In Memoriam KH. Syarfuddin Abdusshomad

KULIAHALISLAM.COM - KH. Syarfuddin Abdusshomad adalah sosok Kiai, alumni pesantren Guluk-Guluk Sumenep, yang cukup terkenal keulamaannya. Intelektualitas dan keulamaannya sudah tidak diragukan lagi.


Lebih dari itu, Kiai Syarfuddin merupakan sosok Kiai yang memiliki segudang aktivitas yang cukup padat. Bahkan sampai usianya menginjak 70-an tahun, beliau merupakan Kiai dengan mobilitas aktivitas yang sangat padat tinggi. Dan yang patut dicontoh adalah, beliau Kiai Syarfuddin selalu menyelesaikan semua urusan-urusannya secara tuntas, rapi serta terstruktur.

Kiai Syarfuddin bukan tipikal Kiai yang suka menjauh dari masyarakat, melainkan Kiai yang mudah bergaul dengan semua golongan, baik dari masyarakat kecil bawah hingga pejabat politik papan atas, dari yang kelas ekonomi bawah hingga ekonomi kelas kapitalisme.

Tak hanya itu, pribadinya cukup akomodatif dan selalu hadir kalau diundang siapa saja yang mengundangnya. Karena prinsip beliau adalah demi kepentingan umat, dan hidup adalah untuk berjuang. Berbuat baik kepada sesama, dalam hal ini jangan sampai pilah-pilih orang. Bahwa semuanya adalah sama rata.

Hemat saya, empat karakter pokok Kiai Syarfuddin yang patut diteladani oleh alumni dan santri-santrinya yaitu: pertama, sosok pemberani dan amanah. Kedua, tegas dalam menolak dan melawan kedzaliman. Ketiga, merakyat (sosialis), dan keempat, adalah keberpihakan kepada masyarakat, terlebih keberpihakannya pada kaum mustad’afin (lemah dan tertindas).

Hal lain yang tidak boleh dikesampingkan adalah, keikhlasan beliau dalam mentransformasikan ilmu kepada santri-santrinya telah melahirkan ulama-ulama besar seperti, Kiai Dhamiri, Kiai Hasan Basri, Kiai Miftahul Arifin, dan Kiai-kiai lainnya.

Kepada Kiai Dhamiri, saya belajar ilmu tajwid; bagaimana membaca Al-Qur’an dengan makhrajil huruf yang benar. Kepada Kiai Hasan Basri, saya belajar gramatikal Bahasa Arab; dari kitab matan al-Jurmiyah dan Sharraf hingga kitab rakasasa seperti Ibnu Aqil. Sementara pada Kiai Miftahul Arifin, saya belajar ilmu tauhid dan ilmu fikih; dari kitab-kitab kecil seperti al-Mabadi al-Fiqh hingga kitab Fathul Mu’in.

Syahdan, suatu waktu Saya dan sepupu saya Saidun pernah dipanggil untuk pijat beliau. Dalam hal ini, beliau manggil kami bukan hanya untuk suruh pijat saja, melainkan beliau bermaksud untuk mengetes kami. 

Dan ini adalah cara samar dan halus beliau ketika ngetes kami berdua. Memang, kebiasaan beliau Kiai Syarfuddin, selalu menguji dan mengetes kepada santri-santrinya, terlebih pada santri yang sudah melanjutkan jenjang pendidikan seperti, mondok ke Pesantren Sukorejo, Nurul Jadid, Sidogiri, dan pesantren-pesantren lainnya. Sontak saja beliau langsung membaca pepatah Arab:

سلي إن جهلت الناس عنا وعنهم فليس سواء عالم وجهول

“Coba di i’rab, terus dikasih makna serta apa maksudnya?”, tanya dan suruh beliau pada kami berdua sembari tersenyum.

Satu persatu, dari i’rabnya, makna dan maksudnya (murad) kami jawab berdua sampai tuntas. Saya masih ingat betul saat meng-i’rab kalimat diatas, maklum waktu itu sambil lalu kami tulis:

سلي إن جهلت الناس عنا وعنهم فليس سواء عالم وجهول: سلي: فعل أمر مبني على حذف النون، والياء: ضمير متصل مبني في محل رفع فاعل. إن: حرف شرط جازم. جهلت: فعل ماض مبني على السكون، والتاء: ضمير متصل مبني في محل رفع فاعل، وهو فعل الشرط. وجواب الشرط محذوف يدل عليه ما سبق، تقديره: "إن جهلت فاسألي". الناس: مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة. عنا: حرف جر، و"نا": ضمير متصل مبني في محل جر بحرف الجر: والجار والمجرور متعلقان بـ"سلي". وعنهم: الواو حرف عطف، و"عن":حرف جر، و"هم": ضمير في محل جر بحرف الجر معطوف على "عنا". فليس: الفاء حرف استئناف، "ليس": فعل ماض ناقص. سواء: خبر "ليس" منصوب بالفتحة الظاهرة. عالم: اسم "ليس" مرفوع بالضمة الظاهرة. وجهول: الواو حرف عطف، "جهول": معطوف على "عالم" مرفوع بالضمةالظاهرة. وجملة "سلي الناس" ابتدائية لا محل لها من الإعراب. وجملة "إن جهلت" اعتراضية لا محل لها من الإعراب. وجملة: "ليس سواء عالم وجهول" استئنافية لا محل لها من الإعراب. الشاهد فيه قوله: "ليس سواء عالم وجهول" حيث قدم خبر "ليس" وهو "سواء" على اسمها، وهو "عالم".

Namun demikian, kata Kiai Syarfuddin, yang terpenting dalam memberikan arti dan makna apapun jangan asal-asalan, tapi bagaimanapun harus mampu mencari secara detail makna hakiki dan batinnya. Lalu Kiai Syarfuddin mengutip perkataan Ibnu Arabi dalam kitabnya Tarjuman Aswaq:

فاصرف الخاطر عن ظاهرها واطلب الباطن حتى تعلما

Artinya: “Palingkan pandanganmu dari tekstualnya, dan carilah makna batinnya dari teks itu hingga engkau mendapatkan pesan yang benar”.

Kenapa demikian, sambung Kiai Syarfuddin, karena فاذا عرف السبب تعين المراد “jika orang mengetahui latarbelakang sejarah teks (historis teks), secara otomatis ia akan mengetahui apa maksudnya.” الجهل بالسبب مقيع في الاشكلت “Ketidakmengertian seseorang atas latarbelakang dan kehadiran sebuah teks, maka akan terperangkap dalam situasi problematik untuk dapat memahami teks dengan detai dan benar.”

Yang jelas, konsekuensi dari kegagalan memahami itu semua, bisa menjadi bencana besar bagi kehidupan sosial dan kemanusiaan. “Begitu juga misalnya dalam memahami Bukhari Muslim, kita butuh kajian sosio-historis, tidak bisa hanya dengan ngeplek nerjemah begitu saja.” imbuhnya.

Kita tahu bahwa, Al-Qur’an sendiri banyak berbicara tentang sejarah dan mendorong kaum muslimin untuk mempelajari sejarah. Karena itu, tak heran bila literatur sejarah berkembang pesat dalam peradaban Islam. Ada sejarah tentang peri kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad SAW (sirah), sejarah para sahabat, para ulama, para khulafa’, bahkan sejarah tasyri’ (tentang legislasi hukum dalam Islam).

Masih tentang Kiai Syarfuddin. Menurutnya, Pesantren adalah lautan tak bertepi, sumur tanpa dasar yang tak pernah habis dikaji dan diarungi, khususnya di Nusantara ini. Kitab kuning sebagai warisan para ulama klasik dari berbagai penjuru dunia, sekian disiplin intelektual dan khazanah spiritual dengan berbagai mazhab, menyatu dan berpadu dengan kearifan tradisi khas Indonesia di Pesantren.

Karena itu, kekhasan Islam Indonesia adalah Pesantren, bukan yang lain. Dan apapun itu, Pesantren adalah matahari dalam sistem tata surya kehidupan dan keindonesiaan. Bahwa dalam jagad galaksi kehidupan yang lebih luas ini masih terdapat banyak sekali matahari-matahari yang lain, tentu hal itu tidak membuat matahari bernama Pesantren menjadi redup dan padam. Secara tidak langsung ini adalah wasiat (pesan) pada kami berdua bahwa, agar nanti anak cucu harus mondok di Pesantren.

Karuan saja, sepupu saya, Saidun bertanya, “Mbah, kira-kira apa yang harus kami lakukan berdua dipondok supaya kuat hafalan dan ingatan?” tanya Saidun dengan nada sopan.

Spontan Mbah, Kiai Syarfuddin menjawab dengan mengutip cerita Imam Syafi’i yang mengadu pada gurunya yaitu al-Waki’:

شَكَوتُ إِلى وَكيعٍ سوءَ حِفظي# فَأَرشَدَني إِلى تَركِ المَعاصي

وَأَخبَرَني بِأَنَّ العِلمَ نورٌ # وَنورُ اللَهِ لا يُهدى لِعاصي

Artinya:“Aku pernah mengadu kepada guruku al-Waki’ tentang buruknya hafalanku. Kemudian beliau memberi pengarahan kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan juga mengabarkan bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat”.

Demikian cara Mbah, Kiai Syarfuddin, dalam menguji dan mengetes kami. Dari persoalan ilmu tajwid, sharraf-i’lal, nahwu-i’rab, hingga persoalan ilmu-ilmu fikih dan tauhid. Sebagai akhir dari tulisan ini, semoga apa yang Kiai Syarfuddin torehkan, mampu diteruskan perjuangannya oleh kita generasi saat ini, dan generasi masa yang akan datang sebagai bentuk kecintaan kita kepada Islam dan Negeri Indonesia. Selamat jalan, Mbah. Allah merahmatimu, Insyaallah.

Salman Akif Faylasuf

Salman Akif Faylasuf. Alumni Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di Ponpes Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال