Tugas Abu Bakar Ash Shiddiq Sesudah Peristiwa Isra Mikraj

Tugas Abu Bakar Ash Shiddiq Sesudah Peristiwa Isra Mikraj

KULIAHALISLAM.COM - Nabi Muhammad SAW sedang berbicara kepada penduduk Makkah bahwa Allah SWT telah memperjalankan malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan Nabi sedang bersembayang di sana. 

Orang-orang musyrik menganggap Nabi itu bohong bahkan Nabi diperolok-olok. Ada diantara mereka berkata “Perjalanan kafilah Makkah ke Syam yang terus-menerus memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana mungkin hanya dalam satu malam saja Muhammad SAW pergi dan pulang ke Makkah.”

Abu Bakar langung menemui Rasulullah SAW di Masjid dan mendengarkan Nabi yang sedang melukiskan keadaan Baitul Muqaddas. Mendengar hal itu, Abu Bakar langsung berkata “Rasulullah saya percaya”. Semenjak itu Nabi Muhammad SAW memanggil Abu Bakar dengan “Ash-Shiddiq” artinya orang yang mencintai kebenaran.

Mengapa Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung mempercayai ucapan Nabi ? Karena Abu Bakar Ash-Shiddiq sudah sering mengunjungi Baitul Muqaddas untuk berdagang. Tidak hanya Abu Bakar Ash-Shiddiq, dalam Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan ada seseorang laki-laki yang baru tiba dari Baitul Muqaddas, mendengar Nabi kemudian langsung mempercayainya.

Dr. Muhammad Husein Haekal (Sejarawan terkemuka dari Mesir) menyebutkan : Sekiranya Abu Bakar juga meragukan apa yang diceritakan Rasulullah SAW tentang Isra’ Mi'raj itu, maka apa pula kiranya yang akan terjadi dengan agama yang baru tumbuh ini ? 

Dapatkah orang memperkirakan beberapa banyak jumlah orang yang akan menjadi murtad ? Pernahkah kita ingat, betapa jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq ini memperkuat keyakinan orang banyak dan betapa pula ketika itu telah memperkuat kedudukan Islam ?

Kalau dalam hati orang sudah bertanya-tanya, sudah memperkirakan dan sudah pula ingat, niscaya ia tidak akan ragu-ragu lagi memberikan penilaian, bahwa iman yang sungguh-sungguh adalah kekuatan yang paling besar dalam hidup kita ini, lebih besar daripada kekuatan, kekuasaan dan despotisma sekaligus. 

Kata-kata Abu Bakar Ash-Shiddiq ini sebenarnya merupakan salah satu inayah Illahi demi agama yang benar ini. Kata-kata itulah sebenarnya yang merupakan pertolongan dan dukungan yang besar, melebihi dukungan yang diberikan oleh kekuatan Hamzah (paman Nabi yang gugur dalam Perang Badar) dan Umar bin Khattab. 

Ini memang suatu kenyataan apabila di dalam sejarah Islam, Abu Bakar Ash-Shiddiq mempunyai tempat tersendiri sehingga Rasulullah SAW berkata “Kalau ada di antara hamba-hamba Allah SWT yang akan kuambil sebagai khalil (teman kesayangan), maka Abu Bakar adalah khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita.”

Kata-kata Abu Bakar Ash-Shiddiq mengenai Isra’ itu menunjukan pemahamanya yang dalam tentang wahyu dan risalah, yang tidak dapat ditangkap oleh kebanyakan orang. 

Disinilah pula Allah telah memperlihatkan kebijakan-Nya tatkala Rasulullah memilih seorang teman dekatnya saat ia dipilih oleh Allah menjadi Rasul-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia.

Itulah bukti yang kuat bahwa “kata yang baik seperti pohon yang baik, akarnya tertanam kukuh dan cabangnya menjulang ke langit, dengan jejak yang abadi sepanjang zaman dengan karunia Allah, ia tak akan dikalahkan oleh waktu dan takan dilupakan.”

Tugas Abu Bakar Ash-Shiddiq Sesudah Isra’ Mi'raj

Dr. Muhammad Husein Haekal menyatakan bahwa sesudah peristiwa Isra’ Mi'raj itu, sebagai orang yang cukup berpengalaman akan seluk beluk perbatasan, Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap menjalankan usaha dagangnya. 

Sebagian besar waktunya ia gunakan untuk menemani Rasulullah SAW dan untuk menjaga orang-orang lemah yang sudah masuk Islam, melindungi mereka dari gangguan kaum Kafir Quraisy.

Sementara kaum Kafir Quraisy begitu keras mengganggu Nabi dan Abu Bakar Ash-Shiddiq serta kaum Muslimin lainnya. Dalam sumber lain menyebutkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq bermaksud pergi berhijrah bersama-sama sejumlah kaum Muslimin ke Abisinia, tetapi ia bertemu dengan Rabiah bin ad-Dughunnah.

Rabiah bin ad-Dughunnah berkata pada Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Wah jangan ikut hijrah. Engkau penghubung tali kekeluargaan, engkau yang membenarkan peristiwa Isra’, membantu orang yang tak punya dan engkau yang mengatur pasang surutnya keadaan.”

Mendengar itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian memberikan perlindungan kepada Rabiah dan Abu Bakar tetap tinggal di Makkah.

Abu Bakar mendirikan sebuah Masjid dirumahnya dan di tempat itu ia senantiasa beribadah dan membaca Al-Qur’an. Sekarang Kafir Quraisy merasa khawatir karena banyak pemuda-pemuda mereka akan tergoda masuk Islam.

Usaha-Usaha Mencegah Gangguan Kafir Quraisy

Muhammad Husein Haekal menyebutkan bahwa kalaupun buku-buku sejarah dan mereka yang menulis biografi Abu Bakar tidak menyebutkan usahanya, apa yang disebutkan itu sudah memadai juga.

Tetapi sungguhpun begitu dalam hati saya (Muhammad Husain Haekal) terbayang jelas segala perhatiannya itu, serta hubungannya yang terus menerus dengan Hamzah, dengan Umar bin Khattab, dengan Utsman bin Affan serta dengan pemuka-pemuka Muslim lainnya untuk melindungi golongan yang lemah yang sudah masuk Islam dari gangguan kafir Quraisy.

Bahkan saya (M. Husain Haekal) membayangkan hubungannya dulu dengan kalangan luar Islam dengan mereka yang tetap berpegang pada kepercayaan mereka, tetapi berpendapat bahwa kafir Quraisy tidak berhak memusuhi orang yang tidak sejalan dengan kepercayaan mereka dalam menyembah berhala-berhala itu. 

Setelah dengan izin Allah, agama Islam mendapat kemenangan dengan kekuatan penuh di Yastrib (Madinah) sesudah kedua Ikrar Aqabah, Nabi pun mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke Yastrib (Madinah).

Sumber : Dr. Muhammad Husain Haekal dalam karyanya “Abu Bakr Ash-Shiddiq” yang diterbitkan Litera Antar Nusa. Muhammad Husain Haekal merupakan pakar sejarah dan kebudayaan Islam dari Mesir yang terkenal di dunia melalui karyanya : Hayatu Muhammad. 

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال