Filsafat Cinta dan Valentine Day

Filsafat cinta dan Valentine Day


KULIAHALISLAM.COM - Apakah cinta itu? Banyak yang sepakat bahwa cinta sulit didefinisikan, oleh karena cinta berhubungan dengan emosi, bukan dengan intelektual. Cinta yang asli itu seperti waktu yang tidak bisa dibagi-bagi (Dr. Fahrudin Faiz dalam Kanal YouTube MJS Colombo).

Jadi cinta itu seperti waktu menurut Augustinus, apakah waktu itu jika tak seorangpun mengajukan pertanyaan maka aku tahu, tetapi jika seseorang mengajukan pertanyaan dan aku mau memberi jawaban maka aku tidak tahu lagi. Jadi sulit didefinisikan cinta itu.

Sama dengan cinta, waktu juga sulit didefinisikan, apakah waktu itu, jam ? Kalender ? Menit ? Detik ? Tahun ? Waktu makan? Waktu pacaran ?

Tugas utama filsafat adalah clarifying concept yaitu memperjelas konsep. Jadi menurut filsuf apakah cinta itu, ini bukan satu-satunya pengertian cinta. Ada banyak pengertian cinta tinggal di cari saja sendiri. Materi ini juga kompilasi dari beberapa sumber.

Bagi Plato, Cinta adalah sebuah kekuatan, sebuah penggerak bagi jiwa untuk selalu mengarah pada Sang Idea. Di dunia, jiwa manusia adalah pengembara yang berjalan untuk kembali kepada Sang Idea. Jiwa manusia adalah itu yang selalu terhubung pada Dunia Idea. Jiwa manusia tak pernah berhenti mencari Sang Idea agar ia dapat kembali ada kesatuan asalinya. Mengapa? Karena dari sanalah jiwa manusia yang abadi itu berasal.

Bagi Gabriel Marcel mengatakan bahwa memahami Cinta adalah sebuah kemustahilan. Tak mungkin manusia dapat memahami Cinta. Cinta bukanlah objek yang dapat dengan mudah dikaji. Cinta adalah misteri.

Level-Level Cinta

Ada jenjang cinta dengan menggunakan teori cinta Ilahiyah, cuma jenjang-jenjang teori ini di gunakan sebenarnya untuk cinta Ilahiyah cinta kepada Allah SWT atau disebut dengan Mahabbah. 

Yang pertama, Al Ilaqah, yaitu fase cinta paling awal ketika orang merasa terikat dan merasa tergantung. Fase awal ini ketika kamu jatuh cinta dan wajahnya selalu terbayang. Mau makan ingat kamu, mau tidur ingat kamu. Cinta Al Ilaqah kalau di gunakan untuk Ilahiyah maka fase dimana kita tergantung kepada Allah SWT. 

Terus cinta yang paling dalam lagi Al Iradah, fase ini melebih Al Ilaqah dan lebih semakin dalam. Dan sudah mulai mengatakan hanya engkau yang aku inginkan. Al Iradah itu artinya keinginan. Dan lebih dalam lagi namanya Ash Shababah yaitu ketercurahan. Jiwa lahir bantin hanya ku curahkan pada-Nya.

Dan lebih dalam lagi Al Gharam. Al Gharam itu artinya menyala, level ini adalah hidup dan hanya demi untuk cinta, karena cintanya menyala terus. Lebih dalam lagi namanya cinta Al Widad yang akan menjadi Mawadah artinya adalah kelembutan, yaitu cinta yang tulus tidak ada pamrih.

Lebih dalam lagi namanya cinta Asy Syaghaf ini adalah cinta yang mendarah daging. Ketika kisah majikanya Nabi Yusuf itu jatuh cinta dengan Nabi Yusuf itu istilahnya "Qad Syaghafahaa Hubban" jadi sudah segalanya hanya untuk dia.

Lebih dalam lagi adalah cinta Al Isyg yaitu cinta yang memabukan, tidak tahu kanan kiri lagi pokok semua tidak penting, dunia hanya milik kita berdua. Al Isyg adalah rindu, kapanpun dimana pun hanya engkau yang kurindu.

Lebih dalam lagi cinta At Tayammum, perendahan diri, Tayammum itu kamu tunduk takhluk kepadaNya, disuruh apa pun mau. Lebih dalam dari At Tayammum adalah At Taabud, kalau Taabud itu tidak perlu disuruh apa pun kebutuhanya sudah layani.

Dan puncak adalah Al Khullah, kalau sudah Al Khullah kemana-mana sudah berdua saja tidak ada aku tanpa mu kita harus bareng. Silahkan kalian merenungkan sendiri level cinta kalian sedalam mana. 

Keberadaan cinta akan mendorong jiwa untuk mengetahui hakikatnya dan membuatnya rindu untuk mengenal penciptanya. Cinta akan bertambah jika iman seseorang bertambah. Semakin sempurna jiwa sesorang maka akan sempurna cintanya kepada Allah. 

Cinta kepada Allah akan mengangkat perasaan manusia ke tingkat yang tinggi. Sebab, pemilik perasaan tersebut akan mengubahnya menjadi lemah lembut, ridha dan tentram. 

Jika cinta telah mengisi hati, maka dia akan mengeluarkan semua kepahitan dari kehidupan dunia yang fana ini, pemiliknya akan hidup dengan baik dan nikmat, dan kecemasan tidak akan memiliki jalan lagi untuk memasuki hidupnya. Rasa cinta merupakan fitrah dalam jiwa yang suci. 

Dalil-Dalil Tentang Cinta

Dalil yang menunjukan cinta Allah terhadap hambaNya dan cinta hamba kepada Tuhanya sangatlah banyak. Allah berfirman:

“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya”(QS. Al-Maidah:54).

“Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”(QS.Al-Baqarah:165).

Diriwayatkan dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “ada tiga hal yang dengannya seseorang akan merasakan manisnya iman: 1.Hendaklah Allah dan Roasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya. 2. Hendaklah dia mencintai seseorang hanya karena Allah. 3.Hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana dia benci untuk di masukan ke dalam neraka.”(HR.Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda:

Artinya: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintai fulan. Maka cintailah dia.” Dan Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah mencintai fulan. Maka cintailah dia.” Dan penduduk langit pun mencintainya. Lalu dia akan diterima di bumi.” (HR. Bukhori)

Dalam Al-Quran dan Hadis banya sekali yang dijelaskan kriteria hamba Allah yang di cintai-Nya, dan tentang apa saja perbuatan, perkataan dan akhlak yang dicintai-Nya. 

Seperti dalam Surat Al-Imron:143 “ Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar”. 

Atau dalam Surat Al-Maidah: 93, “Dan Allah mencintai orang-orang yang baik”. Dan masih banyak lagi ayat Al-Quran maupuun hadits yang menjelaskannya.

Pada hakikatnya, Islam adalah amal, taklif dan hukumhukum. Adapun rohnya adalah Cinta. Amal tanpa dibarengi dengan cinta sama seperti jasad yang tidak bernyawa.

Sejarah Valentine 

Dalam situs Muhammadiyah.or.id di tuliskan 2 sejarah tentang perayaan Valentine Day. Budaya valentine menurut sejarah yang pertama tentang memperingati pendeta Santo Valentine pada 14 Februari yang di hukum pancung.

Budaya ini bermula pada abad ke-3 M, saat raja Romawi yang bernama Claudius menghukum pancung seorang pendeta bernama Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 269 M. Santo Valentine dihukum pancung karena menikahkan seorang prajurit muda peserta wajib militer kerajaan yang ingin menikah. 

Saat itu, tindakan Santo Valentine dianggap sebagai melawan peraturan kerajaan. Saat itu Claudius sedang getol menghimpun anak muda untuk mau jadi tentara kerajaan guna menakhlukan kerajaan yang lain. Namun hanya sedikit anak muda yang mau jadi prajurit, Caludius berpikir kalau anak muda dilarang menikah maka dia akan suka rela menjadi prajurit kerajaan karena hatinya tidak lagi terpaut dalam keluarga.(Muhammadiyah.or.id, 2021)

Selanjutnya sejarah Valentine berasal dari kisah petugas kerajaan yang menolak jadi prajurit dan akhirnya di hukum. 

Kisahnya ada anak muda biasa yang bernama Valentine yang ditangkap petugas kerajaan karena menolak menjadi prajurit. Saat itu semua laki-laki warga kerajaan Roma diwajibkan menjadi Prajurit Kerajaan dalam waktu tertentu. (semacam Wamil). Dia tidak mau jadi prajurit karena merasa hatinya hanya dipenuhi dengan cinta kasih, dia tidak bisa menjadi prajurit yang bertugas membunuh orang lain. 

Oleh karena itu dia dipenjara dan terus disiksa selama berbulan-bulan supaya tumbuh rasa benci dan hasrat membunuhnya. Namun upaya itu tidak berhasil, akhirnya dia akan dihukum mati pada suatu pagi di tanggal 14 Februari. Pada malam menjelang hukuman mati itu dia menulis surat panjang yang dititipkan kepada petugas penjara. 

Surat itu ditujukan kepada perempuan yang lumpuh dan buta namun sangat dia kasihi. Inti surat itu adalah permintaan maaf karena tidak bisa lagi mengurus dirinya. Konon siapapun yang membaca atau mendengar orang membaca surat itu pasti akan menitikkan air mata dan terguncang semua saraf cinta kasihnya(Muhammadiyah.or.id, 2021)

Pendapat Muhammadiyah tentang Valentine

Asal mula budaya Valentine sendiri juga sangat simpang siur. Ada yang mengatakan bersumber dari tradisi suatu agama tertentu namun ada pula yang mengatakan budaya ini tidak ada kaitannya dengan agama apapun.

inti dari Valentine adalah mengistimewakan satu hari tertentu untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang yang dikasihi. Islam tidak pernah mengkhususkan hari dan tanggal tertentu untuk menunjukan rasa kasih sayang kita kapada sesama. 

Islam malah mewajibkan umatnya untuk merayakan hari cinta kasih itu setiap hari dan setiap saat. Bukankah di dalam Islam ada tuntuntan untuk memulai segala sesuatu dengan mengucap kalimat basmallah, bismillahirahmirrahim yang berarti dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.

Cara menunjukan kasih sayang di dalam Islam adalah tidak dengan cara berkasih-kasihan antar sesama anak muda. Karena cara berkasih-kasihan dan berpacar-pacaran seperti yang dilakukan kebanyakan anak muda sekarang ini adalah perbuatan yang dekat dengan dosa zina. Dalam hal ini dengan sangat jelas Allah sudah berfirman:

 “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Al-Isra’ayat 32)

Kesimpulan, Valentine Day adalah perayaan yang sangat dekat dengan zina yang dilarang keras oleh Islam oleh karenanya perayaan yang demikian juga dihukumi haram. Akan tetapi tentu tidak cukup kalau hanya mengutuk dan mencaci anak-anak belia kita yang mengikuti hal ini, karena sebenarnya mereka adalah korban dari hantaman gelombang budaya sesat dan jahiliyah itu. 

Daripada sibuk mengutuk dan memberikan dalil-dalil agama yang mungkin tidak mereka mengerti, tampaknya kita lebih baik selalu memberi mereka nasehat dengan cara yang ma’ruf, memberi pengertian secara perlahan namun ajeg, serta memberi contoh yang nyata dalam menunjukan rasa cinta dan kasih sayang kita kepada sesama manusia. (Dilansir dari situs Muhammadiyah.or.id). Wallahu a’lam bishowwab.

Adis Setiawan

Editor di Kuliah Al Islam

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال