Melindungi Martabat Manusia (3)

(Sumber Gambar: Fitratul Akbar)
Oleh: Fitratul Akbar*

KULIAHALISLAM.COM - Setiap kebudayaan dan peradaban memiliki semangat, pengetahuan, karakteristik, perasaan, tradisi, pandangan dan cita-cita rakyat dari suatu masyarakat tertentu. Semangat dan karakteristik tersebut memberikan makna pada sebuah kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengenal sebuah masyarakat dan negara berarti kita mengenal kebenaran terdalamnya, kepekaan batinnya, dan perasaan yang tersembunyi. Seperti, Yunani mempunyai budaya filosofis. Romawi berbudaya militer dan artistik. India berbudaya spiritualistik. Masyarakat atau Umat islam berbudaya religius dan spiritualitas. Inilah yang disebut dengan taksonomi budaya.

Dengan kata lain, taksonomi budaya juga bersinonim dengan etos dan vitalitas. Yang dimaksud dengan etos adalah ciri-ciri budaya yang membedakan satu budaya dengan budaya yang lain, atau satu negara dengan yang lain. Karena dengan adanya etos dan vitalitas budaya inilah yang dapat membedakan antara negara dengan negara yang lain dalam menjalani dan membangun sebuah tatanan masyarakat itu untuk mencapai tujuannya.

Misalnya, peradaban Barat/Eropa yang diwakili oleh negara Uni Eropa dan Amerika Serikat memiliki etos dan vitalitas budaya seperti dikenal dengan masyarakat sekuler, individualias, kebebasan, kemerdekaan dan cinta ilmu pengetahuan. Begitupun, dengan peradaban Asia yang diwakili oleh negara Cina, Jepang dan Korea memiliki etos yang dikenal dengan masyarakat pekerja keras, ulet, kolektif, budaya disiplin, rajin membaca. Pun sama dengan peradaban Islam yang diwakili oleh negara-negara Arab Timur Tengah dan Asia Tenggara Indonesia, memiliki etos dan vitalitas budaya, yang dikenal dengan masyarakat yang religius/agamais, bersemangat dan kerja keras, kolektifitas, banyak mazhab/aliran.

Dengan demikian, melihat dan mencermati contoh taksonomi budaya dari negara-negara di atas dapat disimpulkan bahwa, sebuah kebudayaan adalah bersifat dinamis, selalu berubah, mengalami perubahan. Karena budaya adalah hasil olah pikir, olah rasa dan karsa dari setiap umat manusia baik budaya secara material maupun immaterial. Tentunya, sebuah budaya haruslah menciptakan kebudayaan positif yang menciptakan sebuah masyarakat dan negara yang lebih baik, berwawasan luas dan bermoral tinggi.

Karena itu, salah satu yang menjadi produk budaya, jati diri, identitas dan kepribadian negara indonesia adalah budaya gotong royong, persaudaraan atau menghormati orang lain (respect for people) sesama masyarakat.


Menghormati Terhadap Sesama

Mempunyai hubungan sosial yang baik dengan makhluk Allah yang lain dan untuk sementara menghindari semua tindak keingkaran terhadapnya, merupakan suatu tanda kemurahan hati Allah yang sangat luas kepada hambanya. Barangsiapa bersikap tulus dan rendah hati terhadap Allah di dalam jiwanya yang paling dalam, pastilah akan mempunyai hubungan sosial yang baik secara lahiriah. Pertahankanlah persahabatan dengan orang lain demi Allah dan jangan berkawan semata-mata demi keuntunganmu sendiri dalam masalah-masalah duniawi, untuk mencari kedudukan, untuk pamer atau untuk mencari nama baik.

Perlakukanlah orang yang lebih tua darimu sebagaimana kamu memperlakukan ayahmu, dan orang yang lebih muda darimu sebagaimana kamu memperlakukan seorang anak. Perlakukan kawanmu-kawanmu sebagaimana kamu memperlakukan saudaramu. Jangan tinggalkan apa yang kamu ketahui dengan pasti di dalam hatimu demi sesuatu yang kamu dengar dari orang lain yang kamu ragukan. Bersikaplah lemah lembut ketika kamu menganjurkan kebaikan, dan berkasih sayanglah ketika melarang kejahatan. Jangan sekali kali mengabaikan nasihat yang  baik dalam setiap kesempatan.(LENTERA ILAHI, 99 Nasehat Imam Jafar Ash-Shidiq).

Tidak seorang pun menghargai kehormatan orang-orang beriman kecuali dia yang menghargai kehorharmatan dan pernyataan Allah atas orang-orang beriman itu. Orang yang paling memenuhi syarat untuk mendapatkan pernyataan kesucian dari Allah dan Rasulullah SAW adalah dia yang paling besar penghargaannya pada kehormatan orang-orang beriman. Barangsiapa menganggap remeh kehormatan orang orang beriman berarti ia telah melepaskan pakaian keimanannya. Nabi SAW bersabda, “Bagian dari penghargaan kepada Allah adalah menghargai orang orang yang dekat dengan allah dalam keyakinannya”. Dalam hadits lain, “Barangsiapa tidak mengasihi orang muda atau tidak menghormati orangtua bukanlah termasuk golongan kami. Jangan menyatakan seorang muslim itu kafir padahal tobat akan dapat mendatangkan ampunan baginya, kecuali jika ia adalah orang yang telah disebut oleh allah dalam kitabnya.(LENTERA ILAHI, 99 Wasiat Imam Jafar Ash-Shidiq).

Dengan demikian, dari kedua hadist diatas dapat disimpulkan bahwa, orang-orang yang telah menghargai dan menjalankan setiap perintah dan larangan Allah swt, adalah dia yang menghargai atau menghormati manusia lainnya. Menghormati anak anak kecil, dewasa dan orang tua, juga yang berbeda suku, budaya, daerah dan agama lainnya. Karena memang, Allah swt sendiri telah mencipatakan manusia dengan derajat yang sama, yang membedakan kecuali ketaqwaan dan amalannya didunia ini.

Karena itu, masyarakat dan sesama muslim, saudara seiman berjabat tangan ketika bertemu adalah bentuk kecintaan kepada ajaran Allah swt, juga saling kenal mengenal, menambah kasih sayang dan mempererat  persaudaraan antar sesama. Rasulullah bersabda, “Setiapkali para saudara berjabat tangan dalam keyakinan kepada Tuhan, perbuatan perbuatan mereka yang salah dihapuskan sehingga mereka menjadi seperti ketika baru saja dilahirkan oleh ibu mereka”. Tidak ada kecintaan dan rasa hormat satu sama lain dari dua orang saudara yang dapat berkembang tanpa adanya perkembangan dari mereka masing-masing.

Menjadi kewajiban bagi seseorang yang mempunyai paling banyak pengetahuan tentang iman Tuhan di antara dua orang untuk mendorong temannya menjalankan fungsi-fungsi wajib yang telah ditetapkan oleh allah untuk menuntunnya agar berjalan lurus, berpuas diri, dan tidak bersikap berlebih-lebihan, untuk menyampaikan kepadanya berita berita baik dari belas kasih Allah, dan untuk membuatnya takut akan hukumannya. Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Sebaik-baik nya agama adalah bahwa kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai diri sendiri, dan apa yang kamu rasakan sakit untuk dirimu sendiri, yakinilah bahwa itu juga sakit bagi orang lain. Kemudian, “Tidaklah dikatakan orang beriman sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.(Hadis Muslim dan Ibnu Majah).

*)Penulis adalah Pegiat isu-isu Keislaman dan Kebangsaan. Redaksi Pelaksana Kuliah Al-Islam.

Fitratul Akbar

Mahasiswa Ekonomi Syariah, FAI, UMM. Peneliti isu-isu Ekonomi Islam, Kerukunan Umat Beragama dan Perdamaian. Redaktur Pelaksana Kuliah Al-Islam. "Membumikan Pemikiran, Membangun Peradaban, dan Memberikan Pencerahan".

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال