Menggali Makna Tema Muktamar Muhammadiyah Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta

Menggali Makna Tema Muktamar Muhammadiyah Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta 

KULIAHALISLAM.COM - Setelah Nahdliyin merayakan pergantian ketua umum beberapa bulan lalu, kini Muhammadiyah yang merayakan pesta demokrasi diselenggarakan di Edutorium UMS, Solo Sabtu (19/11/22) bersamaan dengan Aisyiyah. 
Ini merupakan sesuatu yang luar biasa dengan memenuhi kaderisasi yang hebat hingga masa-masa generasi selanjutnya. Muhammadiyah dikenal mempunyai cendekiawan terkemuka mulai nasional sampai internasional sekalipun. 

Dan banyak para pemikir yang turut ikut andil dalam muktamar Muhammdiyah yang tak bisa disebutkan satu persatu. Saya sangat terkesan tema yang diusung oleh Muhammadiyah dengan mengangkat tema “memajukan Indonesia, mencerahkan semesta”. 

Yang beberapa hari lalu sempat mewarnai jagat platform “Indonesia cinta damai”. Gagasan ini sangat mengesankan mengingat Muhammadiyah yang mempunyai target membumikan kemanusiaan. Dan selaras oleh K.H Ahmad Dahlan “Kasih sayang dan toleransi adalah kartu identitas orang Islam” (Instagram @lensamu). 

Tentu hal ini juga disemarakkan yang menjunjung tinggi nilai moderasi agama yang kerap sekali diabaikan kaum-kaum kanan, dan netral. Sangat disayangkan bukan?. Padahal Islam itu rahmatallil’alamin yang sudah diutarakan oleh ketua PP Aisyiyah yang mengatakan dalam pidatonya pembukaan Muktamar;

“Memajukan kemanusiaan adalah bentuk kewajiban kita sebagai umat Islam, dan Islam adalah agama yang penuh rahmat, rahmatalill’alaim, serta menjunjung rasa kedamaian dan cinta”. 

Bila kita pahami tema Muhammadiyah tersebut, kita akan benar-benar paham Pancasila seutuhnya. karena landasan “mencerahkan semesta” menurut saya mengambarkan hubbul wathon minal iman atau Bahasa Indonesiannya mencintai negara adalah sebagaian dari iman. 

Atau alm. Buya Syafi’I menyebutnya Keindonesiaan. Sudah lama sekali tak terdengar mengenal istilah Keindonesiaan ditelinga kita. Seperti dalam surat saba ayat 15 yang menerangkan pentingnya bersyukur:

 “ لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ 

 “Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Rasa beryukur inilah yang seharusnya kita terapkan dengan sama-sama menguatkan bahwa kita patut bangga tinggal di Indonesia. seperti halnya tema Muhammadiyah pentingnya nilai-nilai Keindonesiaan dengan penuh kasih sayang sesama ciptaan Allah SWT. 

Dengan begitu, kita merasa tentram adem serta mampu memberi kemanfaatan kepada sesama manusia. jelas ini wajib kita tuangkan ke generasi muda bahwa nasionalisme adalah rasa yang mampu memberikan pengaruh positif kepada masyarakat. melalui perbedaan-perbedaan yang tak usah diributkan sama sekali Dan selaras dengan Qur'an surat Al-Hujurat ayat:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Semakin kemanusiaan terus disemarakkan, semakin pula manusia sadar atas seutuhnya. kesadaran inilah yang mulai kita renungkan sebagai kaum islam seutuhnya. Nabi Muhammad SAW pun sudah mencotohkannya dengan mengendong kaum yahudi tua buta. 

Yang mana kaum buta itu selalu menyeruakan kebencian kepada nabi Muhammad SAW. Tapi apa yang kita pikirkan? Nabi pun merawatnya hingga meninggal dunia. Dan yahudi tua buta itu menanyakkan kepada Abu Bakar AS hingga ia masuk Islam berkat kelembutan nabi Muhammad SAW merawatnya. 

Pertanyaannya adalah apakah kita tidak malu kepada Nabi Muhmmad sebagai umatnya? Kalau masih ngaku-ngaku kembalinya Qur’an dan hadits, harus merasa sadar tentang kasih sayah Nabi Muhammad yang tidak bisa disebutkan satu-satu sekalipun. 

Sekaligus ini adalah cerminan sebagai umat Islam tentang memaknai dakwah dengan kelembutan. Kekerasan tak akan menyelesaikan permasalahan, walau itu benar. Kesantunanlah yang mampu mengabungkan antara baik dan buruknya. 

Tema Muhammadiyah tersebut menyeluruh antara laki-laki dan Muhammadiyah bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai visi sama. Yakni memanusiakan manusia, tanpa membeda-bedakan suku, budaya, dan agama.

Ahmad Zuhdy Alkhariri

Mahasiswa universitas Raden Mas Said Surakarta. Pernah suatu di UKM LPM Dinamika. Pegiat kajian sosial, politik dan keagamaan. Saat ini tinggal di Sukoharjo

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال