Ahmed Deedat Dai yang Mengislamkan Jutaan Orang

Ahmed Deedat dan Zakir Naik adalah tokoh perbandingan agama yang berhasil mengislamkan banyak orang (Sumber gambar : Boombastis.com)
Oleh :Rabiul Rahman Purba, S.H

KULIAHALISLAM.COM – Syekh Ahmed Huseein Deedat merupakan Ulama di bidang Perbandingan Agama yang sangat terkenal di dunia. Ahmed Deedat atas izin Allah telah berhasil mengislamkan banyak orang di Timur dan Barat. 

Salah satu murid dari Ahmed Deedat adalah Dr. Zakir Naik. Ahmed Deedat lahir 1 Juli 1918 di India dan wafat 08 Agustus 2005 di Verulam, Afrika Selatan. Syekh Ahmed Deedat awalnya hanyalah bekas penjual garam di Afrika kemudian beliau berubah menjadi Ulama besar dunia.

Dikutip dari Harian “Asy Syarqul Autsah”, Saudi Arabia, Ahmed Deedat menjelaskan kisah kecilnya. Ahmed Deedat dilahirkan di India dengan kedua orang tuanya muslim. Ayahnya bernama Husein Kazim Deedat merupakan seorang petani dan ibunya membantunya.

Pada usia sembilan tahun, beliau dibawa pindah ke kota Durban, Afrika Selatan.
Kemudian, Ayahnya berprofesi sebagai seorang penjahit pakaian. Ahmed Deedat disekolahkan di Islamic Centre di Durban untuk belajar Alquran dan hukum-hukum Islam lainnya.

Pada tahun 1934, beliau menyelesaikan sekolah Ibtidaiyah, kemudian beliau membantu Ayahnya dengan membuka toko menjual garam. Selanjutnya, beliau bekerja di perusahaan membuat perabotan rumah, kemudian supir, dan terakhir sebagai direktur dari sebuah perusahaan pemasaran. 

Ahmed Deedat kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Seni Negeri yang memuat pelajaran matematika dan ilmu manajemen perusahaan. 

Beliau menyatakan bahwa beliau terus mendapatkan rayuaan dari misionaris saat menjual garam. Misionaris tersebut menawarkan agamanya pada Ahmed Deedat.

Ahmed Deedat merasa belum sanggup menjawab pertanyaan tentang agama Islam dari para misionaris, hal itu membuat Ahmed Deedat bangkit dari kebodohan, beliau kemudian mempelajari berbagai kitab suci agama-agama di dunia. 

Pada tahun 1949, Ahmed Deedat pergi ke Pakistan, untuk mencari uang yang lebih banyak lagi agar bisa membiayai dakwahnya. Di Pakistan, Ahmed Deedat mempersiapkan diri menjadi seorang da’i. 

Syekh Ahmed Deedat menemukan buku berjudul Idh Harul Haq (Menampakan Kebenaran) yang ditulis Syekh Rahmatullah al-Hindi.  Buku itu menelanjangi sistem penjajahan Inggris di India. Dari buku itu, beliau mendapatkan ilmu yang luas dan penting. 

Dengan buku itu, Syekh Ahmed Deedat mempelajari tata cara berdialog dan berdebat tanpa harus belajar di akademi atau lembaga khusus dan tanpa melakukan latihan.

Syekh Ahmed Deedat telah melakukan dialog dengan tokoh-tokoh agama di dunia dan berhasil mengalahkan mereka. Beliau telah menghadiri perdebatan perbandingan agama di Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, Kanada, Hongkong, Singapura, India, Afrika, Saudi Arabia, Abu Dhabi, Malawi, dan Mauritania.

Syekh Ahmed Deedat berkata “Saya melihat ada suatu kekuatan yang menyinari jiwa ragaku untuk mendorong dan menggerakan diri dalam melangkah mengikuti titah perintah Ilahi, meskipun menderita tapi Islam telah melapangkan dadaku dalam menunaikan tugas besar ini”. 

Dalam Islam, beliau menemukan obat mujarab dan jawaban yang memuaskan dari berbagai kemelut yang terjadi di Afrika Selatan, khususnya dalam masalah rasial, minuman keras dan masalah lainnya yang merusak kemanusiaan.

Menurutnya, Islam menjunjung tinggi anak Adam dan menjelaskan jalan-jalannya menuju hidayah dan jalan lurus yang diridhai-Nya, itulah obat satu-satunya yang dapat memecahkan berbagai problem umat manusia dewasa ini. 

Ahmed Deedat menyatakan bahwa “Saya tidak tahu, apakah ada yang masuk Islam setelah perdebatan itu, tetapi yang penting bagi saya adalah agar kaum muslimin mampu menyebarkan dan membela akidahnya dan bisa menjawab tantangan misionaris”.

Syekh Ahmed Deedat menyerukan kepada Universitas al-Azhar Syarif yang memikul beban terberat di seluruh dunia dalam menyiapkan para da’i. 

Para da’i harus mampu memahami benar pokok semua ajaran agama dan dapat menjawab dengan lancar semua pertanyaan dan tantangan  yang dilancarkan orang. 

Beliau juga menyerukan kepada semua lembaga-lembaga Islam agar lebih mengarahkan semangat secara jujur demi mensukseskan dakwah dengan membekali diri dengan dua ciri yakni mempersatukan program dakwah dan menyadarkan secara pararel agar semua lembaga yang mengikuti mendukung benar-benar konsekuen dengan program ini dan mempersatukan langkah. 

Jangan sampai, ada orang atau lembaga yang bekerja hanya mengikuti selera dan nafsunya. Semua harus bekerja sama dan berkompetisi dengan semangat ukhwah sehingga pekerjaan itu dapat berhasil dengan baik dan mendatangkan daya guna yang maksimal. 

Syekh Ahmed Deedat wafat pada tahun 2005 akibat penyakit yang dideritanya. Tugas kita pada dewasa ini adalah bagaimana melahirkan generasi Ahmed Deedat yang baru.

Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال