Filosofi Wayang Penuh dengan Hakikat Syiar Islam

Filosofi wayang Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong

KULIAHALISLAM.COM – Selama ini tak banyak yang tahu tentang hakikat dakwah dalam filosofi wayang.( A. Mustofa Bisri). Dakwah itu harusnya sekreatif Wali Songo. Ketika di Jawa gandrung kesenian, Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, menciptakan suatu karya monumental, yaitu wayang. 

Wayang tidak Menabrak Fikih

Seni wayang itu tidak menabrak rambu-rambu fikih. Tentu ada perbedaan pendapat di antara para wali soal metode tersebut. Tetapi mereka berkoordinasi dengan baik sekali.

“Siapa yang menggambar manusia, nanti akan disuruh memberi nyawa kepada gambarnya itu “ (Hadis). Tentunya Sunan Kalijaga lebih alim soal masalah hukum Syariat sehingga wayang yang ditampilkan tidak bisa disebut manusia, disebut gambar binatang juga tidak bisa. 

Tidak ada manusia yang tangannya melebihi dengkul seperti tangannya wayang. Tak ada juga manusia tetapi yang tubuhnya gepeng seperti wayang. Orang yang menonton merasa itu manusia. Itu satu keindahan yang luar biasa.

Wayang tersebut dipakai Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Konon, Sunan Kalijaga sendiri yang mendalang, kemudian orang datang. Nilai-nilai ajaran itu dikemas sedemikian rupa dalam cerita dari Hindu dengan latar Mahabharata dan Ramayana. 

Meski demikian, cerita dalam sudah penuh muatan-muatan ajaran wayang Islam: tentang keikhlasan, tentang kemanusiaan, tentang buruknya khianat.

Dalam pertunjukan wayang, kehadiran Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong selalu dinanti-nanti para penonton. Keempatnya merupakan karakter khas dalam wayang Jawa (Punakawan). Dalam wayang golek terdapat peran Semar, Cepot, Dawala, serta Gareng.

Punakawan merupakan karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Kehadiran karakter lokal itu melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para kesatria, penghibur, kritik sosial, badut, bahkan sumber kebenaran dan kebijakan.

Pendekatan ajaran Islam dalam kesenian wayang juga tampak dari nama-nama tokoh punakawan. Barangkali tak banyak orang yang tahu kalau nama-nama tokoh pewayangan, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebenarnya berasal dari bahasa Arab.

Asal Nama Punakawan dari Arab 

Ada yang menyebutkan, Semar berasal dari kata Sammir yang artinya siap sedia. Namun, ada pula yang meyakini bahwa kata Semar berasal dari bahasa arab Ismar. Menurut orang yang berpendapat ini, lidah orang Jawa membaca kata is- menjadi se-. Contohnya seperti Istambul dibaca Setambul. Ismar berarti paku. Tak heran, jika tokoh Semar selalu tampil sebagai pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada. Ia selalu tampil sebagai penasihat.

Lalu, ada yang berpendapat, Gareng berasal dari kata Khair yang bermakna kebaikan atau kebagusan. Versi lain meyakini, Nala Gareng diadaptasi dari kata Naala Qariin. Orang Jawa melafalkannya menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman, hal itu sesuai dengan dakwah para aulia sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya umat agar kembali ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

Bagaimana dengan Petruk? Ada yang berpendapat, Petruk berasal dari kata Fatruk yang berarti meninggalkan. Selain itu, ada juga yang berpendapat kata Petruk diadaptasi dari kata Fatruk—kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf, Fat-ruk kulla maa siwallaahi (tinggalkan semua apa pun yang selain Allah).

Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong, artinya kantong yang berlubang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.

Sedangkan Bagong, diyakini berasal dari kata Bagho yang artinya lalim atau kejelekan. Pendapat lainnya menyebutkan, Bagong berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yakni, berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan.

Dalam pergelaran wayang, keempat tokoh Punakawan itu selalu keluar pada waktu yang tak bersamaan. Biasanya, tokoh Semar yang dimunculkan pertama kali, baru kemudian diikuti Gareng, Petruk, dan terakhir Bagong. Secara tak langsung urutan tersebut menunjukkan ajakan (dakwah) yang diserukan para wali zaman dahulu agar meninggalkan kepercayaan animisme, dinamisme, dan kepercayaan-kepercayaan lain menuju ajaran Islam.

Jika Punakawan ini disusun secara berurutan, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, secara harfiah bermakna, Berangkatkan menuju kebaikan, maka kamu akan meninggalkan kejelekan. Selain Punakawan, istilah-istilah lain dalam pewayangan juga banyak berasal dari istilah Arab.

Ajaran Wayang Islam

Astina yang diistilahkan sebagai nama kerajaan para penguasa yang lalim, diyakini lebih dekat dengan kata Asy-Syaithan. Rajanya, Duryudana, lebih dekat dengan kata Durjana. Setiap orang jahat (durjana), pasti akan menemukan kekalahan dan menjadi teman setan di neraka.

Ketika seorang dalam memainkan Bala Astina dalam pentas wayang, mereka selalu ditempatkan di sebelah kiri bersama-sama dengan para raksasa. Sedangkan Pandawa Lima selalu di sebelah kanan. Hal ini menggambarkan bahwa yang baik dan yang buruk itu berbeda.

Dalam kisah pewayangan tokoh pewayangan yang dikenal kuat, perkasa, dan berjiwa kesatria adalah Bima. Ia memiliki kekuatan yang disebut Dodot Bangbang Tulu Aji dan Kuku Pancanaka. Kata Tulu Aji bermakna tiga aji atau tiga kekuatan. Maksud ajian itu adalah Bima diselimuti tiga ilmu, yaitu iman, Islam, dan ihsan.

Sedangkan Kuku Pancanaka adalah senjata andalan, selain dari gada Rujakpolo. Konon kata para dalang, kuku pancanaka ini tajamnya tujuh kali dari tajamnya pisau cukur. Kuku Pancanaka merupakan kekuatan untuk melengkapi Dodot Bangbang Tulu Aji

Kuku Pancanaka memiliki arti kekuatan Lima Waktu. Apabila kedua kekuatan itu digunakan, merupakan simbolisasi yang berarti apabila telah memiliki iman, Islam, dan ihsan, tak akan pernah meninggalkan shalat lima waktu.

Cerita dewa ruci adalah kisah yang konon menjadi inti pencarian jati diri kehidupan. Dalam cerita dewa ruci disebutkan bahwa saat itu Bima diperintah gurunya untuk mencari air suci kehidupan. Dengan sami’na watha’na (ketaatan) kepada sang guru Durna, Bima pun berangkat, walau banyak yang menghalanginya karena sang guru dikenal pendusta.

Sang guru mengatakan bahwa, air itu berada di dasar samudra. Dan tanpa ragu-ragu Bima terjun ke dasar samudra untuk mencari air suci tersebut. Hal ini menggambarkan bahwasanya kita seharusnya memiliki hati yang seluas samudra dalam menuntut ilmu, mudah memaafkan orang lain, dan tak ragu-ragu dalam menegakkan kebenaran.

Berbagai halanganpun menghadang perjalanan Bima. Dan puncak halangan tersebut adalah saat dirinya menghadapi ular naga yang amat besar. Dan bahkan ular itu telah berhasil melilit di tubuh Bima. Pesan yang ingin disampaikan dari episode ini adalah, dalam kehidupan ini banyak sekali halangan dan godaan yang datang. Mulai gemerlapnya kemewahan dunia, jabatan, dan sebagainya. 

Namun inti dari semuanya itu, sejatinya semuanya berasal dari diri kita sendiri, yaitu hawa nafsu kita yang dalam kisah dewa ruci digambarkan sebagai seekor ular. Tubuh bima telah dililit ular, tapi itu tak menyurutkan perjuangan Bimasena.

Dengan kuku pancanaka, ular naga yang melilit di tubuh Bima itu dapat ditaklukkan. Kuku pancanaka terbukti sangat ampuh dalam membantu perjuangan Bimasena.

Beberapa penafsiran menyebutkan bahwa kuku pancanaka bermakna kukuh dalam lima waktu (panca=lima, naka=waktu). Pesan utamanya, teguh dalam melaksanakan dan menghayati salat lima waktu adalah kekuatan kita paling utama dalam hidup ini.

Kenapa banyak orang salat namun tidak merasa kuat? Karena ia tidak kukuh dalam menghayati salatnya. Banyak orang salat namun hanya menganggap itu hanya ritual, bahkan tak tahu apa arti bacaan Al Fatihah. Mulut berkomat-kamit, tapi tak tahu apa yang diucapkan. 

Allah sendiri telah memberitahukan bahwa salat dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar . Namun karena kita lalai, "ular-ular" itu terus melilit tubuh kita. 

Tiada perintah Allah SWT yang seketat salat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring.

Maka tak heran, menurut hadis Nabi Muhammad SAW, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah salat. Jika salatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amal, jika salatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amal.

Dengan salat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah SWT (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

Semoga setiap muslim dianugrahi "Kuku Pancanaka" dalam mengarungi kehidupan ini. Sehingga ia akan menjadi muslim yang tangguh, setangguh bima. Semoga "ruh" salat lima waktu selalu hinggap dalam jiwa-jiwa ini dan menjadikan pribadi yang kuat untuk dapat mengendalikan hawa nafsu.

Kata dalang sendiri diambil dari kata 'dalla’ yang berarti menunjukkan jalan yang benar. Demikian juga kisah-kisah wayang yang dibuat oleh Walisongo kesemuanya menampilkan cerita Islami. Di antaranya cerita Jimat Kalisada (Kalimat Syahadat), Dewa Ruci, Petruk jadi Raja, dan Wahyu Hidayat (Wahyu petunjuk). Wallahu alam.

Dari berbagai Sumber
Oleh : Taufiq Ndon, Sekretaris Bidang Kokam dan SAR PDPM Kendal

Admin

Redaksi Kuliah Al Islam

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال