Wafatnya Umar bin Khattab Pemimpin Paling Berpengaruh di Dunia

Umar bin Khattab memangku jabatan Amirul Mukminin selama sepuluh tahun sekian bulan, mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Allah SWT dan Islam. Pikiran, qalbu dan segenap jiwa raganya dikerahkan semata-mata hanya untuk memikul tanggung jawab yang begitu besar yang diletakan dibahunya. Dialah panglima tertinggi angkatan bersenjata dan ahli fikih terbesar di antara semua ahli fikih.


Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Kerajaan Persia yang berdiri selama berabad-abad berhasil ditakhlukanya dan dunia Arab menjadi pusat perhatian dunia dari ujung Barat sampai ke ujung Timur. Sebelum Islam, mereka merupakan masyarakat pedalaman yang hidup hanya untuk dirinya.


Ingin Segera Kembali Kepada Tuhan-Nya

Seperti biasa, pada tahun ke-23 Hijriah, Umar bin Khattab melaksanakan ibadah haji dan kembali bersama-sama dengan istri Rasulullah SAW, selesai melakukan manasik dan bertolak dari Mina, di rumahnya yang sangat sederhana, Umar mengangkat ke dua tangannya ke atas dan berkata: 

“Allahumma Yaa Allah, umurku ini sudah bertambah, tulangku sudah rapuh, kekuatankupun sudah banyak berkurang dan rakyatku tersebar dimana-mana, maka kembalikanlah aku pada-Mu tidak dalam keadaan lemah dan bersalah”.

Doa ini tidak diucapkan orang sebelum mencapai umur enam puluh tahun, terutama jika dalam keadaan jasmani yang tegap dan kuat. Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Ath Thabaqat menyebutkan bahwa sekembalinya dari ibadah haji, dalam khutbah Jum'atnya ia teringat kepada Rasulullah dan kepada Abu Bakar Ash Shiddiq.

Kemudian Umar berkata “Saudara-saudara ! saya bermimpi melihat seekor ayam jantan mematuk dua kali yang menurut hemat saya ajal saya sudah dekat. Ya Allah.., aku akan menjadi saksi atas para pembesar kota-kota ini. 

Aku mengirim mereka untuk mengajar orang tentang agama dan sunnah Nabi, untuk berlaku adil terhadap mereka”. Juwairiah bin Qudamah dari Bani Tamim berkata “Saya menunaikan ibadah Haji pada tahun ketika Umar wafat.”

Umar Dibunuh Oleh Abu Lu’lu'ah Orang Kafir Persia

Sebelum matahari terbit hari Rabu tanggal empat Zulhijah tahun ke-23 Hijriah, Umar keluar dari rumahnya hendak mengimami Salat Subuh. Ia menunjuk beberapa orang di Masjid agar mengatur shaf sebelum shalat. Baru saja, ia memulai niat salat, hendak bertakbir tiba-tiba muncul seorang laki-laki dihadapan Umar dan menikamnya sebanyak tiga hingga enam kali.

Umar RA merasakan panas senjata itu di dalam dirinya, ia menoleh kepada jamaah yang lain dan membentangkan tangannya seraya berkata “Kejarlah anjing itu, dia telah membunuhku.” Yang membunuh Umar adalah Abu Lu’lu’ah Fairuz, budak al-Mugirah dari Persia. Kedatangannya ke Masjid hanya untuk membunuh Umar.  

Abu Lu’lu’ah menikam jamaah yang hendaknya menangkapnya, akibatnya enam orang terbunuh. Setelah itu, Abu Lu’lu’ah melakukan aksi bunuh diri.

Tikaman yang mengenai bawah pusarnya Umar telah memutuskan lapisan kulit bagian dalam dan usus lambungnya. Umar tidak dapat berdiri karena rasa perihnya tikaman itu dan terhempas jatuh. Abdurrahman bin Auf segera menggantikan Umar mengimami salat. Umar selanjutanya dibawa ke rumahnya. 

Umar menanyakan Siapa Yang Membunuhnya ?

Setelah Umar sadar dari pingsannya, ia menanyakan pada Ibnu Abbas apakah orang-orang telah menunaikan shalat ? Ibnu Abbas berkata bahwa orang-orang telah menunaikan salat. Umar berkata “Bukan Islam orang yang meninggalkan salat.” 

Kemudian Umar menanyakan siapa pembunuhnya. Ibnu Abbas berkata bahwa pembunuhnya adalah musuh Allah bernama Abu Lu’lu’ah budak Mugirah bin Syu’bag. Umar berkata “Alhamdulillah, bahwa saya tidak dibunuh oleh Muslim, tidak mungkin orang Arab akan membunuh saya”.

Siapa Pengganti Umar bin Khattab ?

Pemuka-pemuka Muslimin berbicara kepada Umar mengenai apa yang telah menimpa kaum Muslimin dan apa yang terjadi jika ajal Khalifah yang agung itu telah ditentukan oleh Allah sampai disitu.  Disebutkan bahwa Abdullah ibn Umar menanyakan siapa penggantinya. 

Umar berkata: “Kalaupun saya menunjuk seorang pengganti maka yang akan menggantikan saya harus orang yang lebih baik dari saya dan kalau saya tinggalkan, saya juga ditinggalkan oleh orang yang ebih baik dari saya.'’

Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Umar bertanya: Siapa yang akan saya tunjuk sebagai pengganti ? Sekiranya saja Abu Ubaidah bin Jarrah dan Abu Huzaifah masih ada, saya akan serahkan kepada orang itu. Ada sahabat mengusulkan agar Umar menunjuk putranya sebagai penggantinya namun Umar bin Khattab menolak keluarganya dilibatkan. 

Kemudian, Abdurrahman bin Auf mendatangi Umar dan menyatakan dirinya siap sebagai penggantinya. Umar menolaknya.

Pada akhirnya dibentuklah musyawarah yang terdiri dari enam tokoh yakni Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidilah, Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk menentukan siapa pengganti Umar. Umar sangat kawatir mereka akan berselisih setelah ia wafat.

Kesedihan Muslimin atas Wafatnya Umar bin Khattab

Berbagai sumber mengenai hari ditikamnya Umar dan dikebumikannya terdapat perbedaan. Ada yang menyebutkan bahwa ia ditikam hari Rabu dan dikebumikan hari Kamis malam ketiga Dzullhijah. Sumber lain menyebutkan bahwa penikaman itu terjadi hari Rabu dan ia dikebumikan hari Ahad pagi 1 Muharam tahun 24 H. Sumber lain menyebutkan bahwa ia wafat tanggal 08 atau 10 Muharam tahun 24 H.

Zaid bin Sa’id ketika wafatnya Umar menangis. Ketika ditanya mengapa ia menangis ? Zaid bin Sa’id RA berkata “Saya menangisi Islam ! Dengan kematian Umar, umat Islam retak yang sampai hari kiamat tidak akan dapat diperbaiki !”. Kaum dhuafa dan orang-orang miskin sangat sedih atas wafatnya Umar karena bagi mereka Umar adalah ayah dan saudara yang menjadi tempat berlindung mereka.

Saat itu Imam Ali bin Abi Thalib melihat jasadnya Umar, Imam Ali berkata : “Semoga Allah dengan segala kemulian-Nya melimpahkan rahmat padamu, Abu Hafsah ! Tidak ada orang yang lebih saya cintai setelah Nabi Muhammad SAW daripada anda. Demi Allah, tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih kudambakan akan memperoleh rahmat Allah daripada orang yang kini yang sedang terbujur berseumbungkan baju ini.”

Umar dimandikan dan dikafani dengan tiga lapis kain, selanjutanya dibawa ke Masjid dan disalatkan oleh Shuaib RA Setelah itu mereka mengusung jenazah itu sampai ke depan pintu rumah Sayyidah Aisyah RA saat itu Abdulah bin Umar berkata : “Umar bin Khattab meminta izin untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya (Nabi Muhammad SAw dan Abu Bakar Ash-Shiddiq)”. Dijawab oleh Sayyidah Aisyah : “Masuklah dengan selamat.”

Jenazah itu diturunkan ke tempat peraduan terakhir. Kepala Abu Bakar Ash-Shiddiq ditempatkan di bagian bahu Nabi dan kepala Umar RA di bagian bahu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Yang turun bersama-sama adalah kelima anggota majelis syura yaitu : Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Zubair bi Awwam semoga Allah senantiasa meridai mereka. Sedangkan Talhah bin Ubaidillah masih berada di luar kota Madinah sehingga tidak dapat hadir.

Selesai menguburkan dan menimbun liang lahad, orang-orang yang berada di dekat tempat itu berkumpul di Masjid dengan kesedihan mendalam mencekam kalbu. Banyak orang yang masih teringat pada hari ia ditikam. Mereka bertanya-tanya, apa motivasi Abu Lu’lu’ah sampai melakukan perbuatan sekeji itu ?

Sebenarnya orang-orang Persia, Yahudi dan Nasrani waktu itu menyimpan dendam besar kepada orang Arab umumnya, lebih-lebih lagi kepada Umar. Setelah kaum Muslimin mengalahkan Persia dan Romawi, oleh karena itu Umar RA pernah melarang orang-orang asing kafir memasuki Madinah.

Ubaidillah bin Umar Membalas Dendam Kematian Ayahnya 

Setelah peristiwa pembunuhan itu, Abdurrahman bin Auf RA melihat pisau yang membunuh Umar RA dan ia berkata : “Saya lihat pisau ini kemarin di tangan Hormuzan dan Jufainah, saya bertanya untuk apa pisau itu ? Mereka mengatakan untuk memotong daging.”

Selanjutnya Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata : “Waktu Abu Lu’lu’ah membunuh Umar, saya melihat rupanya Hormuzan dan Jufainah mengadakan pertemuan rahasia.”

Mendengar kesaksian Abdurrahman bin Auf dan Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ubaidillah bin Umar RA seluruh dunia terasa sudah berlumuran darah. Timbul kesan dihatinya bahwa semua orang asing di Madinah telah ikut berkomplot dan semua tangan mereka sudah mengucurkan darah kejahatan. 

Ubaidillah bin Umar kemudian membunuh Hormuzan dan Jufainah, tidak puas dengan itu ia juga membunuh anak perempuan Abu Lu’lu’ah yang masih kecil yang mengaku Islam. Selanjutnya ia ingin bunuh semua orang asing yang kafir di Madinah. Tindakan Ubaidillah sudah di luar hukum sehingga para sahabat senior memutuskan menangkap Ubaidillah dan menajatuhkan hukuman pidana kepadanya.

Majelis Syura Bersidang

Tiba saatnya Majelis Syura bersidang untuk memutuskan siapa pengganti Umar bin Khattab RA Abdurrahman bin Auf  mengundurkan diri sebagai calon pengganti kepemimpinan Umar dan perhatiannya hanya tertuju untuk mempersatukan kaum Muslimin. 

Abdurrahman bin Auf menemui semua sahabat Nabi dan perwira militer serta pemuka-pemuka masyarakat untuk ditanyai siapa yang pantas menggantikan Umar. 
Mereka mayoritas menjawab yang pantas adalah Utsman bin Affan.

Selanjutnya, diadakan majelis syura seusai shalat Subuh di Masjid. Abdurrahman bin Auf memanggil Imam Ali bin Abi Thalib dan memegang tangannya dan berkata : “Bersediakah Anda saya baiat atas dasar Kitabullah dan Sunnah serta perangai kedua orang penggantinya ? Ali menjawab : Saya harap dapat berbuat dan bekerja apa yang saya ketahui dan perbuat. Tangan Ali dilepaskan dan Utsman ditanya apakah ia bersedia di baiat. Usman bin Affan ditanyai hal yang sama. Utsman bin Affan menjawab : Ya, Demi Allah.

Abdurrahman bin Auf kemudian memilih Utsman bin Affan sebagai pengganti Umar. Pengangkatan Utsman bin Affan sebagai Khalifah awalnya tidak disetujui Imam Ali bin Abi Thalib dan menganggapnya Abdurrahman bin Auf melakukan tipu muslihat karena Utsman bin Affan saudaranya. Setelah pembaiatan Utsman bin Affan duduk di samping Masjid dan mengadili Ubaidillah bin Umar.

Utsman bin Affan bertanya pada para sahabat apakah Ubaidillah akan dihukum mati atas tindakannya ? Sahabat dari kalangan Anshar meminta ia dihukum mati namun sahabat kaum Muhajirin meminta ia dibebaskan dan hanya membayar Diat (denda). Akhirnya disepakati Ubaidilah bin Umar tidak dihukum mati namun dihukum membayar Diat dengan pertimbangan hukum bahwa keluarga Umar sedang berduka dan tidak ingin menambah kedukaan lagi pada keluarga Umar bin Khattab.

Sumber : Umar bin Khattab karya Dr. Muhammad Husain Haekal dari Mesir.

Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال