Bait Suci dan Al Masih : Proyek Penghancuran Al Aqsa

KULIAHALISLAM.COM ‐ Prof. Dr. Herbert Lo (Guru Besar bahasa Hebrew di Universitas Oxford), berkata : Sesungguhnya agama Yahudi itu berdiri di atas dua asas, yaitu Keesaan Allah dengan terpilihnya bangsa Yahudi. Dalam The Outline of History disebutkan  bahwa Tuhan telah menjanjikan kepada Ibrahim akan melebihkan bangsa Yahudi atas segala bangsa-bangsa yang lain.

Dalam kitab Taurat disebutkan bahwa “Akulah Tuhan yang telah memilih kamu dari segala bangsa, padaku kamu menjadi bersih dan suci karena sesungguhnya Aku yang paling suci. Akulah Tuhan dan Aku telah memilih kamu dari seluruh bangsa supaya kamu menjadi penolong Ku.”

Menurut Arthur Herzberg, seorang pakar sejarah dalam bukunya “Judaism” mengatakan : Penyebab bangsa Yahudi menjadi bangsa terpilih adalah tatkala Allah menjelma kepada Musa AS dan Bani Israil di Sinai, ketika itu sempurna perkawinan antara Tuhan dengan Bani Israil, sedang akad nikahnya telah didaftarkan, manakala langit dan bumi menjadi saksi terhadap akad nikah tersebut.

Dari sifat keunggulan ini, timbulah suatu kepercayaan lain dalam akidah Yahudi, yaitu akidah Al Masih yang ditunggu. Orang-orang Yahudi mendapati dirinya bukanlah semulia bangsa manusia, seperti yang diduga banyak orang, ataupun sebagai umat manusia yang terpilih, sebagaimana yang diharapkan. Bahkan mereka tidak pernah merasakan kenikmatan hidup, seperti yang dirasakan bangsa lain. 

Sebaliknya mereka menjadi tumpuan bencana. Sebab itu, pada masa-masa terakhir ini, mereka mengharapkan datangnya seorang penyelamat yang dapat mengangkat mereka dari lembah kehinaan. 

James Hosmer dalam bukunya “The Jews” menyatakan Penyelamat itu, dinamakan Al Masih yang ditungu-tunggu dan ia sebagai utusan langit dan pemimpin yang akan mencurahkan ke atas umat yang terpilih itu segala petunjuk dan pengajarannya sehingga mereka mencapai keunggulan dan kemuliannya.

Guignebert dalam “The Jewish Worldr in the Time of Jesus” menyatakan bahwa Al Masih yang ditunggu-tunggu itu bukanlah seorang manusia biasa, tetapi manusia dari langit, ia menetap di langit hingga saatnya diutus Allah.

Perkataan Al Masih berarti yang disapu dengan minyak berkah, karena mereka menyapukan minyak berkah kepada para Raja, Nabi-Nabi. Arthur Hertzberg menyatakan “Mereka menganggap Al-Masih adalah seorang Raja, penakluk yang menang dari keturunan Daud, mereka percaya Al-Masih akan datang untuk mengembalikan kebesaran Israel dan menyatukan kaum Yahudi di Palestina”.

Dalam Siffir Daniel disebutkan bahwa ide Al-Masih lahir dalam pemikiran Yahudi pada masa belakangan saja. Ide Al Masih ini muncul setelah kejatuhan kerajaan Yahudi dan tertawannya kamu Yahudi oleh Dinasti Babylon, Irak. 

Menurut Abbas Mahmud Al-Aqad menyatakan bahwa para peneliti mempercayai bahwa ide Al Masih sang penyelamat itu dipinjam dari kepercayaan Zoroaster, agama yang dianut oleh orang-orang Parsi.

Masa yang amat panjang telah berlalu, tetapi ternyata Al Masih yang ditungu-tunggu kedatanganya oleh kaum Yahudi itu tidak kunjung datang, maka sebagian Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk mendakwakan dirinya sebagai Al Masih. 

Di negeri Syria, pada abad ke-VIII Masehi, muncul seorang Yahudi yang mengaku dirinya Al Masih dan pada abad yang sama muncul seorang Parsi bernama Abu Isa yang mengaku dirinya sebagai Al Masih di negeri Isfahan serta abad ke-XVII muncul pula seorang Yahudi bernama Sabtay Zevi yang mengklaim sebagai Al Masih.

Bait Suci Pertama dan Al Masih

Charles Foster Kent dalam bukunya “ A History of The Hebrew People” menyatakan 1200 S.M datanglah beberapa kabilah dari Pulau Crete ke arah Pantai yang menjulur ke arah Laut Putih. Kabilah inilah yang dinamakan “Palestina”. Mereka tinggal di antara Jafa dan Ghazza (Gaza), dan 3000 tahun sebelum kedatangan mereka, orang Phoenicia adalah golongan pertama yang hijrah ke situ.
 
Di bagian selatan wilayah itu ada Kabilah Kan’an. Orang-orang Phoenicia dan orang dari kabilah Pulau Crete sera Kabilah Kan’an mengalami percampuran sehingga lahir generasi baru yang berdarah Arab dengan menggunakan dialek Semitik yang kini mereka mendiami wilayah Palestina.

Nabi Daud berhasil membawa orang Yahudi ke Palestina dan menaklukan penduduk di sana, padahal sebelumnya Nabi Musa AS tidak berhasil membawa bani Israil ke Palestina. Nabi Daud membangun pemerintahan yang kuat di Palestina dan menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota. 

Selanjutnya di bawah pemerintahan Nabi Sulaiman putra Nabi Daud, Yerusalem meraih status regional dan luasnya bertambah dua kali lipat. Kerajannya telah memiliki teknologi militer mutakhir dan armada Laut di Teluk Aqabah. Nabi Sulaiman mendapat kehormatan menikahi seorang puteri Fir’aun. 

Selain itu, Nabi Sulaiman juga dikunjungi Ratu Saba di Yaman karen Ia tertarik pada kebijaksanaan Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman atau Solomon berhasil membangun kerajaan yang hebat dan ia membangun istana yang megah. 

Ia membangun Bait Suci yang megah bagi Yahweh (Tuhan), membangun Gedung hutan Lebanon dan Balai Singgahsana yang didalamnya terdapat tahta Nabi Sulaiman yang terbuat dari gading, Istana khusus bagi putri Fir’aun sang istri Nabi Sulaiman yang terpandang.

Bait Suci dirancang oleh perajin dari Tirus dan tampaknya merupakan contoh gaya arsitektur imperial Asyur. Bait suci terdiri atas ruang kebaktian, ruang maha kudus (debir) dan ruang tempat menyimpan Tabut. 

Bait Suci yang dibangun Nabi Sulaiman memberi para peziarah dan penyembah sebuah pengalaman akan Tuhan. Setelah Nabi Sulaiman wafat, kerajaannya yang hebat terpecah menjadi dua yaitu Kerajaan Yehuda dan Israil.

Mereka selalu berperang. Hingga pada akhirnya mereka semua ditaklukan oleh Raja Nebukadnazer dari Babilonia. Ia mengahhancurkan Baith Suci. 

Orang Yahudi mengalami kondisi yang memprihatinkan pada masa Dinasti Babilonia. Pada tahun 539, Raja Koresh berhasil mengalahkan Dinasti Babilonia. Raja Koresh (Cyrus Yang Agung) mengembalikan Yerusalem kepada Yahudi. 

Gambar Makam Raja Cryus di Iran

Ketika orang Yahudi bermukim kembali di Yerusalem, mereka tetap mengalami bencana berupa gagal panen, perekonomian buruk dan kekurangan makanan. Pada tahun 520 SM, Nabi Hagai memberitahukan bahwa kondisi mereka akan pulih jika mereka membangun kembali Bait Suci. 

Bait suci kedua pun dibangun Raja Herodes dan dengan mengangkat Zerubabel dan Yosua sebagai Mesias. 
Tetapi pada tahun 67 M, Roma menyerang Yerusalem dan menghancurkan Bait Suci.

 Selama berabad-abad, Bait Suci berdiri di pusat dunia Yahudi dan bangunan itu memiliki posisi sentral dalam agama Yahudi tetapi setelah Bait Suci itu hancur, ia tidak pernah dibangun kembali.

Setelah Bait Suci hancur, mereka mengalami berbagai macam bencana dan penderitaan singga mereka berharap datangnya Al-Masih menyelamatkan mereka. Weels  dalam bukunya “The Outline of History” berpendapat bahwa ide Al-Masih pada kaum Yahudi itu adalah suatu gejala alami dari berbagai macam gejala yang memang telah ada sebelumnya. Setiap kali mereka ditimpa bencana, mereka selalu memperbaharui cita-cita itu.

Asya’ya menggambarkan Al-Masih yang ditunggu-tunggu itu sebagai berikut : “Dia adalah seorang anak dara yang mengandung dan melahirkan seorang putra. Pada hari itu Tuhan akan mengembalikan kekuasaannya sekali lagi, Dia akan menyanjung panji-panji untuk umat-umat sekalian dan menyatukan Bani Israil dan pengikut Yehuda yang telah berpecah itu dari empat penjuru alam.”

Selain itu dalam Taurah, Tuhan memperingatkan bangsa Yahudi terhadap Al-Masih palsu, disebutkan bahwa "Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang Nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk.

Mari kita mengikuti Allah lain, yang tidak kau kenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab Tuhan, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. 

Tuhan, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap Tuhan, Allahmu.

Yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan—dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan Tuhan, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu." (Ulangan 13:1–5).

Oleh sebab itu, untuk membuktikan Nabi tersebut sebagai Al-Masih maka ia harus dihukum mati jika ia benar-benar Al-Masih maka tidak mungkin mereka dapat membunuhnya. Dari keyakinan itu, Bani Israil banyak melakukan percobaan menghukum mati para Nabi. Nabi Muhammad SAW tidak terlepas dari percobaan pembunuhan tersebut. 

Bait Suci Ketiga dan Rencana Proyek Penghancuran Al Aqsa

Karen Amstrong menyatakan, hingga saat ini tidak diketahui siapa sesungguhnya Al-Masih tersebut, hingga pada akhirnya terjadi Genosida orang-orang Yahudi yang dilakukan oleh tentara Nazi Jerman atau yang disebut peristiwa Holocaust. 

Setelah Perang Dunia berakhir, tokoh-tokoh Yahudi tidak ingin lagi mengalami pengasingan dan penderitaan, mereka kemudian menginginkan sebuah negara yang melindungi seluruh Yahudi mreka menginginkan masuk ke tanah Israel (Eretz Yisrael).

Kenapa harus kembali ke Eretz Yisrael ? sebab dalam Maimonides menulis “Raja Mesias akan bangkit di masa depan dan memulihkan kerajaan Daud kepada keadaan semula dan kekuasaan asal. Ia akan membangun Bait Suci dan mengumpulkan orang-orang Israel yang tersebar”. Jadi, Mesias akan turun jika orang Yahudi kembali dari diaspora menuju Eretz Yisrael. 

Pengumpulan orang Israel buangan ini ke Palestina disebut dengan istilah Kibbutz Galuyot. Untuk mewujudkan ini, maka dilaksanakanlah aliyah (Hijrah) ke tanah Israel. Pada akhirnya berdirilah Negara Israel di Palestina, namun setelah berdiri , cita-cita Mesias itu bukanlah tujuaan utama lagi sebab yang berkuasa di negara Israel adalah golongan Yahudi sekuler, tujuaan mereka bukan untuk misi Taurah bahkan menentang Taurah. 

Sehingga banyak para Rabi Yahudi fundamentalis menentang kebijakan pemerintah negara Israel, puncaknya perlawanan mereka adalah terbunuhnya Perdana Menteri Israel yaitu Yitzak Rabin.
Para Rabi Yahudi berpandangan bahwa Al-Masih akan turun namun bukan karena Yahudi berkumpul seluruhnya di tanah Israel namun tetapi setelah Al-Masih turun dan Ia yang akan menyatukan seluruh orang Yahudi nantinya.

Kubah Batu (Dome of The Rock)



Disisi lain ada golongan Yahudi ekstem ingin mendirikan Bait Suci ketiga secara cepat dengan cara menghancurkan Masjidil Al-Aqsa, diantaranya adalah Yoel Lerner, alumni Massachusetts yang dijebloskan ke penjara setelah berupaya meledakan Masjidil Al-Aqsa, Rabi Meir Yehuda Getz yang berusaha membangun Sinagoge di bawah kawasan Haram dan sebelum tahun 1984, Etzion berupaya meledakan Kubah Batu. 

Gambar : Rancangan Baith Suci Ketiga

Selanjutnya, sebuah kelompok yang menamakan dirinya “Temple of Mount Fatihful” dibentuk di Yerusalem, mereka tidak terlalu religius namun memiliki tujuan untuk menghancurkan kubah Batu dan Masjidil Al-Aqsa, mereka beralasan bahwa Yerusalem telah dibeli Nabi Daud dari orang Yebus.

Tetapi keingianan mereka ditolak oleh sejumlah Rabi Yahudi dan Pejabat Israel sebab hanya Al-Masih yang akan membangun Bait Suci nantinya. Pakar strategi Amerika menyatakan jika Etzion berhasil menghancurkan Kubah Batu maka akan terjadi Perang Dunia ketiga. 

Para Ulama Islam sendiri banyak yang memandang Al-Masih yang ditunggu-tunggu Bani Israil adalah Al-Masih Dajjal yang akan muncul akhir zaman. Demikian tulisan ini dan tidak bermaksud menebar kebencian ataupun anti semit namun ini hanya untuk menambah pengetahuan semata dan telah berdasarkan sumber literatur yang otentik.

1. Karen Amstrong, Yerusalem Satu Kota Tiga Agama, terbitan Mizan.
2. Prof. Ahmad Shalaby, Agama Yahudi, terbitan Bumi Aksara
3. Dan berbagai sumber lainnya.


Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال