Apa Yang di Maksud Israiliyyat ?


Penulis: Hilwa Aqila Salsabila*

Sering kita mendengar istilah israiliyyat. Istilah israiliyat sejatinya merupakan sebuah istilah yang sudah familiar, yang sangat populer dalam kajian tafsir Alqur’an. 

Seorang guru besar dalam ilmu tafsir Alquran di Universitas Al-Azhar mesir yang bernama Muhammad Abu Syahibah bahkan berkaitan dengan kajian seputar israiliyat beliau menulis satu buku yang diberi judul al-israiliyyat wal maudhuat fi kutubittafsir. 

Kurang lebih buku tersebut membahas seputar riwayat-riwayat israiliyyat dan riwayat-riwayat maudhuat yang ada dalam kitab-kitab tafsir. 

Berbicara seputar israiliyat tentunya tidak bisa dilepaskan dengan yang sering kita dengar dengan istilah bani israil, karena memang israiliyat identik dengan bani Israil. 

Bani Israil yang kalau kita terjemahkan kurang lebih anak cucu israil, karena israil itu sendiri sebenarnya merupakan nama yang dimiliki oleh Nabi Ya'kub AS. Israil yang berarti Abdullah atau hamba Allah. 

Alquran sering menyeru bani Israil seperti dalam ayat 40 surat Al-Baqarah. Satu dari sekian banyak redaksi Alquran dimana Allah menyeru mereka anak cucu Nabi Ya'kub AS. 

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ

Artinya: 

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu.” 

Allah menyeru bani Israil dalam ayat ini sebagimana seruan yang kita temui dalam banyak redaksi ayat Alqur’an. Allah sering menyeru bani Israil di dalam Alqur’an karena paling tidak ada 2 alasan yaitu: 

1. Sebuah penghormatan bagi mereka karena mereka adalah cucu manusia pilihan yaitu Nabi Ya'kub AS, 

2. Mendorong mereka agar mereka komitmen dengan apa yang menjadi perintah Allah atas mereka dan apa yang menjadi larangan Allah atas mereka. 

Diharapkan mereka berada di garis terdepan dalam menjalankan syariat-syariat Allah yang sudah di syariatkan atas mereka. 

Istilah israiliyat dalam kajian tafsir Alqur’an identik dengan bani Israil. Komunitas bani Israil sering disebut juga dengan komunitas yahudi. 

Mereka dari kalangan yahudi yang mengimani Nabi Isa ketika Nabi Isa diutus menjadi seorang rasul komunitas mereka yang mengimani Nabi Isa disebut dengan nasrani sebagaimana dari kalangan mereka anak cucu Nabi Ya’kub yg mengimani Nabi Muhammad setelah Nabi Muhammad diutus komunitas mereka disebut muslim ahlul kitab. 

Israiliyyat sejatinya merupakan kumpulan sumber pengetahuan agama yang dimiliki anak cucu Nabi Ya'kub baik dari kalangan yahudi, nasrani maupun dari kalangan muslim ahlul kitab. 

Israiliyat ini dalam kajian tafsir Alqur’an sejatinya sudah masuk semenjak zaman sahabat. Israiliyat dijadikan sebagai kajian dari referensi dalam menafsirkan Alqur’an sejak zaman sahabat karena memang ada persamaan antara Alqur’an pada satu sisi dengan Taurat dan Injil pada sisi yang lain dalam pemaparan sejumlah kisah. 

Ada kesamaan satu kisah sebagaimana dikisahkan oleh Alqur’an juga dikisahkan oleh Taurat dan Injil. Perbedaannya dalam kisah tersebut Alqur’an sering sekali memaparkannya hanya dalam sebuah pemaparan yang sifatnya masih global, tidak dengan Taurat dan Injil. 

Pada kisah tersebut, Taurat dan Injil sering sekali memaparkannya dalam sebuah pemaparan yang detail dan rinci. Keingintahuan para sahabat akan rincian dalam sebuah kisah yang oleh Alqur’an hanya dikisahkan secara global inilah yang mendorong para sahabat untuk mencari tahu dari kalangan mereka para muslim ahlul kitab. 

Meskipun kisah israiliyyat kerap kali dinukil oleh sahabat dan juga sejumlah tabi’in, namun kisah israiliyyat masih diragukan kebenarannya. Sebagian dari kisah israiliyyat dianggap shahih, tetapi sebagian yang lain dianggap lemah atau dhaif karena bertentangan dengan ajaran Islam. 

Oleh karena itu, umat Islam diharuskan mempelajari lebih lanjut mengenai kisah israiliyyat sebelum hendak meriwayatkannya. Pada dasarnya, meriwayatkan kisah israiliyyat hukumnya adalah boleh, selama masih masuk ke dalam koridor sunnah. 

Jika kisah israiliyyat dibenarkan dalam syariat Islam, maka umat Islam wajib untuk meyakininya. Namun jika kisah israiliyyat tersebut bertentangan, maka harus di tolak dan diharamkan untuk meriwayatkannya, kecuali untuk menerangkan letak kesalahannya. 

Sedangkan terdapat juga kisah israiliyyat yang didiamkan oleh syariat Islam, tidak dihukumi apapun, baik di hukumi benar atau bertentangan. Kisah israiliyyat yang masuk dalam kategori ini boleh diriwayatkan, karena sebagian besar kisah yang di riwayatkan itu kembali kepada masalah cerita dan berita, bukan kepada masalah akidah dan hukum.

Sumber Rujukan:

Kajian Dr. H. Yusuf Baihaqi, Lc., M.A, Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Raden Intan Lampung.

*) Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال