Peran Santri dan Kiai dalam Pelaksanaan Resolusi Jihad


Keterlibatan para santri dan kiai NU dalam pertempuran (melawan penjajahan), tergambar dalam film Sang Kiai (2013). Dalam film itu, secara fiksional digambarkan bahwa orang yang menembak mati Brigadir Jenderal Mallaby di Jembatan Merah adalah santri NU. Kematian Mallaby itulah yang bikin marah tentara Inggris dan kemudian memicu Pertempuran 10 November 1945.

Banyak di antara pemuda (pejuang) muda mengenakan jimat yang diberikan kiai desa kepada mereka. Bahkan, pemuda Sutomo alias Bung Tomo diketahui meminta nasihat kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Kita tahu bahwa, Bung Tomo dikenal sebagai orator dalam Pertempuran 10 November 1945 yang membakar semangat arek-arek Surabaya, salah satunya dengan pekikan “Allahu Akbar”.

Dalam film Sang Kiai, Kiai Hasyim yang makin sepuh sangat ingin diajari menembak di zaman Revolusi. Bukan tidak mungkin tentara Belanda akan mencari anaknya yang jadi pejabat Republik. Tapi kesehatannya tidak memungkinkan untuk belajar menembak. Hingga akhirnya Kiai Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 atau empat hari setelah Belanda melancarkan Agresi Militer I.

Setelah Kiai Hasyim tutup usia, Hizbullah menjadi salah satu laskar yang terlibat dalam Revolusi Indonesia. Bahkan ada juga bekas milisi Hizbullah yang kemudian bergabung dengan TNI. Bagi NU dan para ulama, kiai dan santri khususnya, segala bentuk penjajahan harus dilawan karena, baik Belanda maupun Jepang telah berbuat kezaliman kepada rakyat Indonesia.

Pasca pertempuran 10 November 1945 di Surabaya berlalu, Resolusi Jihad NU pun terus digelorakan. Dalam Muktamar ke-16 Nahdlatul Ulama pada 26-29 Maret 1946 di Purwokerto, Jawa Tengah, K.H Hasyim Asy’ari kembali menggelorakan semangat jihad di hadapan para peserta muktamar.

Dalam buku Jihad Membela Nusantara: Nahdlatul Ulama Menghadapi Islam Radikal dan Neo-Liberalisme (2007), K.H Hasyim Asy’ari menganggap keberadaan penjajah akan menyulitkan penegakan syariat Islam. Menurutnya, perjuangan mempertahankan kemerdekaan kedaulatan negara merupakan kewajiban agama. Maka dari itu, ia menggelorakan perjuangan melawan penjajah.

Saat itu Netherlands Indies Civil Administration (NICA) membonceng tentara Sekutu (Inggris) ketika hendak kembali menduduki Indonesia dalam Agresi Militer Belanda II pasca kekalahan Jepang oleh Sekutu. Di sisi lain, NU memiliki milisi yang sempat dilatih secara militer oleh Jepang berkat siasat Hasyim Asy’ari, yakni Laskar Hizbullah, yang turut dikobarkan semangatnya melalui Resolusi Jihad NU.

Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) menjelaskan, pada 21 dan 22 Oktober 1945, wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci) melawan penjajah.

Beberapa pentolan yang dikumpulkan oleh Kiai Hasyim di dua hari itu adalah Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri, dan para kiai lainnya. Mereka berkumpul di kantor PBNU, Bubutan, Surabaya. Dalam pertemuan itu, lahirlah Resolusi Jihad NU 22 Oktober.

Ulama NU menegaskan, umat dan ulama di berbagai daerah punya hasrat besar untuk menegakkan agama Islam dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Hal itu tertuang dalam pertimbangan Resolusi Jihad: “mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum Agama Islam, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam” dikutip dari Piagam Perjuangan Kebangsaan, yang ditulis oleh Abdul Mun’im DZ (2011).

Syahdan, pasca kemerdekaan, khususnya ketika Orde Baru melakukan kanalisasi untuk memperkecil peranan santri, mereka (para santri dan kiai) tetap bertahan dengan prinsip dan falsafah hidup mereka. Pesantren justru kian berkembang dan mandiri.

Bahkan, tanpa Negara dan kemanusiaan memanggil pun, kaum sarungan telah terpanggil dan bahu-membahu merebut kemerdekaan dengan keringat, darah, air mata dan doa. Tidak ada yang lebih berani menyabung nyawa sebagai martir untuk kemerdekaan dan kedaulatan melawan kekejaman penjajah selain kiai dan para santri.

Lalu Apa Tugas Para Santri dan Kiai Sekarang?

Tak bisa dipungkiri lagi, selain terlibat langsung di tengah-tengah pertempuran, Kiai, bertugas menyembuhkan luka dan trauma penjajahan Belanda, Jepang, maupun penjajahan lainnya. Kini, tugas Kiai adalah menetralisir kegilaan zaman (now), di mana mabuk agama dan kekuasaan hampir sulit dibedakan. Tak ayal, modernitas, pada gilirannya, membawa manusia pada kemajuan (saintek) satu sisi, dan kemunduran (pekerti) di sisi lain (kekeringan spiritualitas agama).

Bagaimana teknologi secara tak terduga menghasilkan monopoli. Perusahaan teknologi telah mengalihkan kekuatan ekonominya ke kekuatan politik melalui lobi, tetapi cara-cara perusahaan-perusahaan tersebut sangat berbeda dari monopoli “tradisional”: Dengan memiliki platform tempat materi diterbitkan, mereka memiliki pengaruh penting terhadap opini publik dan aktivisme itu sendiri.

Ini adalah konsekuensi penting terhadap bagaimana warga negara mempraktikan “kemerdekaan berserikat”, yang menjadi dasar bagi masyarakat sipil independen dan sebuah benteng melawan tirani. Dalam perjalanannya, kita sedang menuju tahap akhir monopoli ini, tidak hanya ekonomi atau politik, tetapi juga budaya dan gagasan.

Jamie Bartlett dalam bukunya Matinya Demokrasi Dan Kuasa Teknologi mengatakan, gambaran paling ekstrim, dan dalam beberapa tahun mendatang mungkin paling mendesak, tentang bagaimana teknologi digital mendorong ketimpangan adalah terciptanya monopoli massal teknologi. Masalah ini saling berhubungan, meskipun sedikit berbeda. Kecenderungan perusahaan-perusahaan kuat untuk mendistorsi politik karena kekuatan dan ukuran perusahaan-perusahaan tersebut.

Tak hanya itu, sambung Jamie Bartlett, skala dan ukuran monopoli hari ini benar-benar baru. Kembali pada tahun 1990-an banyak yang memprediksi internet akan melenyapkan monopoli, tidak menciptakan monopoli. Pemikiran yang populer pada waktu itu, diulang secara terus-menerus oleh para guru digital dan futurolog, adalah Internet mendesentralisasi dan menghubungkan, sehingga secara otomatis mengarah pada sebuah pasar kompetitif dan terdistribusi. Tidak seorang pun tahu tepatnya bagaimana, tetapi tokoh berpengaruh seperti Chris Anderson menyebut ini sebagai “eceran” dan sangat girang dengan itu.

Menurut Gus Dhofir Zuhri, hal lain yang tak kalah pentingnya menjadi tugas para kiai dan santri adalah, tentang 4-T, yakni: pertama ideologi takfiri alias gemampang teriak kafir-thoghut-PKI-Yahudi secara membabi buta kepada siapapun yang berbeda. Kedua tasyriki atau sangat rajin menuduh syirik-liberal ke segala penjuru.

Ketiga tabdi’i alias kerap membid’ah-bid’ahkan seenak perut, dan keempat adalah tasykiki atau menyebar propaganda negatif dan berita bohong lewat buzzer-buzzer bayaran dan ustadz-ustadz sewaan dengan politisasi masjid agar timbul keraguan, kebencian, sentimen bermuatan SARA, kekacauan nasional dan pada gilirannya berjamaah menjadi pengikut meraka. Narasi-narasi sampah semacam inilah yang gentayangan di jagad medsos.

Ironisnya, sambung Gus Dhofir, mereka lazim menganut paham hitam-putih dalam beragama dan bahkan bernegara, sehingga tidak mentolerir warna-warni yang lain dan tidak membiarkan orang lain riang-gembira dengan warnanya masing-masing. Mereka (karena pemahaman agamanya sebatas simbol) kerap uring-uringan, bersungut-sungut, marah, alergi, ayan, kejang-kejang dan ketakutan dengan lambang tertentu, logo, geometri, gambar, seperti salib, segitiga, arca, relief, dll.

Banalitas semacam ini yang menjadi biang keladi kemunduran umat Islam, meski mereka teriak paling beragama dan memang menggalakkan politik agama, karena merekalah pengasong firman Tuhan dan pengecer hadits Nabi demi syahwat politik.

Jika ditelaah secara jujur, salah satu penyebab kemunduran Islam dan agama-agama monoteisme-abrahamik lainnya dalam segala aspek kehidupan dan khususnya Indonesia adalah, ketidak-seimbangan pada etos-etos yang berhamburan dalam tubuh Islam dan kaum muslimin. Dengan kata lain, ada jarak yang terlampau merentang-menganga antara agama dan penganut agama itu sendiri di satu sisi, serta agama dan negara di sisi lainnya.

Sejatinya, menurut Kiai Afifuddin Muhajirin, beragama itu harus memadukan baina al ashalah wa al mu’asharah (antara otentisitas dan kekinian), antara tauhid, tasawwuf dan fiqih, antara wahyu dan akal, antara masa lalu dan masa depan, antara idealitas dan realitas, antara ketuhanan dan kemanusiaan.

Bahwa beragama yang kefiqih-fiqihan cenderung normatif, kaku dan tidak bermoral. Demikian pula beragama yang terlalu ketasawwuf-tasawwufan juga cenderung a-historis, tidak aplikatif dan tidak menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Apalagi jika hanya ketauhid-tauhidan, ia cenderung bathiniyah, a-sosial, dan lebih bahaya lagi jika terjerumus pada “tadlily dan takfiry”, suka menyesatkan dan mengkafirkan.

Mari kembali kepesantren (melek kitab kuning) sebuah lanskap keislaman yang menjadi primadona kaum sarungan yang sangat kaya dengan dinamika pertarungan intelektual, di mana ragam berbagai disiplin keilmuan dirayakan sedemikian terbuka dengan argumentasi-argumentasi ilmiah.

Kitab kuning warisan para ulama klasik dari berbagai penjuru dunia, sekian disiplin intelektual dan khazanah spiritual dengan berbagai mazhab, menyatu-berpadu dengan kearifan tradisi khas Indonesia di Pesantren. Karena itu, kekhasan Islam-Indonesia adalah Pesantren, bukan yang lain. Wallahu a’lam bisshawaab.

Salman Akif Faylasuf

Salman Akif Faylasuf. Alumni Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di Ponpes Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Iklan Post 2

نموذج الاتصال