Citayam Fashion Week Dan Tantangan Dakwah Generasi Muda

KULIAHALISLAM.COM - Fenomena Citayam Fashion Week menjadi perbincangan publik hari ini. Sebuah fenomena pasca covid-19 yang tak disangka-sangka akan booming dan heboh seperti sekarang. 

Dimulai dari kebiasaan segelintir remaja yang berasal dari daerah satelit di sekitar Jakarta yakni Citayam dan Bojong Gede Kabupaten Bogor, nongkrong di kawasan Dukuh Atas Jalan Sudirman, fenomena Citayam Fashion Week menjadi sorotan nasional bahkan dunia. 

Kawasan Dukuh Atas Sudirman Lokasi Citayam Fashion Week (detik.com)

Pada mulanya konten kreator tiktok mewawancara pasangan muda-mudi Citayam dan Bojong Gede. Salah satu pasangan yang diwawancarai adalah Nadia dan Tegar. Perilaku mereka yang lucu dan menggemaskan membuatnya viral tidak hanya di tiktok, namun menyebar ke media sosial lainnya. 

Semakin banyak pasangan yang diwawancarai, bertemulah dengan Bonge-Kurma dan Jeje-Roy. Hari ini Bonge, Jeje dan Roy menjadi ikon utama dari Citayam Fashion Week. Beberapa akun medsos seperti Jakarta Keras mulai menyoroti apa yang terjadi di kawasan Dukuh Atas. Terlihatlah gambaran betapa banyak anak Citayam dan Bojong Gede dengan style yang fashionable beraktivitas di sana, 

Muncul sebuah ungkapan yakni Citayam Fashion Week untuk menggambarkan aktivitas mereka. Judul ini adalah inisiatif dari warganet, walau sekarang dicoba untuk dipatenkan oleh Baim Wong dan Indigo. 

Viralnya Citayam Fashion Week membuat banyak kalangan ingin turut bergabung dan meramaikannya. Tak hanya itu, masyarakat umum juga penasaran ingin melihatnya. Diserbulah kawasan Dukuh Atas oleh youtuber, artis, anak-anak Jaksel dan anak gaul dari daerah lainnya. 

Bahkan pejabat publik seperti Gubernur DKI Jakarta dan Jawa Barat turut numpang eksis dalam perhelatan non formal tersebut. 

Para pedagang di sana seperti penjual kopi dan makanan keliling mendapat keuntungan dan rezeki dari Citayam Fashion Week. Disinyalir omset mereka mencapai Rp400.000 per harinya. 

Tantangan Dakwah Generasi Muda

Di luar dari viralnya fenomena CFW, namun tetap ada persoalan yang mesti kita lihat secara lebih kritis. Yakni masih banyaknya problem sosial yang ada di masyarakat. 

Ajaran Islam sebagai agama yang memiliki misi dakwah mesti responsif terhadap persoalan ini. Berdasarkan QS. Ali Imran: 104, ada dua langkah utama dalam dakwah: Menyeru Kepada Al Khair dan Amar Makruf Nahi Munkar. 

Yang dimaksud dengan Al Khair adalah Al Qur'an dan Sunnah serta ajaran Islam lainnya yang terdapat dalam khazanah para ulama. Sedangkan Amar Makruf Nahi Munkar adalah upaya kita untuk menegakkan norma yang ada dalam masyarakat. 

Perbedaannya, menyeru kepada Al Khair itu mengajak orang untuk menjadi pribadi yang tak hanya baik secara norma dan moral sosial, melainkan juga baik menurut ajaran Islam. Misalnya taat beribadah, berakidah secara benar dll. 

Sedangkan Amar Makruf Nahi Munkar adalah menyuruh masyarakat agar mematuhi norma-norma sosial yang diterima suatu masyarakat secara universal, termasuk di dalamnya kearifan lokal. Norma-norma sosial ini tentu saja sejalan juga dengan ajaran agama, hanya sifatnya lebih universal. 

Contoh sederhananya begini, jika kita menyuruh keluarga kita untuk shalat agar masuk surga, kita sedang menyeru kepada al khair. Namun jika kita menyuruh anak kita belajar agar hidupnya sukses, kita sedang melakukan amar makruf. 

Shalat sebagai ajaran Islam itu lebih ekslusif, maka termasuk Al Khair. Sedangkan belajar itu adalah aktivitas yang dianggap baik secara norma universal, maka termasuk ke dalam al makruf. 

Dalam konteks Citayam Fashion Week, maka tugas para dai, mubaligh atau ormas Islam adalah dua hal tadi. 

Bisa saja kita mengajak para penikmat Citayam Fashion Week untuk lebih kenal dan mengerti agama. Bahkan berhijrah. Ini termasuk dalam menyeru kepada Al Khair. 

Namun jikalau perlu proses agar mereka menjadi religius, minimal kita bisa mengajak mereka kepada kebaikan yang lebih universal. 

Contohnya adalah bagaimana para anak-anak SCBD (Sudirman, Citayam, Bojong Gede dan Depok) ini lebih sadar dan melek pendidikan. 

Dalam sebuah video youtube, diceritakan bahwa Bonge ikon CFW hanya menamatkan pendidikan sampai kelas 3 SD. Jauh dari program pemerintah Wajib Belajar 12 Tahun yang dicanangkan pada tahun 2015. 

Dengan kesuksesannya hari ini, orang tua Bonge tetap ingin anaknya melanjutkan pendidikan. Alasannya ketenaran sifatnya hanya sementara, esok lusa bisa saja hilang. Namun pendidikan adalah investasi seumur hidup, bisa bermanfaat untuk masa depan. 

Dalam CFW ditemukan juga fenomena anak-anak muda yang bersikap tidak seperti jenis kelaminnya. Jika hal in hanya sekadar gaya saja, namun orientasi seksualnya normal, maka tidak masalah. Namun dikhawatirkan gaya-gaya tidak lazim seperti ini akan mengantar seseorang menuju penyimpangan orientasi seksual seperti homo dan lesbi. 

Hal ini juga menjadi PR dakwah bagi mubalig. Meskipun kabarnya Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta akan menertibkan remaja yang bersikap seperti banci. 

Dakwah Untuk Perubahan Sosial

Merujuk kepada yang dilakukan Rasulullah SAW selama 23 tahun di Mekkah dan Madinah, dakwah Islam tidak semata-mata dilakukan hanya untuk mengubah akidah dan ibadah, namun juga untuk melakukan transformasi sosial. 

Kita bisa bandingkan sistem sosial pra Islam yang tidak adil, menjadi sistem yang berkeadilan pasca risalah Muhammad SAW. Contohnya adalah dihapuskannya riba yang mengeksploitasi rakyat kecil. Dihapuskannya diskriminasi antara hamba sahaya dan majikan. 

Fanatisme kesukuan yang menjadi masalah sosial pada masa jahiliyah juga dihapuskan. Diganti dengan solidaritas keagamaan dan kebangsaan melalui Piagam Madinah. 

Dakwah Rasulullah SAW kepada Tauhid dan Ibadah tak hanya melahirkan kesalehan individu, namun juga perubahan sistem sosial yang lebih baik. Hal ini juga harus diperhatikan oleh mubalig pada masa kini. 

Dalam kasus CFW, dakwah kita hari ini harus bisa memecahkan persoalan-persoalan sosial hari ini. Tingkat pendidikan yang masih rendah, kemiskinan yang masih mudah ditemukan serta akses kesehatan yang masih belum merata. 

Hal-hal tersebut memang kewajiban pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Namun tak ada salahnya umat Islam sebagai masyarakat sipil turut berpartisipasi aktif dalam kerja-kerja pembangunan masyarakat. 

Perlu dipikirkan bagaimana memberikan akses pendidikan yang layak kepada para Pemuda Citayam dan Bojong Gede. Juga menumbuhkan kesadaran keagamaan dan pendidikan mereka. 

Robby Karman

Alumni Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut dan Institut Agama Islam Tazkia Bogor.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال