Hakikat Lebaran Terapi Modernitas Menurut Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat


Prof. Dr. Jalaluddin Rakmat lahir di Bandung pada 29 Agustus 1949 dan wafat Februari 2021 akibat Virus Corona. Ia adalah sarjana ilmu komunikasi lulusan Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Master of Science dari IOWA State University. 

Dr. Jalaluddin Rakmat menyatakan bahwa Idul Fithri sama di seluruh dunia Islam, tetapi lebaran khas Indonesia. Lebaran adalah contoh manis tentang bagaimana idom-idom Islam  diterjemahkan secara kreatif ke alam budaya Indonesia.

 Gemuruh Takbir terdengar dimanapun,tetapi irama takbir Indonesia sangat unik, irama gamelan dengan tempo lambat dan menyayat hati.

 Hanya di Indonesia, Anda akan menemukan arus mudik, penumpang yang berdesakan,wajah-wajah terseok kelelahan, tentengan yang berat dan mata yang berbinar-binar karena kembali ke kampung halaman.

Pada hari H-nya orang-orang berbondong-bondong ke tanah lapang, yang istimewa dengan negeri ini adalah banyaknya tanah lapang yang dipergunakan dan banyak peserta Shalat Id yang tidak terbiasa shalat wajib. Juga istimewa, banyaknya orang berziarah ke kuburan. Mereka datang dengan pakaian yang bagus dan warna yang menyala lalu menabur bunga sambil berdoa.

Di Indonesia, lebaran dijadikan sebagai hari khusus untuk bersilaturahim yang kita Indonesiakan dengan istilah Halal Bihalal. Setiap rumah terbuka lebar dan orang-orang berpapasan dengan mengobral senyum. Bila kita mempergunakan konsep untuk mengabstarksikan realitas, memang lebih baik kita menggunakan konsep lebaran dari pada Idul Fithri karena lebaran tidak persis sama dengan Idul Fithri. Ketika membahas makna lebaran, sebaiknya kita tidak merujuk pada teks-teks yang universal.

Sungguh tidak relevan mengatakan bahwa tradis mudik, ziarah ke kubur, dan bersalaman khusus pada lebaran tidak termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Ketiganya memang bukan amalan Idul Fithri, ia hanyalah tradisi lebaran. Untuk lebaran rujuklah budaya pribumi yang partikular. Yang kita perlukan bukan lagi tinjauan Fiqih tetapi analisis sosioantropologis.

Lebaran Sebuah Perjalanan Melintas Waktu

Secara singkat, dalam bahasa yang populer, kita menjadi modren dengan kehilangan rasa kemanusiaan kita. Kita sibuk dengan kegiatan sehari-hari kita sehingga hampir tidak sempat lagi memperhatikan keluarga kita. Kita kehilangan rasa sayang, bahkan semua emosi kita yang manusiawi. Sebagai gantinya kita mengembangkan sikap yang kasar, mementingkan diri sendiri dan agresif. Otot-otot kita setiap saat siap menerkam orang lain yang sudah kita pandang sebagai mangsa. Kita mengembangkan struktur sosial ayam yang besar berusaha mematuk yang lemah dan seterusnya.

Kita menjadi materialistis !. Kita siap mengorbankan perasaan kemanusiaan kita yang luhur sekalipun untuk memperoleh keuntungan material sebanyak-banyaknya. Pada tingkat penguasa atau penguasa, kita memandang rakyat untuk kita manipulasi dengan kepentingan kita. Kita tidak melihat lagi mereka sebagai sosok yang mempunyai perasaan, mempunyai sanak keluarga.

Pada tingkat orang yang kecil, kita menemukan orang-orang yang membunuh rasa kekeluargaannya hanya untuk memperoleh sesuap nasi. Kota-kota besar jantungnya modrenisasi telah menjadi Rumah Sakit Jiwa yang besar. Semua orang sakit, termasuk para dokter dan petugas rumah sakit.

 Penyembuhan individual sangat sulit. Diperlukan penyembuhan massal. Terapi yang diberikan haruslah membuat orang manusiawai dan memperlakukan orang lain secara manusiawi pula. Mereka harus berangkat  dari semangat memiliki material ke semangat kekeluargaan spritual. Dari mengambil ke memberi.

Itulah makna Mudik. Dengan mudik, orang-orang sudah kehilangan makna dirinya dalam hiruk pikuk kota ingin menemukan kembali masa lalunya di kampung. Mereka ingin meninggalkan sejenak kota-kota yang garang untuk menikmati kembali wajah-wajah kampung yang ramah. 

Mereka ingin mengungkapkan kembali perasaan kekeluargaan yang menyejukan. Maka anda akan melihat anak yang hilang bersimpuh dihadapan orangtuanya, memohon maaf seraya menangis terisak-isak.

Suami istri menjalin kembali cinta kasih mereka, setelah setahun penuh menjadi orang-orang yang asing yang tidak saling mengenal. Para sahabat dan tetangga saling menegur dan saling memberi setelah selama setahun mereka saling bersaing dan saling memeras. Itu makna silaturahim atau halal bihalal ? Istilah halal bihalal walaupun tidak akan pernah dipahami orang Arab, seakan-akan menunjukan lebaran sebagai tempat perilaku yang halal setelah pada hari-hari yang lain kita melakukan yang haram.

Silaturahim tidak hanya ditujukan kepada orang yang masih hidup tetapi juga yang sudah mati. Mereka mewakili masa lalu. Orang-orang modren yang sudah dicabut dari akar sejarahnya perlu sekali-kali kembali kepadanya. Mereka harus akrab lagi dengan dunia mereka yang karena modrenisasi telah diasingkan dari mereka. Karena itu, biarkanlah mereka mengarungi darat, laut dan angkasa, bersimbah keringat dalam kendaraan.

Perjalanan mereka adalah perjalanan yang melintas waktu (perjalanan historis). Mereka telah membawa masa kini mereka ke masa lalu supaya memperoleh kekuatan buat menempuh masa depan. Mudik, Silaturahim, ziarah ke kuburan adalah kreasi bangsa yang menakjubkan. Ketiganya berfungsi sebagai terapi untuk manusia modren. Sayangnya kebanyakan yang mudik adalah orang-orang yang kecil.

Generasi kecil menurut Denis Goulet adalah generasi yang dikorbankan untuk masa depan pembangunan yang disajikan. Memang mereka yang tertindas, mereka yang hampir putus asa, mereka yang kehilangan jati diri memperoleh wujud mereka ketika mudik. Mudik bukan hanya semata-mata hiburan seperti kata Gus Dur tetapi juga terapi masal yang biayanya tidak membebani pemerintah. Alangkah baiknya para penguasa dan pengusaha pun mudik, silaturahim dan ziarah kubur karena kelak bila kedua kelas ini bertemu lagi di kota, mereka bukan lagi robot.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال