Benarkah Taliban Telah Berubah ??

Malala Yousafzai korban kekerasan Taliban ( Sumber gambar : Suara.com)
Oleh : Rabiul Rahman Purba, SH

KULIAHALISLAM.COM — Taliban artinya adalah penuntut Ilmu. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang dipersiakan (Iran) dalam bentuk jamak. Pada tanggal 26-27 September 1966, ibu kota Kabul telah dikepung kekuatan bersenjata yang menyebut dirinya sebagai Taliban.

Presiden Afghanistan yaitu Najibullah yang beraliran komunis mati tergantung di lapangan Ariana. Taliban juga mengeluarkan aturan yang melumpuhkan aktivitas ibu kota Kabul.

Mereka memerintahkan kaum wanita harus memakai Burqa (pakaian yang menutup seluruh badan), laki-laki wajib memanjangkan jenggot, melarang segala bentuk musik, melarang main layang-layang, melarang memelihara burung di rumah, melarang main catur, jika melanggar maka akan ditangkap dan dihukum keras.

Taliban dan Pakistan

Taliban didukung oleh Pakistan yang saat itu dipimpin Benazir Bhutto (Wanita lulusan Universitas Oxford dan Harvard). Tempat munculnya Taliban tidak diketahui secara pasti. 

Sebagian besar Taliban adalah anak-anak jihad yang melawan Uni Soviet. Sebagian besar mereka dilahirkan di kemah-kemah pengungsi di Pakistan, belajar di madrasah-madrasah Pakistan, belajar keterampilan perang dari partai-partai Mujahidin Afghanistan yang bermarkas di Pakistan. 

Banyak dari Taliban mengantongi kartu identitas Pakistan. Pada saat pertempuran berkecamuk antara Soviet dan Mujahidin, Taliban masih sangat muda untuk terjun ke gelanggang pertempuran. 

Namun setelah Kabul tumbang ke Mujahidin, pasukan Taliban muda ini berharap perang segera usai dan mereka bisa kembali ke keluarganya yang tinggal di kemah-kemah pengungsian di Kota Balochistan atau Provinsi selatan Afghanistan. 

Di Balochistan, Jamiat Ulema e Islam mendirikan Madrasah untuk menempa pemuda-pemuda Taliban mempelajari Alquran dan hukum-hukum Islam. 

Disinilah pemuda-pemuda Taliban banyak terpengaruh Kabalisme (penekanan yang terlampau berlebihan). Taliban yang cakupan pengalamannya sangat terbatas dalam melihat dunia luar ditambah lagi mereka di bawah para Mullah (Ulama) yang juga sangat minim wawasannya dengan sangat gampang menjadi pengikut Jamiat Ulema e Islam yang fanatik.  

Tahun 1993, Jamiat Ulema e Islam memenangkan pemilu, bersama Partai Rakyat Pakistan, pimpinan Benazir Bhutto. Kemenangan pemilu ini, membuat Jamiat Ulema e Islam membuka koridor baru untuk membangun angkatan bersenjata di Pakistan. 

Benazir Bhutto memanfaatkan kekuatan bersenjata Jamiat Ulema e Islam untuk menghancurkan oposisi pemerintahannya. Jamiat Ulema e Islam memanfaatkan pemuda Taliban utuk memperbesar pengaruhnya.

Maulana Fazlur Rehman menjadi Ketua Majelis Nasional Komite Luar Negeri Pakistan dan Pemimpin Jamiat Ulema e Islam, Ia mengunjungi ibu kota Washington, Amerika. Dan ibu kota negara-negara Eropa untuk melobi agar mereka mendukung Taliban. 

Maulana Fazlur Rehman berhasil membuat Saudi Arabia memberikan bantuan militer dan penyokong utama dana ke Taliban. 
Pengaruh Pakistan yang tak kalah besarnya terhadap Taliban adalah mafia transportasi penyelundupan barang-barang terlarang yang bermarkas di Quetta dan Chaman di Provinsi Balochistan. 

Mafia yang berada di Quetta-Chaman mendanai Taliban dengan baik. Taliban mengumpulkan 150.000 U.S Dollar/hari, tidak hanya itu sejak 1996, para penyelundup heroin membayar zakat dan pajak sebanyak 10% dari penghasilan mereka pada Taliban. 

Taliban melarang mengkonsumsi obat terlarang namun pemasukan mereka dari situ sebab mereka berpendapat yang diharamkan Islam hanya mengkonsumsinya.

Bagaimana Taliban Menjadi Sebuah Kekuatan Militer

Tentang munculnya Taliban dari Madrasah Pakistan di wilayah Balochistan sudah jelas yang membingungkan dari mana asal usul bangkitnya gerakan ini. 

Secara taktik, Taliban operasinya dengan sangat fleksibel bertumpu pada efisiensi komunikasi dan komando serta jaringan kontrol. Taliban mengadakan operasi di malam hari. 

Kemenangan Taliban yang sangat menentukan bukan hanya tergantung pada semangat tempur mereka namun karena Taliban memiliki intelejen yang ditugaskan mengawasi tempat, lancarnya suplai bahan makanan serta gerak cepat penyerbuannya. 

Seluruh daerah yang ditaklukannya berada dalam kondisi yang menyedihkan, rakyat hidup tanpa hukum dan anarkis, pelayanan sekolah terhenti.
 

Sistem Tribal Masyarakat Afghanistan

Masyarakat Afghanistan dijuluki sebagai masyarakat “Tribal” (kesukuaan). Etnis-etnis utama dalam konflik Afghanistan yang pertama adalah Pusthun. Taliban termasuk dalam etnis Pusthun yang mendiami wilayah Selatan dan Timur Afghanistan.

Yang Kedua adalah etnis Tajik, Tajik adalah etnis terbesar di Afghanistan, yang ketiga yaitu etnis Hazara yang mayoritas mereka adalah Syiah Itsna ‘Asyariah dan Syiah Ismailiyah. 

Etnis Hazara merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad saw Etnis Hazara, Tajik tidak menyukai etnis Pusthun. Dan Etnis yang keempat adalah etnis Uzbek, etnis Uzbek ini berbicara dengan bahasa Turki dan mendiami wilayah Utara Afghanistan.

Tribalisme dan etnisitas sering kali dikutuk karena dianggap sebagai faktor yang menggiring pada sengketa, perang, dan hancurnya tatanan negara.

Taliban dan Ikhwanul Muslimin

Kebangkitan Taliban sangat berhubungan erat dengan keseimbangan kekuatan dan evolusi di antara gerakan-gerakan Fundamentalis. Pada saat kelompok Hizbi Islam didukung oleh Partai Jamaah Islami Pakistan, Taliban didukung oleh kaum Fundamentalis yang lebih konservatif dari Pakistan yaitu Jamiat Ulema e Islam. 

Pakistan ingin menebarkan pengaruh yang kuat di Asia Tengah dengan membangun kebijakannya melalui Afghanistan. Taliban tidak memiliki kebijakan luar negeri. Aliansi strategis mereka hanyalah dengan Pakistan. 

Kemudian, Taliban merupakan gerakan murni Afghanistan yang digunakan Pakistan sebagai instrument dengan tujuan mereka sejak invasi Soviet adalah menjadikan Afghanistan sebagai negara boneka dengan cara memainkan kartu etnis Pusthun dan Fundamentalis. 

Disisi lain, Taliban adalah kelompok konservatif yang sangat anti Barat sebagaimana juga para Islamis. 

Mereka mengakui warisan Islam dengan menolak menyerahkan atau bahkan mengusir para Islam Militan yang masih di Afghanistan seperti Osama bin Laden, namun mereka juga sangat anti Syiah. 

Taliban juga anti budaya Barat tetapi memiliki strategi melawan budaya Barat. Masalah utama Taliban adalah bahwa mereka menafsirkan sesuatu sesuai dengan tafsirannya sendiri. Mereka tidak menghendaki seorang Raja atau Presiden  karena mereka memiliki Amirul Mukminin. 

Mereka melarang mengkonsumsi obat terlarang namun mereka membolehkan penanamannya dan mereka mengharamkan minum Khamar, namun jual beli khamar mereka bolehkan. Tentu ini jauh dari Syariat Islam.

Di Afghanistan tidak ada Ulama dan Pemimpin yang handal walaupun gerakan Islamis Afghanistan dianggap merupakan anak kandung dari Ikhwanul Muslimin Mesir dan Jamaah Islami Pakistan. 

Burhanuddin Rabbani pernah belajar di Universitas Al-Azhar, tempat dimana mereka terlibat dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Namun kalau kita melihat pemikiran Islam dari Ikhwanul Muslimin seperti Yusuf Qaradawi dan Imam Hasan al-Banna maka gerakan Taliban tidak sesuai pemikiran Islam organisasi Ikhwanul Muslimin atau pemahaman Islam manapun.

Masa Depan Afghanistan Di Bawah Taliban

Taliban kini berhasil menguasai Afghanistan. Taliban berhasil menguasai Afghanistan tanpa adanya pertumpahan darah dari masyarakat sipil dan Taliban juga tidak melakukan kudeta berdarah. Hal ini tentu sangat menarik dari kacamata politik. Apakah menandakan Taliban telah berubah ? Sejarahlah yang akan membuktikannya.

Afghanistan selama ini menjadi boneka Amerika karena pemerintahan dan negaranya diintervensi Barat. Amerika mengeruk kekayaan minyak Afghanistan .

Dengan adanya pemerintahan yang baru dari Taliban diharapkan Afghanistan benar-benar menjadi negara yang berdaulat serta sistem Tribal selama ini dapat terhapus untuk itu Taliban perlu mengadakan dialog dengan kepala suku-suku di Afghanistan. 

Jika Taliban gagal mengadakan hubungan damai dengan etnis di Afghanistan maka konsekuensinya akan terjadi perang saudara dan pertumpahan darah seperti di Libya.

Selain itu, hal yang menarik dari Taliban saat ini adalah mereka mengumumkan akan menghormati hak-hak perempuan dan mereka melakukan diplomasi ke sejumlah negara di dunia.

Hal ini tentu sangat mengejutkan sebab Taliban era 90-an adalah kelompok yang tidak handal dalam berpolitik secara internasional dan menginjak hak-hak kaum perempuan. Malala Yaosafzai adalah salah satu contoh pejuang pendidikan di Afghanistan yang dibunuh Taliban.

Taliban selama ini dikenal dunia sebagai konservatif karena mereka terisolasi dengan dunia luar. Perubahan cara pandang Taliban terhadap perempuan bisa jadi disebabkan tokoh-tokoh Taliban telah membuka diri dengan dunia internasional atau karena pencitraan untuk membangun citra yang baik dihadapan dunia.

Selanjutnya, Taliban menyatakan akan mendirikan Negara Emirat Islam namun sebenarnya bukan itu yang diharapkan masyarakat Afghanistan dan dunia Islam, yang diharapkan adalah Afghanistan bisa menjadi negara mandiri dan mengelola kekayaan alamnya sendiri.

Taliban tidak akan mampu mendirikan negara Emirat Islam sebab negara Emirat Islam tidak akan menjalin kerjasama dengan negara yang memusuhi Islam dan menindas etnis Muslim Uighur. 

Kemudian, semua negara-negara Islam harus mewaspadai bangkitnya gerakan konservatif Islam atau puritan serta mewaspadai pengungsi dari Afghanistan yang bisa jadi disusupi pemikiran konservatif dan ekstremis. 

Satu hal yang ingin saya tegaskan adalah Islam tidak mengajarkan konservatif, kekerasan maupun penindasan. Siapapun yang mengatas namakan Islam namun menebarkan kerusakan maka ia sesungguhnya anjing-anjing Neraka. Semoga Allah senantiasa melindungi rakyat Afghanistan dan menjadikan negaranya berdaulat kembali. 

Penulis adalah Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia (STH-YNI), Pematangsiantar

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال