkan masyarakat utama itu sudah terwujud, atau sudah mendekati, atau bahkan makin jauh? Jika dilihat fenomenanya, saat ini kemunkaran makin berkembang: korupsi dan kolusi terjadi di mana-mana, prostitusi juga makin subur. Adanya kenyataan ini dalam masyarakat telah dilihat oleh Ibnu Khaldun pada abad ke 14 dan 15, dimana masyarakatnya adalah juga masyarakat Islam. Tetapi bentuk kemunkaran seperti itu tetap saja terjadi, walaupun pada masa itu belum ada pengaruh globalisasi (tak ada pesawat terbang, tak ada komputer, komunikasi dan informasi masih sangat terbatas. 

Penutup

Hidup ini terlalu pendek untuk dipermainkan. Jadi kalau kita sudah berniat, maka insya Allah jalannya akan terang. Kesalahan terdahulu, para ilmuwan klasik Islam terlalu sibuk mengurus Tuhan. Kita bisa baca karya-karya Tabrani, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Kindi dan lain lain, kita akan mendapatkan bahwa mereka terlalu sibuk menghadapi Hellenisme. Jadi wacananya sibuk mengurusi Tuhan, dan lupa mengurusi manusianya. Padahal al Qur'an itu diturunkan untuk mengurusi manusia, dari Allah untuk manusia. Al Qur'an itu sangat menarik sekali. Kalau al Qur'an itu sudah tidak menarik di hati kita, apalagi yang menarik di permukaan bumi ini.[g]

*)Catatan Redaksi: Artikel diatas pernah diterbitkan di Majalah Suara Muhammadiyah bulan Juni-september GERAKAN, NO 16 1995. Tim Redaktur Kuliah Al-Islam menerbitkan kembali untuk mengenang karya-karya dan pemikiran Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif sebagai refleksi dalam menjalani kehidupan ini. 

Fitratul Akbar

Mahasiswa Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Peneliti Isu-isu Ekonomi Islam, Kerukunan Umat Beragama dan Perdamaian.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال