Kontribusi Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan

 

(Sumber Gambar: Redaksi Kuliah Al-Islam)

Oleh: Fitratul Akbar

KULIAHALISLAM.COM - Sejarah telah membuktikan, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tidak terbantahkan, bahkan banyak yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan bermula dari dunia islam yang kemudian mengalami transmisi (penyebaran) dan proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya dunia Barat dilanda dark ages (masa kegelapan) sehingga muncul zaman enlightenment (yang cerah) di Eropa. Melalui dunia Islam mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern sebagaimana di ungkapkan Gore Barton bahwa, “Orang-orang Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tidak merujuk sepenuhnya kepada sumber-sumber Yunani melainkan kepada sumber-sumber Arab”.

Pada abad ke 12, merupakan peradaban Islam yang tertinggi dari sepanjang tahun sebelumnya sehingga banyak buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat karangan para ahli dan filsuf muslim diterjemahkan kedalam bahasa Eropa, di masa ini selain tercatat sebagai prestasi tertinggi yang pernah di raih umat islam, juga tercatat sebagai masa awal kemunduran umat islam sedangkan di Barat mulai gemilang dengan kesadaran dan perhatian bangsa Barat terhadap ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku hasil karya cendekiawan muslim hingga akhirnya membuat pola perubahan kiblat pengetahuan dari yang sebelumnya berkiblat kepada peradaban Islam menjadi berkiblat kepada peradaban Barat yang sampai zaman sekarang cukup terasa. 

Selain itu, islam juga hadir di tengah kerasnya peradaban Jahiliyyah di Jazirah Arab sehingga mampu merubah peradaban Jahiliyyah yang ada di Jazirah Arab saat itu, maka dalam perspektif historis Islam sudah banyak memainkan peran yang signifikan dalam perkembangan beberapa aspek peradaban dunia. Mulai dari masa kenabian sampai dengan wafatnya Rasulullah saw perkembangan dan pemikiran peradaban Islam pun terus mengalami berbagai varian berupa metode, dan kerangka berpikir yang berbeda. Bahkan dalam catatan sejarah, bahwa misi ekspansi umat islam semata-mata tidak hanya untuk mengambil keuntungan materi sebanyak-banyaknya dari daerah-daerah yang telah di kuasai, melainkan mewujudkan keadilan, serta ikut membangun dan memajukan peradaban yang ada, maka pemerintahan kerajaan islam sangat terkesan toleran terhadap budaya-budaya lokal yang ada.

Gustaye Lebon seorang Orientalis Barat mengatakan bahwa, “Orang-orang Arab-lah yang membuat kita memiliki peradaban selama lebih kurang 6 (enam) abad, memang kemajuan peradaban kita saat ini tidak lepas dari kerja keras para Ilmuwan dan Cendekiawan Muslim, bahkan mereka para ilmuwan muslim sering di juluki sebagai pelopor lahirnya peradaban dunia, sebab mereka telah mampu mengembangkan peradaban Yunani kuno kepada peradaban yang lebih elegan dan maju”. Tidak hanya itu, mereka juga mengembangkan pola pikir dan kecerdasan insan manusia sehingga menemukan berbagai macam ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Maka tidak mengherankan apabila banyak kalangan ilmuwan Barat yang mengatakan bahwa, “Ilmuwan muslim memegang peranan penting bahkan merupakan donator kemajuan peradaban dunia. Misalnya pada abad ke 12 dan ke 13, di bidang filsafat dan sains banyak karya ilmuwan-ilmuwan muslim yang di terjemahkan kedalam bahasa Barat termasuk ke dalam bahasa Spanyol sehingga masyarakat Barat semakin cerdas, sebab pada masa ini para ilmuwan muslim sangat menguasai metode dan teori-teori penelitian dan eksperimen membuat ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat saat ini”.

Dari uraian sumbangsih ilmuwan-ilmuwan muslim, mulai ilmu agama sampai kepada ilmu pengetahuan alam dari dini terlihat bahwa islam sangat berjasa dalam rangka menyatukan akal dengan alam, menetapkan kemandirian akal, menetapkan keberadaan hukum alam yang pasti atas kehendak Allah swt, serta telah mampu mendamaikan akal dengan iman dan filsafat dengan agama sedangkan bangsa Barat masih mebuat stereotip yang memisahkan antara akal dan iman serta filsafat dengan agama. Bahkan di dunia ilmu hukum, hukum islam juga tidak dapat di bantahkan turut serta memberikan kontribusi dalam pembentukkan dan perkembangan hukum di zaman modern saat ini.

Modernitas dengan ilmu sebagai tiang penyangga pokok pun pada gilirannya berbelok meninggalkan misi dasarnya –misi pembebasan- dengan metamorphosis ke arah saintisme. Dengan perkembangan itu ilmu mengegser dirinya sebagai pandangan dunia (worldview) yang secara ideologis mengalirkan kuasa hegemonic. Seiring dengan makin meluasnya modernistas, bangsa-bangsa Timur pun menderita hegemoni itu. Malahan, “doktrin” hegemonic Barat pernah menyebut komunitas non-Barat sebagai “dunia sisa” dan hubungan Barat adalah hubungan kekuatan, dominasi, hubungan berbagai derajat hegemoni yang kompleks.

Dalam pandangan islam sendiri ilmu tidak hanya menonjolkan sudut pandang yang khusus dari mana kaum muslim memandang ilmu,(Lahire, 1960: 120-121). Akan tetapi juga menekankan keharusan yang mendesak untuk mencari ilmu. Seperti yang diketahui perintah Allah Swt yang pertama kepada Nabi Muhammad saw melalui wahyu yang di terimanya adalah “bacaan dengan (menyebut) nama Allah”. Dan dari sudut pandang islam itulah, membaca bukan hanya pintu menuju ilmu, akan tetapi juga cara untuk mengetahui dan menyadari Allah. Al-qur’an mewajibkan kaum muslimin menundukkan kekuatan-kekuatan alam untuk kebaikan ilmu murni dan terapan. Dari pandangan tersebut ilmu mempunyai dua tujuan, yakni tujuan Ilahi dan tujuan duniawi. Ilmu berfungsi sebagai pertanda Allah, sebab orang yang mempelajari alam dan proses-prosesnya dengan seksama dan mendalam akan menjumpai banyak kasus yang menunjuk kepada tangan yang tidak tampak, yang menimba dan mengawasi semua kejadian di dunia. Tangan itu adalah tangan yang maha kuasa dan maha tau. Dari tujuan duniawi ilmu adalah untuk memungkinkan seseorang hidup dengan berhasil dan dengan efektif dengan jalan memahami alam, baik yang fisis dan psikis, dan jalan memanfaatkan ilmu itu untuk kemaslahatan para individu dan masyarakat (c.a. qadir, 1991: 16).

Pertentangan itu terjadi bukan hanya antara agama dan ilmu pengetahuan, tapi juga antara agama dan ideology yang dihasilkan oleh pemikiran modrn yang erat hubungannya dengan kemajuan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Semua ini menimbulkan nilai nilai baru yang tidak sedikit dia antaranya bertentangan dengan nilai nilai lama yang dipertahankan oleh agama. Dampak lebih jauh dari pertentangan ini terutama di dunia yang sedang berkembang termasuk Negara kita Indonesia yang masih mencari cari atau memantapkan identitasnya dapat menimbulkan instabilitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejauh ini di zaman modern ilmu mengalami banyak perubahan yang signifikan (Juhji, 2019), sedang agama bergerak dengan lamban sekali, karena itu terjadi ketidak harmonisan antara agama dan ilmu pengetahuan serta teknologi. Dalam Ensiklopedi Agama dan Filsafat dijelaskan bahwa Islam adalah agama Allah yang diperintahkan-Nya untuk mengajarkan tentang pokok-pokok serta peraturan-peraturannya kepada Nabi Muhammad Saw. dan menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut kepada seluruh manusia dengan mengajak mereka untuk memeluknya. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap ilmu (sains) (Baso Hasyim, 2013: 127-139).

Suatu keniscayaan yang nampak jelas dalam dunia modern yang telah maju, hal ini adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagiaan orang dalam hidup. Dibalik kemajuan ilmu, pandangan dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri; tapi pada saat yang sama, kita juga melihat umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil-hasil ciptaannya itu (Kuntowijoyo, 2004: 119).

Pandangan Islam terhadap Ilmu

Ilmu pengetahuan dalam pandangan islam tidak bertolak belakang secara menyeluruh dengan ilmu pengetahuan di Barat. Ada segi-segi tertentu yang merupakan titik persamaan dan perbedaannya. Titik persamaan antara keduanya itu menunjukkan, bahwa keberadaannya diterima secara universal. Masih pandangan Mujamil, indera diakui oleh islam sebagai salah satu media mendapatkan pengetahuan (Mujamil Qomar, 2005: 125). Sementara Ihwal Shafa menegaskan, bahwa sesungguhnya seluruh pengetahuan di usahakan, sedangkan dasar usahanya itu adalah penginderaan. Sementara itu, objek pemikiran yang ada pada akal bukanlah sesuatu tanpa ada lambang-lambang yang dapat di indera. Namun, dalam keadaan kemampuan manusia untuk mengumpulkan fakta terbatas, di samping pancaindera dapat keliru dalam melakukan pengamatan, maka kebenaran ilmiah pun selalu dapat salah satu keliru. Bersamaan dengan itu fakta atau data pun tidak selamanya menampakkan diri sebagaimana ada sebenarnya (Alfons Taryadi, 1989: 167-168).

Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk melakukan research dan bereksperimen dalam hal apapun (Hasbullah, 2018), termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini, dianugerahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pandangan Islam terhadap ilmu dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS. Al-Isra:1-5).

Sedangkan mengenai persepsi ajaran Islam terhadap ilmu pengetahuan perlu dikembangkan berdasarkan pada beberapa hal yaitu: Pertama, ilmu pengetahuan dalam Islam dikembangkan dalam kerangka tauhid atau teologi. Yaitu teologi yang bukan semata-mata meyakini adanya Tuhan dalam hati, mengucapkannya dengan lisan dan mengamalkannya dengan tingkah laku. Kedua, ilmu pengetahuan dalam Islam hendaknya dikembnagkan dalam rangka bertakwa dan beribadah kepada Allah Swt, hal ini penting ditegaskan karena dorongan Al-Qur`an untuk mempelajari fenomena alam dan sosial tampak kurang diperhatikan, sebagai akibat dan dakwah Islam yang semula lebih tertuju untuk memperoleh keselamatan di Akhirat. Ketiga, ilmu pengetahuan harus dikembangkan oleh orang-orang Islam yang memiliki keseimbangan antra kecerdasan akal, kecerdasan emosional dan spiritual yang di imbangi dengan kesungguhan untuk beribadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya. Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi dalam sejarah di abad klasik, di mana para ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan adalah pribadi-pribadi yang senantiasa taat beribadah kepada Allah Swt. Keempat, Ilmu pengetahuan harus dikembangkan dalam kerangka yang integral, yakni bahwa antara ilmu agama dan ilmu umum walaupun bentuk formalnya berbeda-beda, namun hakekatnya sama, yaitu sama-sama sebagai tanda kekuasaan Allah. 

 

Dengan pandangan yang demikian itu, maka tidak ada lagi perasaan yang lebih unggul antara satu dan lainnya. Menerapkan ke-empat macam prinsip di atas, akan diperoleh manfaat mengatasi krisis kehidupan pada masyarakat modern.

Fitratul Akbar

Penulis adalah Alumnus Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Pegiat Isu-isu Filantropi Islam dan Perdamaian Dunia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال