Perkembangan dan Kemajuan Ilmu Kedokteran Islam



Kuliahalislam-Ilmu kedokteran (at-tibb) merupakan ilmu yang menangani keadaan kesehatan dan penyakit pada tubuh manusia dengan menggunakan cara-cara tertentu. Ilmu kedokteran Islam merupakan salah satu peradaban Islam yang paling masyhur. Bukan hanya abad pertengahan, kedokteran Islam telah dikaji sunguh-sungguh di Barat hingga abad ke-17 Masehi. Pada abad 19 Masehi, pengkajian kedokteran Islam dihapuskan dari kuriklum sekolah dan perguruan tinggi di Barat.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam diutus bukanlah untuk menjadi seorang Thabib (dokter) melainkan untuk menjadi seorang Rasull, namun dalam syariat yang Nabi bawa terkandung dan bernili ilmu pengobatan kedokteran yang murni. Dalam ajaran-ajaran Islam yang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasalam terdapat ajaran sebagai berikut :

·  Cara bersuci yang diajarkan Nabi Muhammad Shalallallahu alaihi wasallam;

· Cara berwudhu membasuh anggota badan sebelum beribadah;

· Dilarang kencing di kolam yang airnya tidak mengalir;

·Hewan sakit jangan disatukan dengan hewan sehat

·Berkhitan

·Jika disuatu wilayah terkena wabah maka jangan mendekatinya;

· Makruh memakan hewan buas

· Disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa madu adalah obat;

· Makan makanan yang masih panas kurang berkahnya;

·  Jika diminuman terkena lalat maka celupkan lalat itu lagi karena di sayap kirinya ada penawar racunnya

· Nabi melarang makan terlalu kenyang;

· Harus mencuci tangan sebelum dan sesudah makan;

· Nabi melarang berobat dengan suatu yang haram;

· Dan banyak lainnya.

Semua larangan dan anjuran di atas berasal dari Al-Qur’an dan Hadis shahih. Imam Bukhari merupakan Ulama Ilmu Hadis yang pertama menyusun Kitab Ath-Thib Nabi Muhammad Shalallallahu alaihi wasallam yang didalamnya ada 80 hadis yang berkaitan dengan ilmu kedokteran.

 Ilmu kedokteran Islam lahir sebagai hasil pembauran ilmu kedokteran Yunani tradisi Hipokrates dan tradisi Galen dengan teori serta praktik bangsa Persia dan India. Penggabungan ilmu kedokteran Islam dan kedokteran sebelum Islam pertama kali dilakukan di Jundishapur yang terletak dekat kota Persia (sekarang Ahwaz). Kota ini dibangun kembali oleh Raja Persia yaitu Shapur I dengan maksud untuk dijadikan sebagai pusat ilmu. Akhirnya Jundishapur menjadi pusat ilmu khususnya ilmu kedokteran Hipokrates.

Kemudian, Raja Shapur II mendirikan Universitas reguler yang mempertemukan berbagi aliran kedokteran. Disinilah para dokter aliran Nestoria mengajarkan dan memperaktikan kedokteran Yunani. Pemikiran Zoroaster memberikan pengaruh besar bagi kedokteran Persia. Setelah wilayah Persia berada di bawah kekuasaan Islam, Perguruan Jundishapur itu menjadi jembatan dalam pengembangan antara kedokteran Islam dan Pra-Islam.

Selain Jundishapur, kedokteran Yunani juga dipraktikan di Iskandariyah, pusat terbesar sains Helenestik. Ketika Islam menahlukan Mesir abad ke 7 Masehi, ada indikasi bahwa kedokteran Helenistik itu masih hidup. Iskandariyah merupkan tempat para ilmuwan muslim berkenalan dengan kedokteran Yunani.

Orang Arab juga memiliki kedokteran sederhana. Dengan datangnya Islam, mereka tidak mengalami perubahan langsung bahkan kurang percaya pada kedokteran Jundishpur dan Iskandariyah. Dokter Arab pertama di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah Haris bin Kaladah. Haris bin Kaladah mendapatkan pendidikan kedoktran di Jundishapur. Nabi Muhammad shallallhu alaihi wasallam menyuruh para Sahabat untuk berobat kepada Haris bin Kaladah. 

Haris bin Kaladah wafat tahun 634 Masehi pada masa Khalifah Umar bin Khattab semoga Allah meridhainya . Status keislaman Haris bin Kaladah diberdebatkan para Ulama namun sebagian besar menyatakan ia bukan seorang Muslim.

Asas Ilmu Kedokteran Islam

Ilmu kedokteran yang Islam itu tidak lain adalah ilmu pengobatan yang berasaskan Islam. Asas kedokteran Islam yang pertama, seorang thabib mengobati seorang pasien dengan ihsan dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Kedua, tidak menggunakan obat-obatan yang haram atau tercampur dengan bahan-bahan yang haram.

Ketiga, pebngobatan yang dilakukan tidak sekali-kali sampai mencacatkan tubuh kecuali sangat perlu dilakukan (darurat) atau keadaan terpaksa. Syaikh Abdurrahman Al-Harani dalam bukunya “ Ath-Thib Islam” menyebutkan bahwa : “ Dalam perkara dengan pengobatan yang mencacatkan tubuh itu boleh dikakukan jika darurat. Tapi dalam aspek pengobatan yang berbahan haram tidak ada aspek darurat atasnya”. Keempat, pengobatan itu tidak berbau takhayul, Bid’ah dan Khurafat (kesesatan. Islam tidak mengajarkan jenis model-model sihir.

Kelima, Islam tidak memebenarkan seseorang yang tidak mengkaji ilmu kedokteran turun mengobati pasien. Jika terjadi bahaya dalam pengobatan maka ia bertanggung jawab sepenuhnya. Keenam, jauhkan dari seorang dokter Muslim sikap dengki, riya, takabur dengan cara merendahkan orang lain, tinggi hati, memeras pasien dan sikap yang tidak terpuji lainnya.Ketujuh, seorang dokter Muslim harus berpakaian bersih, rapi dan sebaiknya berpakaian puti-putih. Dalam Hadis : “Pakailah pakaian putih sebab sesungguhnya warna putih itu lebih bersih dan indah. Kafanilah mayat-mayat dengan kain putih (H.R Ahmad)”.

Kedelapan, hendaklah lembaga pendidikan kedokteran, rumah sakit, balai pengobatan dapat menarik hati pengunjung dengan keindahan, kerapian dan kebersihan sehingga ia sekaligus tempat syiar Islam. Kesembilan, Jauhkan lambang-lambang yang berasal dari bentuk pemujaan Dewa-Dewa Yunani atau menggunakan lambang Yahudi dan Nasrani.

Perkembangan Ilmu Kedokteran Era Daulah Islamiyah

Perkembangan ilmu kedokteran Islam dimulai pada masa Khalifah Khalid bin Yazid bin Muawiyyah dari Khilafah Dinasti Bani Umayyah. Ia menaruh perhatian besar pada ilmu kedoketeran, kimia dan astronomi. 

Khalifah Khalid bin Yazid adalah orang pertama dalam sejarah peradaban Islam yang membuat lemari besar untuk menyimpan kitab-kitab kedokteran. Setelah masa Khilafah Daulah Umayyah, perkembangan ilmu kedokteran dilanjutkan oleh Khalifah  Abu Ja’far Al-Mansur (memerintah 136-158 H). Ia mendirikan lembaga penterjemah kitab-kitab pengetahuan dari bahasa Yunani, Hindia, Suryani, Persia.

Penterjemah kitab kedokteran pada masanya diantaranya adalah Thabib Jirjis Bukhtyshu yang menterjemahkan kitab kedokteran dari bahasa Suryani dan Yunani ke dalam bahasa Arab. Kemudian Thabib Sarjis Risy Aina  Irak yang menganut agama Nasrani sekte Yacobis (sekte yang menolak paham Trinitas). Selanjutnya, Thabib Al-Masawih yang terkenal pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid. Al Masawih memiliki putra bernama Yuhana Ibnu Masawaih al Marindi yang terkenal kitab kedokterannya berjudul “ An Nawadlir Ath Thibbiyah”, “Kitabul Hamiyah” dan “Kitab Al Azminah”.

Bapak kedokteran Islam yang terkenal sepanjang zaman di Barat dan Timur adalah Abu Yusuf Ya’kub Ibnu Ishaq Ibnu Sabbah ibnu Imran ibn Ismail Al-Ash’ats Ibnu Qais al-Kindi. Ia keturunan Sahabat Nabi bernama Al-Ash’ ats ibn Qais. Al-Kindi lahir di kota Kuffah (Irak) tahun 185 H. Ia menulis 256 Kitab yang terdiri atas 22 kitab filsafat, 11 kitab Matematika, 32 Kitab ilmu ukur, 22 Kitab kedokteran, 11 kitab penegtahuan alam, 7 kitab musik, 5 kitab ilmu Psikologi dan 9 kitab ilmu Mantiq. Kitab terkenal karya Al-Kindi adalah “De Aspectibus atau Medicarum Compacitarum Gradibus”. Ia menemukan cara mengobati penyakit mata, lever, empedu, sakit perut.

Kemudian, Abu Bakar Ibnu Zakariya ar-Razi (wafat 320 H). Kitab Ar-Razi yang terkenal adalah “Al-Kimiya dan Sirr Al-Asrar” yang menjelaskan berbagai unsur zat kimia seperti masalah logam, amoniak, al ghul (alkohol), alkali, batu-batuan, borax, garam. Ia juga menemukan cara mengobati penyakit cacar dan campak.    Bahkan ia membuat anatomi mausia yang terdapat dalam kitabnya “Tasyrih-i-Mansuri”.

Selanjutnya, Abul Qasim Ibnu Abbas Az-Zahrawi (wafat 404 H).Ia hidup pada masa Khalifah Abdurrahman III Dinasti Daulah Andalusia di Spanyol. Azahrawi dikenal sebagi Bapak Ilmu Bedah. Ia terkenal jahitan bedahnya yang halus dan berhasil melakukan operasi batu Ginjal, melebarkan saluran kandungan, menyembuhkan pembulu darah. Az-Zahrawi merupakan Guru Besar Ilmu Bedah kedokteran modren.

Selain itu ada nama-nama besar seperti Ibnu Sina yang menjadi Guru Besar Ilmu Kedokteran Barat, Sarah binti Abdulgani, seorang dokter wanita ahli anatomi, kebidanan dan ahli Al-Qur’an. Salamah binti Bakhtiar, dokter ahli kandungan yang wafat dibunuh tentara Hulaghu Khan, Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang merupakan ahli pengobatan jiwa.

 Asma’ binti Marzukkhan Amin, dokter wanita ahli kandungan, ahli gizi dan penyakit dalam. Asma’ binti Marzukkhan merupakan dokter yang memimpin dokter perempuan yang berbenderakan Bulan Sabit yang ikut mengobati pasukan Muslim yang dipimpin Sultan Salahuddin al-Ayubi dalam melawan Tentara Salib. Abu Bakar yang berasal dari Turki penemu alat-alat suntik. Ibnul Qayyim al-Jauziyah ahli kedokteran Islam yang terkenal dengan kitabnya Thib An-Nabawi, Zadul Maad fi Hadyi Khairil ‘Ubbad, dan lainnya.

Abu Mansur Al-Muwafaq (Wafat 353 H) yang terkenal dengan dasar-dasar ilmupengobatan dan ramuan obat-obatan dari Persia, Arab, India dan Yunani. Al Ath-Thar merupakan orang yang pertama menulis kitab tentang peraturan cara pemberian obat. Istila-istilah racikan obat dokter Muslim diadopsi Barat hingga kini seperti obat dari madu di barat menjadi Syrup, Kafur menjadi Camphor, Al-Ghul jadi Alkohol, Al-Kimiya menjadi Al-Chemi (Chemistry), Sukar jadi Sugar, Sauf menjadi Soap, Zahr jadi Bezoar.

Sekolah Tinggi Kedokteran Islam

Pada hampir semua Rumah sakit mempunyai sebuah Mushalla dan sebuah lembaga pendidikan kedokteran Islam yang disebut “Kuliah Ath-Thib”. Istilah “Kuliah” ini pertama digunakan umat Muslim kemudian diadopsi Barat menjadi “Culigat” atau “College”. Jika lulus maka mereka mendapatkan Ijazah. Di Lembaga pendidikan kedokteran Islam ini ada Universitas terbuka yakni Mahasiswa tidak menghkususkan belajarnya disuatu tempat ada Universitas tertutup yakni mereka memiliki ruang belajar yang tetap.

Jika lulus, mendapatkan Ijazah Sarjana yaitu Mahasiswa yang menyelesaikan kuliahnya selama tiga hingga empat tahun. Mereka disebut “Bihaq Al-Riwayah” atau dalam bahasa latin disebut “Bacalareus” kemudian di Barat menjadi Doctorandus Medicus (Drs.Med). Ada juga yangb mendapatkan Ijazah dokter umum yakni dokter yang belum dapat praktik dan mereka harus belajar lagi selama tiga tahu. Dari sistem inilah yang ditiru Barat. Sebenarnya peradaban Islam yang pertama kali meletakan dasar sekolah tinggi kedoketran/Universitas.

Lambang Bulan Sabit dan Rumah Sakit Kedokteran Islam

Menurut sejarawan, lambang bulan sabit digunakan Khalifah Umar bin Khattab sebagai siasat menyebarkan Islam. Lambang Sabit juga digunakan sebagai bendera Daulah Bani seljuk di Turki, digunakan Daulah Turki Usmani. Lambang bulan sabit ini memiliki makna kuatkanlah asas aqidah, siarkan Islam ke kanan dan kekiri.

Rumah Sakit pertama dan terbaik pada masa awal peradaban islam adalah Rumah Sakit Sultan Nuruddin penguasa Daulah Zankiyyah di Suriah.Selain itu terdapat juga Rumah Sakit besar pada masa Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah serta Daulah Andalusia di Cordoba, Spanyol. Dari Rumah Sakit kaum Muslimmin itu, Barat menirunya dan didirikanlah San Sprito oleh Paus Inocent III abad 7 Hijriah. Kitab-kitab kedokteran Islam mereka terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Kitab kedokteran Ibnu Zuhri diterjemahkan oleh Paravicus.

Kemudian di Paris, Prancis didirikan Rumah Sakit Pertama oleh Raja Louis IX dan diberi nama “Les Quie inz Vingt” yang meniru Rumah Sakit milik Sultan Nurrudin Zanki. Rumah Sakit Les Quie Inz Vingt ini terdapat lembaga ilmu kedokteran yang memakai kitab kedokteran Ibnu Rusyd. Dididirikan Universitas Frankfrut yang memakai kitab Ibnu Rusyd, Az-Zahrawi,Ibnu Sina dan Al-Baithari.

                                         

Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال