Sejarah Sayyidah Maryam Berdasarkan Riwayat Ibnu Katsir

Ilustrasi Sayyidah Maryam Gambar dari https://m.oase.id

Sejarah Sayyidah Maryam berdasarkan riwayat Ibnu Katsir - Muhammad bin Ishaq berkata nama Maryam secara lengkap adalah Maryam binti Imran ibn Basyim ibn Amun ibn Misya ibn Hizqiya ibn Ahriq ibn Maustim ibn Aziziya ibn Amshiya ibn Yawusy ibn Ahrihu ibn Yazim ibn Yahazyath ibn Isya ibn Aban ibn Rahba’am ibn Nabi Daud.

Ayah Sayyidah Maryam adalah Imran, seorang ahli ibadah dari kalangan bani Israil. Adapun ibunya adalah Hannah binti Faqud ibn Qabil. Nabi Zakaria adalah suami bibinya Sayyidah Maryam bernama Asy-Ya’. Muhamad ibn Ishaq menyebutkan bahwa Ibunya Sayyidah Maryam tidak hamil. Suatu hari, ia melihat burung yang sedang memberi makan anaknya, kemudian ia berkeinginan untuk memiliki anak.

Ia bernazar kepada Allah SWT bahwasanya jika hamil, ia akan menjadikan anaknya orang saleh yang mengabadikan diri di Baitul Maqdis. Allah SWT mengabulkan doanya. Dan ia mengandung dan melahirkan yang diberi nama ‘Maryam” alaihis salam

Allah SWT berfirman : "Lalu ketika istri Imran melahirkan anaknya, ia pun berkata “ Ya Tuhanku, sesungguhnya Aku melahirkan seorang anak perempuan dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu" (Q.S Al-Imran: 36).

Ini menjadi pelajaran bagi para orangtua jika telah memiliki anak maka sejak bayi harus dibuat rencana tentang masa depannya dan rencana mendidiknya agar menjadi Saleh. Kemudian, dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “ Tidak ada seorang bayipun yang dilahirkan melainkan setan menjamahnya pada saat kelahiran itu sehingga si bayi menangis keras karena jamahan setan padanya, kecuali Maryam dan putranya Isa.”

Kebutuhan Maryam Ditanggung oleh Nabi Zakaria

Allah berfirmanLalu Tuhannya menerimanya sebagai nazar dengan penerimaan yang baik dan Allah menjadikan Nabi Zakaria sebagai pemeliharanya (Q.S Al-Imran 37). Banyak ahli tafsir menyebutkan bahwa ketika Hannah melahirkan Maryam, ia memelihara Maryam di masa kecilnya, setelah itu  dibawanya pergi ke Baitul Maqdis. 

Selanjutnya, Maryam diasuh dan didik oleh Nabi Zakaria. Allah berfirman “Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan disisinya. Nabi Zakaria berkata “Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan ini ? Maryam menjawab : Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan”, (QS Ali-Imran: 37).

Para ahli tafsir berkata, kemudian Zakaria membawa Maryam ke suatu tempat yang mulia di Baitul Maqdis. Tempat itu khusus disediakan untuk Maryam, selain Maryam tidak boleh ada yang masuk ke tempat itu. Di tempat itulah Maryam beribadah kepada Allah baik siang maupun malam sehingga ia menjadi figur yang layak diteladani oleh kalangan bani Israil.

Ketika Nabi Zakaria memasuki ruangan tempat ibadah Maryam, Nabi Zakaria mendapati di kamar itu berbagai jenis buah. Buah-buahan yang tersedia bukan pada musimnya. Zakaria bertanya “Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh makanan ini ?”, Maryam menjawab : "Makanan itu dianugerahkan Allah kepadaku. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakinya tanpa perhitungan."

Pada saat itulah, Nabi Zakaria berkeinginan untuk mempunyai seorang anak meskipun telah lanjut usia. Allah berfirman “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi engaku, seorang anak yang baik. Sesungguhnya engkau Maha Pendengar doa”, (QS Ali-Imran: 38).

Allah Mengangkat Derajat Sayyidah Maryam

Dalam Q.S Ali-Imran 42-51, Allah menyebutkan bahwa Malaikat telah menyampaikan kabar gembira kepada Maryam bahwa Allah telah memilihnya sebagai wanita pilihan di antara wanita sedunia. Allah memilih ia untuk mengandung seseorang anak tanpa ayah dan tanpa disentuh laki-laki manapun.

Malaikat Jibril juga menyampaikan bahwa anaknya yang lahir nanti diangkat sebagai Nabi yang mulia. Maryam sangat terkejut dengan berita gembira bahwa Allah telah memilihnya. Kemudian Jibril memberitahukan pada Maryam bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa. 

Apabila Dia berkehendak menjadikan sesuatu, cukup bagi-Nya dengan mengatakan kepadanya “jadilah” maka terjadilah ia. Maryam mengetahui bahwa peristiwa itu merupakan ujian yang besar baginya. Masyarakat pasti akan membicarakan tentang dirinya karena mereka tidak mengetahui persoalaan sebenarnya.

Di dalam Injil Matius disebutkan bahwa pada waktu Maria bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami-istri. Malaikat Tuhan mendatangi Yusuf dalam mimpi dan berkata “Yusuf anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau menamakan dia Yesus karena dialah yang menyelamatkan umatnya dari dosa. Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya tetapi tidak menggauli istrinya sampai ia melahirkan Yesus.

Sedangkan dalam Injil Lukas disebutkan bahwa dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 

Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. 

Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus  akan turun atasmu  dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi  akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."  

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Dalam Al Kitab terjadi perbedaan sejarah lahirnya Nabi Isa alahis salam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

 وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا 

“Kalau sekiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [an-Nisâ’/4:82]. 

Maryam Menjalani Masa Kehamilan

Setelah proses peniupan ruh itu, Maryam terpaksa pergi menjauh dari masyarakat karena ia sangat gelisah, jika masyarakat luas mengetahui kehamilannya maka mereka akan menuduh Siti Maryam yang bukan-bukan.

Muhammad bin Ishaq berkata, ketika Maryam mengisolasi diri, telah tersebar kabar dikalangan Bani Israil tentang kehamilan Maryam padahal tidak ada seorangpun yang mengetahui kabar tersebut kecuali hanya Nabi Zakaria. 

Akhirnya Bani Israil menuduh Yusuf ibn Yaqub an-Najjar, putra pamannya Maryam yang telah menzinai Maryam. Yusuf ibn Yaqub yang merupakan ahli ibadah dikalangan Bani Israil pun pergi dan menjauh dari masyarakat Bani Israil karena tuduhan tersebut. 

Lahirnya Isa Putra Maryam

Rasa sakit akan melahirkan anak memaksa Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma, Maryam berkata “Oh, seandainya Aku mati sebelum ini dan menjadi seseorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan" (Q.S Maryam: 23).

Jibril berseru kepadanya dari tempat yang rendah “Janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dbawahmu, goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu niscaya pohon kurma itu akan menjatuhkan buah yang masak kepadamu" (Q.S Maryam: 24-25).

Amar ibn Maimun (Wafat 145 H) berkata “Tidak ada suatu makanan yang tepat bagi wanita yang sedang nifas setelah melahirkan selain makanan berupa kurma."

Kapan Nabi Isa Dilahirkan ? Alqur’an maupun Injil tidak menyebutkan secara jelas kapan waktu Nabi Isa dilahirkan. Sebagian Ulama menyebutkan Nabi Isa dilahirkan pada musim dingin. Dionysius Exiguus, pendeta ahli matematika abad 6 Masehi meragukan bahwa Nabi Isa dilahirkan pada tahun 1 Masehi. Ada juga berpendapat Nabi Isa lahir tahun 6-7 Masehi.

Maryam Kembali Dengan Membawa Seorang Bayi

Kemudian Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata “Wahai Maryam. Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah penzina (QS Maryam: 27-28).

Maryam menunjuk bayinya agar mereka bertanya kepadanya. Mereka berkata “Bagaimana mungkin kami berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan ? Nabi Isa berkata “Sesungguhnya Aku adalah hamba Allah. Dia akan memberiku Kitab Injil dan menjadikan Aku seorang Nabi. Dia menjadikan Aku seorang yang diberkahi di mana saja Aku berada dan memerintahkan kepadaku untuk melaksanakan Shalat serta menunaikan Zakat."

"Dan berbakti kepada ibuku serta tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali" (QS Maryam: 30-33).

Sumber : 
  1. Al-Qur’an.
  2. Injil Perjanjian Baru terbitan The Gideons Internasional.
  3. Tafsir Ibnu Katsir.
  4. Sejarah Para Nabi (Qashash al-Anbiya) karya Ibnu Katsir.
  5. Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus karya Dr. Rauf Syalabi (Dosen Al-Azhar, Mesir), terbitan Pustaka Al-Kautsar.
  6. Sejarah Perbandingan Agama Kristen karya Prof. Ali Ashalabi.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال