Menyikapi “Perbedaan” dalam Kehidupan Bernegara (1)


(Sumber Gambar: Fitratul Akbar)
Oleh: Fitratul Akbar*

KULIAHALISLAM.COM - Konflik sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari karena kita memang ditakdirkan berbeda satu sama lain. Bahkan dalam diri kita sendiri, pada jiwa yang sama, ada perbedaan-perbedaan, ada kontradiksi antara nafsu/kecenderungan untuk berbuat baik dan nafsu/kecenderungan untuk berbuat jahat.

Mengapa kita ditakdirkan berbeda-beda? Al-Qur’an menyebutnya untuk saling mengenal (ta’aruf). Saling mengenal bisa berfungsi untuk saling memahami, saling berempati, dan bisa juga untuk saling berbagi tugas, untuk saling melengkapi. Jika Tuhan menghendaki, bisa saja kita diciptakan sama. Tapi, bisa dibayangkan betapa beku dan membosankannya hidup kita. Tuhan tidak akan berbuat sejahat itu!.

Celakanya, dalam kehidupan sosial politik kita, perbedaan justru lebih sering untuk berbuat jahat. Perbedaan membuat antar sesama untuk menonjolkan diri, dan bahkan untuk merendahkan pihak lain yang berbeda. Padahal, berbeda itu bukan berarti yang satu “lebih” dari yang lain. Dalam semua perbedaan, ada kelebihan masing-masing, tergantung bagaimana cara memerankan dan memfungsikannya.

Perbedaan yang paling rawan adalah dalam soal agama dan kepercayaan (keyakinan). Karena persepsi umum yang dibangun adalah kami benar dan yang lain salah. Kami mulia yang lain hina. Kami selamat dan yang lain tersesat. Kami masuk surga, mereka masuk neraka. Bahkan, yang lebih gawat lagi, hanya kami yang layak hidup, dan mereka harus mati (dibunuh).

Padahal, jika agama diyakini sebagai jalan menuju Tuhan, maka perbedaan itu untuk menunjukkan betapa banyak jalan menuju Tuhan. Kalau kita analogikan dalam kehidupan sehari-hari, jalan itu bisa berupa jalan darat, jalan laut, jalan udara, dan untuk jalan darat bisa juga dalam bentuk rel. Terserah mana yang akan kita pilih. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Hilangnya kesadaran akan peran dan fungsi perbedaan akan menimbulkan benturan dalam kehidupan sosial kita, bahkan hanya disebabkan karena perbedaan persepsi, antar orang perorang, atau antar kelompok, bisa jadi baku hantam.

Maka, kesadaran untuk saling memahami, untuk saling berbagi tugas dan fungsi, serta kesadaran untuk saling melengkapi itulah yang harus ditumbuh kembangkan. Cara yang paling sederhana dan bisa dilakukan siapa saja adalah dengan sering bertemu, berbagi gagasan dan pengetahuan, atau sekadar berbagi cerita (curhat) dengan orang-orang yang berbeda.

Lihatlah contoh perbedaan-perbedaan yang ada dalam tubuh kita, mengapa tangan kiri tidak menyalahkan atau memusuhi tangan kanan, mengapa kepala tidak bertikai dengan kaki, mengapa tulang tidak melukai daging, dan lain-lain, karena di samping berada dalam satu tubuh juga karena masing-masing bekerja sesuai peran dan fungsinya.

Yakinlah, dengan sering bertemu, akan tumbuh rasa saling memahami dan saling menghormati. Dengan sering bertemu akan luruh ego, prasangka, dan saling menghakimi. Dengan sering bertemu akan terbangun titik temu untuk menyadari perbedaan dan pengakhiri pertikaian.

Salah satu konsep kunci ajaran Al-Qur’an dan Islam sebagai sebuah agama adalah konsep tentang komunitas (ummah). Tidak ada keraguan bahwa islam bertujuan menciptakan suatu komunitas yang berkeadilan, yaitu suatu komunitas yang di dalamnya dimungkinkan melaksanakan hukum Tuhan, tidak hanya hukum-hukum yang mengatur perilaku individu.

Peran agama adalah menyelamatkan jiwa manusia, dan pada hari kiamat, menurut Islam akan diadili secara individu dan tidak secara kolektif. Menurut Al-Qur'an, umat manusia akan terdiri dalam hal sejauh mana komunitas tersebut mengizinkan anggotanya menjalankan kehidupan yang baik, yang berdasarkan prinsip-prinsip moral, dalam pengertian yang religius. Tuhan akan menilai apakah suatu komunitas baik dari segi tingkatan bagaimana mereka merefleksikan kehadiran konstan dimensi transenden dalam kehidupan manusia dan mendasarkan diri pada nilai nilai agama dan spiritual.(ha1,92).

Kebusukan serta kerusakan suatu umat atau bangsa terjadi, menurut Al-Qur’an, bukan karena hilangnya kekayaan atau kekuatan ekonomi ataupun kekalahan secara militer, melainkan karena keburukan moral dan penyimpangan dari norma-norma agama yang ditetapkan Tuhan bagi umat tersebut. Bumi ini adalah milik Tuhan, dan dia mengizinkan umat atau bangsa yang mampu untuk berkuasa dibumi selama mereka pantas dan layak untuk melakukan hal itu. Ketika mereka kehilangan otoritas moral, mereka langsung digantikan oleh Tuhan dengan umat atau bangsa yang lain.(hal,193).

Salah satu pesan yang merupakan dasar pewahyuan Islam dan pengiriman Nabi sebagai rasul kedunia. Dalam salah satu hadis yang terkenal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Saya diutus dalam rangka untuk menyempurnakan (bagi kamu) akhlak mulia”. Jadi umat islam sebagai umat mayoritas, umat yang terbaik dengan landasan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar. Harus menjadi umat tengahan, moderat, kasih sayang, persatuan dan perdamaian bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat ummah (komunitas). Kebenaran dasar itulah yang harus di ingat oleh umat islam ketika mereka menghadapi tekanan tekanan yang begitu kuat dari sekulerisme, globalisasi, dan konsumerisme yang telah mengancam pondasi dasar tatanan islam. Lebih lanjut dalam hadis lain Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Sebaik-baik nya agama adalah bahwa kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai diri sendiri, dan apa yang kamu rasakan sakit untuk dirimu sendiri, yakinilah bahwa itu juga sakit bagi orang lain. Kemudian, “Tidaklah dikatakan orang beriman sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.(Hadis Muslim dan Ibnu Majah).

*)Penulis adalah Pegiat isu-isu Keislaman dan Kebangsaan. Redaksi Pelaksana Kuliah Al-Islam. 

Fitratul Akbar

Penulis adalah Alumni Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Pegiat isu-isu Filantropi Islam, Kerukunan Beragama dan Perdamaian Dunia.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال