Penyair yang Tiada Bandingnya di Timur dan Barat : Jalaluddin Rumi

Makam Jalaludin Rumi museum Mevlana, Konya, Turki (Sumber gambar: Detik.com)

KULIAHALISLAM.COM - Nama lengkapnya adalah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Beliau lahir di Afganistan pada 30 September 1207 Masehi dan wafat di Konya, Turki tahun 1273 Masehi. Pendidikan pertama Jalaluddin Rumi diperoleh dari Ayahnya sendiri, seorang tokoh Islam bermazhab Hanafi. 

Kemudian beliau belajar kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi. Setelah Burhanuddin wafat, Jalaluddin Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, disamping sebagai guru, beliau juga menjadi ahli hukum Islam.

Baru pada tahun 652 Hijriah, beliau mulai mengubah arah hidupnya ke arah kehidupan sufi, setelah beliau bertemu dengan Syamsuddin at-Tabrizi. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul “Diwan Shams-i Tabrizi”. 

Kebesaran Jalaludin Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuannya mengungkapkan perasaan dalam bentuk puisi yang sangat indah dan memiliki makna mistis yang sangat dalam. Lirik puisinya diliputi perasaan cinta yang teramat mendalam kepada Tuhan (lihat Ensiklopedi Islam Jilid 4 terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, milik negara tidak diperjual belikan).

Lebih lanjut, Husayn Ahmad Amin dalam karyanya “Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam” memaparkan bahwa Jalaluddin Rumi meninggalkan dua kenang-kenangan yang abadi yaitu :

Pertama, Diwan terdiri atas 46 ribu bait. Diwan adalah kumpulan kasidah yang terpisah-pisah satu sama lain. Setiap Kasidah mempunyai wazn, qafiyah dan topik tersendiri. Semuanya bersumber dari imajinasi yang spontan, begitupula pembuatan lafalnya. Kemudian semuanya dia masukan ke dalam syair.

Kedua, Matsnawi penulisan Matsnawi menghabiskan waktu 13 tahun. Didalamnya terhimpun kisah-kisah kepahlawanan, kisah-kisah yang lain dan perenungan filsafat yang dimaksudkan sebagai usaha menggambarkan sosok sufisme dan penafsirannya. 

Seorang penyair sufi bernama Abdurrahman al-Jami, berkata “Kitab al Matsnawi adalah Alquran dalam bahasa Persia”. Jalaluddin Rumi dalam mukadimah bukunya mengatakan Inilah kitab Al-Matsnawi. Ia adalah pokok-pokok agama dalam menyingkap rahasia keyakinan dan sampainya manusia kepada Allah. 
Selain itu ini adalah Fikih Allah yang paling besar, syariat Allah yang paling baik dan bukti Allah yang paling nyata. Perumpaan cahayanya seperti perumpaan cahaya dalam lampu, yang memancarkan sinar.

Filsafat Al-Matsnawi terdiri atas ajaran sufi yang diungkapkan dalam bahasa yang membangkitkan jiwa. Tasawufnya bukan tasawuf negatif yang meninggalkan kehidupan dengan segala isinya, menganjurkan penghindaraan diri atas dunia dan menggolongkannya sebagai kejelekan. 

Tasawufnya merupakan gabungan antara filsafat dan hikmah praktis . Ia adalah tasawuf yang peringkat tertingginya adalah penggabungan antara pemikiran dan amal.
Dalam syairnya, penjelasannya sangat kuat, imajinasinya mengalir lancar, pengembarannya sangat bagus. Ia menjelaskan satu makna dengan berbagai bentuk, dengan memberikan contoh hal-hal yang ia jelaskan. Makna-maknanya mengalir deras ke lautan pasir yg menanmpungnya. Ia memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan. 

Karya-karya Jalaludin Rumi banyak diterjemahkan para sarjana Barat seperti yang dilakukan Reynold Alleyne Nicholson yang berhasil menterjemahkan karya Jalaluddin Rumi setelah 25 tahun ia bekerja keras. 

Reynold Alleyne Nicholson menyatakan dalam karyanya “Mistik dalam Islam (The Mystics of Islam)” bahwa “Sesungguhnya, menterjemahkan karya-karya tersebut, hanya akan merusak keindahan yang terkandung di dalamya”. Lebih lanjut, ia mengatakan simaklah sajak Jalaludin Rumi di bawah ini :
 
  “Ia datang, Rembulan yang bagai lazuardi belum pernah tampak bangkit atau bermimpi, dimahkotai nyala api yang tiada padam, Lihatlah botol yang Engkau cintai, Wahai Tuhan, Jiwaku berenang Dan meruntuhkan rangka jasmaniku yang terbuat dari tanah lempung Kala pertama Pemberi anggur dalam hatiku nan sunyi berteman Anggur membakar dadaku dan pembulu darahku, Tapi kalau citra-Nya menyentuh mata, Terdengar suara hebat, Wahai anggur berdaulat, dan piala yang tiada tara”.

Maksud Jalaluddin Rumi di atas menurut Reynod bahwa  cinta yang disimbolkan adalah unsur emosi dari agama, yaitu ranumnya dari apa yang akan terjadi. Keberanian seorang syuhada, keyakinan para wali semuanya hanyalah dasar dari kesempurnaan moral dan pengetahuan spritual.

Mengorbankan segala yang dimiliki dan apapun yang dianggap bermakna bagi manusia hanya semata-mata untuk Tuhan yang tercinta tanpa harus berpikir atau harus mengharapkan ganjaran. Cinta adalah prinsip tertinggi para Sufi. 

Jalaluddin Rumi mengatakan  “Walau cinta itu beraroma tanah tidaklah mencegah wajah, karena Yang Nyata Akan membangkitkan.
Sebelum Alif Ba Ta Kau Kuasai, bagaimana engkau dapat mengerti Al-Qur’an ?
 Kata bijaksana seperti yang kudengar para pelajar, menohon untuk diajari,
Katakan, apabila langkah-langkahmu menjauhkan diri dari jalan cinta dan kemudian kembalilah  Kepadaku”.        

Selain itu, Jalaludin Rumi mengatakan “Apakah arti ilmu Tauhid ? Hendaklah engaku bakar dirimu di hadapan yang Maha Esa. Seandainya engkau ingin cemerlang bagi siang hari bakarlah eksistensimu yang gelap seperti malam dan luluhkan wujudmu dalam wujud pemeliharaan wujud, seperti luluhnya tembaga dalam adonannya. Dengan begitulah kau bisa mengendalikan genggamanmu atas “Aku” dan “Kita” dimana semua kehancuran ini timbul dari dualisme”.

Jalaludin Rumi wafat pada bulan Desember tahun 1273 di Konya, Turki. Kota Konya merupakan ibukota Bani Saljuk. Pada masa Dinasti Ottoman Turki, tepatnya Sultan Sulaiman  Al Qanuni dan Sultan Abdul Hamid II, makam Jalaluddin Rumi dibangun dengan megah. Dan makamnya kini  berada di Museum Mevlana, Konya, Turki. 


1 Comments

  1. Menarik isinya, jadi ingin membaca kitabnya dari tokoh Rumi ini. Terimakasih sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال