KH Hasyim Asy'ari, Dari Era Kolonial Hingga Persoalan Pemikiran (1)

KH Hasyim Asyari, Dari Era Kolonial Hingga Persoalan Pemikiran (Sumber gambar tangkapan layar Kanal YouTube Dari Langit)

KULIAHALISLAM.COMMasa awal hidupnya, KH Hasyim Asy’ari bukanlah seorang aktivis politik dan bukan pula musuh penjajah dan belum peduli untuk menyebarkan ide-ide doktrin politik, dan umumnya tidak keberatan dengan kebijakan-kebijakan penjajah selama tidak membahayakan keberlangsungan ajaran-ajaran Islam. 

Itu artinya, pemikiran kebangsaannya tidak seperti para tokoh nasional-sekuler. KH Hasyim Asyari tak menampakkan tindakanya terhadap penjajah. Meski demikian, setiap kebijakanya dapat membahayakan bagi penjajah. Tak heran jika KH Hasyim Asyari selalu mendapat ancaman dari penjajah. 

Namun, ancaman itu tidak mengendorkan semangatnya untuk terus melakukan kebijakan demi kemaslahatan umat Islam Indonesia. Seluruh hidupnya dihabiskan hanya untuk mengabdi dan menyebarkan agama Islam. Keseharianya dipenuhi dengan dakwah dan mengajar di pondok pesantren. 

Sesekali KH Hasyim Asyari juga disibukkan dengan organisasi perkumpulan para ulama sejawa Timur dan Jawa Tengah yang disebut organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU). Setelah mendalami ilmu di berbagai Pesantren dan di Makkah, KH Hasyim Asyari kembali ke Indonesia untuk mendirikan pesantren Tebuireng. 

Tepatnya pada 1926, KH Hasyim Asy’ari bersama muridnya KH Wahab Hasbullah mendirikan suatu organisasi tradisionalis yakni Nahdlatul Ulama. Sebelum mendirikan NU, terlebih dahulu beliau izin kepada salah satu gurunya.

Gurunya yaitu KH Kholil Bangkalan. Setelah mendapat restu dari gurunya KH Hasyim Asyari diberikan sebuah tasbih dan tongkat sebagai simbol tugas dan kepemimpinan atas berdirinya NU, melalui perantara KH As’ad Syamsul Arifin.

Tak lain dan tak bukan, tujuan berdirinya NU bukan semata-mata untuk mencari popularitas dan kekuasaan semata. Organisasi Nahdlatul Ulama berusaha mempertahankan nilai-nilai tradisional Islam yang selama ini kita ikuti. 

Namun, nilai-nilai tradisional yang di pandang oleh sejumlah kalangan merupakan ajaran dan metode yang sukses di lakukan oleh Wali Songo sudah mulai di usik kemapananya. 

Karena itu KH Hasyim Asy’ari dan sejumlah ulama di Jawa Timur dan Jawa Tengah membuat organisasi yang berusaha melestarikan ajaran tradisional dan tetap bernafaskan Ahlus sunnah wal jamaah.

Tentu kelahiran NU selain sebagai upaya menjaga prinsip dan khazanah Islam tradisional dan penetrasi yang dilakukan oleh Islam modernis, juga mengusung motif sosial dalam melakukan pembelaan kepentingan golongan Islam tradisional. 

NU juga didirikan merupakan wadah perjuangan untuk menentang segala bentuk penjajahan dan merebut kemerdekaan NKRI dari penjajah Belanda dan Jepang, sekaligus aktif melakukan dakwah-dakwahnya untuk senantiasa menjaga kesatuan negara Republik Indonesia dalam wadah NKRI. 

Nasionalisme timbul karena NU lahir dengan niatan kuat untuk menyatukan para tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Semangat nasionalisme itu pun terlihat juga dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni Kebangkitan Para Ulama.

Melawan Kolonial Belanda

KH Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh perjuangan yang mewakili umat Islam dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda. Penderitaan yang dialami bangsa Indonesia dan pengekangan terhadap kebebasan menjalankan perintah agama, mendorong KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa tentang jihad melawan Belanda. 

Jihad yang dideklarasikannya dicatat dalam sejarah sebagai jihad kebangsaan. Indonesia yang saat itu dalam posisi terjajah mempunyai hak untuk memerdekakan diri dari berbagai penindasan yang dilakukan para penjajah. 

Sebagai ulama kharismatik, KH Hasyim Asy’ari menggelorakan semangat perjuangan untuk menentang penjajahan Belanda, terutama dikalangan anak muda dan para santri. Beliau mengajak mereka untuk berjihad melawan penjajah dan menolak kerjasama dengan penjajah tersebut.

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari melawan penjajah sebenarnya sudah dimulai pada saat menata Pesantren Tebuireng, dimana banyak rintangan dan hambatan pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah kolonial Belanda senang melihat kaum Muslim dalam posisi terbelakang sehingga tidak dapat melakukan perlawanan terhadapnya. 

Bentuk perjuangan KH. Hasyim Asy’ari ketika Indonesia dijajah Belanda adalah ketika beliau berikrar di Multazam, sewaktu melakukan haji untuk kedua kalinya. Beliau berikrar bersama temannya yang bukan hanya berasal dan Indonesia, tapi juga dari Malaysia, benua Afrika, dan Timur Tengah. 

Mereka mengikrarkan diri untuk mengabdikan ilmuannya pada kejayaan Islam dan masyarakat di negaranya masing-masing agar segera terlepas dan penjajah. Jihad kebangsaan yang dideklarasikan oleh KH Hasyim Asy’ari tersebut sangat efektif dalam membakar patriotisme umat, sehingga para penjajah dapat dilenyapkan dari Bumi Pertiwi. 

Faktanya, para penjajah menunjukkan sikap intoleransi terhadap rakyat Indonesia. Pesantren Tebuireng merupakan salah satu sasaran tindakan represif penjajah. Pada tahun 1913, telik sandi Belanda membuat sebuah modus licik dengan cara mengirim seorang pencuri ke Tebuireng. Lalu, para santri menangkap pencuri tersebut dan memukulinya hingga tewas.

Kendati demikian, jihad menjadi ikon solidaritas yang mampu mengetuk hati kaum muslim untuk melakukan perlawanan kepada pemerintah kolonial. Konsep ini pertama kali didengungkan pada akhir abad ke-17, ketika kerajaan Mataram dan Banten jatuh ke tangan Belanda. 

Kaum Muslim Nusantara telah mengenal konsep ini sejak lama, lewat buku-buku tentang Islam dan lewat pengajian-pengajian di masjid. Tapi sebelum itu, tidak begitu jelas apa makna jihad dan bagaimana menerapkannya. Baru setelah mereka berhadapan secara nyata dengan kaum kafir, arti dan hakikat makna jihad menjadi jelas.

Belanda tidak tinggal diam dan mencari berbagai cara untuk melakukan penindasan terhadap KH Hasyim Asy’ari. Belanda mengirimkan tentaranya dalam jumlah besar untuk menghancurkan fasilitas Pesantren Tebuireng dengan dibakar, baik bangunan maupun kitab-kitab milik pesantren. Bahkan, kitab-kitabnya juga dibakar. 

Perlakuan tidak manusiawi itu berlangsung hingga tahun 1940-an. Konon, saat Pesantren Tebuireng dibakar habis, KH Hasyim Asy’ari mengungsi ke Pesantren Kapurejo, Kediri yang saat itu pengasuhnya adalah Kiai Hasan Muhyi, salah satu pengikut Pangeran Diponogoro. 

Sesampainya di Kapurejo, beliau langsung mengembangkan keagamaan terutama di sektor pendidikan. Menariknya, sampai saat ini dhalem peninggalan Kiai Hasyim masih ada dan persis utuh seperti dulu. KH Hasyim Asy’ari dan pesantrennya terus diawasi oleh telik sandi penjajah. 

Bahkan, karena sikap keras beliau menyebabkan penjajah akhirnya berusaha membunuhnya dan membakar habis pesantrennya. Namun, lagi-lagi hal itu tidak pernah menyurutkan perjuangan beliau, karena dengan segera pesantren itu dibangun kembali dan beliau masih bisa bersikap keras terhadap penjajah.

Tak hanya itu, KH Hasyim Asy’ari dianggap sebagai provokator yang cukup berbahaya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sehingga seluruh aktivitas yang dijalaninya tidak pernah lepas dari pengawasan Belanda. 

Dalam situasi tersebut, KH Hasyim Asy’ari tetap menjalankan segala aktivitas sosial-keagamaannya dengan penuh semangat, terus memberikan semangat dan motivasi kepada rakyat Indonesia untuk selalu berjuang hingga titik darah penghabisan.

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari tidak surut, tetapi terus menggelorakan semangat jihad dan berdampak pada bangkitnya perlawanan umat Islam dan pembentukan laskar-laskar jihad, seperti Hizbullah dan Sabilillah dalam perlawanan bersenjata melawan Belanda. 

Peran KH Hasyim Asy’ari dalam ikut mewujudkan Indonesia merdeka dan berdaulat secara politik tidaklah kecil. Melalui pesantren yang didirikannya, kemudian juga lewat jam’iyah NU, KH Hasyim Asy’ari menanamkan nasionalisme dan patriotisme sehingga mengobarkan api perlawanan rakyat terhadap kolonialisme yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. 

Cengkeraman imperialisme dan hegemoni kolonial terhadap rakyat, tidak hanya terbatas pada aspek lahir seperti ekonomi, politik dan sebagainya, tetapi lebih dari itu, telah menguasai kesadaran dan rasionalitas mereka.

Melawan Jepang

Syahdan, perlawanan yang ditunjukkan oleh KH. Hasyim Asy’ari terhadap kolonial Belanda juga ditunjukkan ketika Jepang menjajah Indonesia. Ketika Jepang berkuasa, umat Islam masih harus berhadapan dengan pemerintah yang zalim. 

Begitu Jepang berhasil mengusir Belanda keluar dari Jawa, prioritas pertama mereka adalah mengontrol warga, melarang segala aktivitas politik, memadamkan setiap gejolak dan mengatur ketertiban masyarakat. 

Ketika merasa bahwa prioritas tersebut telah tercapai, mereka mengalihkan prioritas mereka untuk memobilisasi rakyat Jawa, sehingga memperkokoh pertahanan Jepang terhadap kemungkinan serangan balasan dan tentara sekutu yang pada akhirnya tidak terjadi.

KH Hasyim Asy’ari sebagai pejuang sejati dan pahlawan terhadap pendudukan Jepang adalah ketika ia menolak segala bentuk niponisasi, seperti menyanyikan lagu Kimigayo dan mengibarkan bendera Jepang serta melakukan Seikerei (kewajiban memberikan penghormatan dengan cara membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketundukan kepada Dewa Matahari). 

Sikap tersebut mendapatkan respons represif dari tentara Jepang, akibatnya KH Hasyim Asy’ari serta sejumlah putra dan sahabatnya diringkus dalam penjara, ia dipenjara selama tiga bulan. Perintah tersebut bukan hanya ditolak oleh KH Hasyim Asy’ari, namun beliau juga menyerukan kepada seluruh penduduk Indonesia terutama warga NU untuk tidak melakukannya, karena dianggap perbuatan menyekutukan Tuhan.

Sangat ironis, kabarnya, beliau dipindah-pindahkan dari penjara Jombang, Mojokerto, lalu ke Bubutan, Surabaya. Perlakuan Jepang terhadap KH Hasyim Asy’ari begitu kasar, jari tangannya patah sehingga tidak bisa digerakkan. 

Penahanan tersebut berakibat pada terhentinya aktivitas Pesantren Tebuireng, termasuk aktivitas pendidikan, sebagai bentuk keprihatinan terhadap musibah yang dialami KH Hasyim Asy’ari. Bahkan istrinya, Nyai Masrurah, mengungsi ke Pesantren Denanyar selama suaminya di penjara.

Akhirnya, terjadilah perlawanan secara massif terutama di kalangan pesantren, dan bahkan pengurus NU perlu bertemu secara khusus untuk membahas penahanan tersebut serta membahas penentuan sikap akan upaya perlawanan terhadap Jepang. 

Dengan kuasa Tuhan, pada bulan Agustus 1942 Jepang kemudian membebaskan KH Hasyim Asy’ari setelah menyadari bahwa, tindakannya itu justru kontraproduktif dan menimbulkan keresahan yang luas terutama di kalangan ulama dan warga NU. Semuanya adalah contoh bagaimana KH. Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama pesantren, berperan menanamkan jiwa kebangsaan dan patriotisme dalam mengusir penjajah.

Salman Akif Faylasuf

Salman Akif Faylasuf. Alumni Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال