Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Agama Islam (2)

(Sumber Gambar: Fitrah)

KULIAHALISLAM.COM - Pendidikan karakter merupakan materi yang harus dicatat dan diingat serta tidak dapat dicapai dalam jangka waktu tertentu, namun pembelajaran karakter merupakan suatu penemuan yang diterapkan dalam semua latihan siswa baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah melalui penyesuaian, model, dan kendaraan. Oleh karena itu, pencapaian pembinaan karakter merupakan kewajiban bersama antara sekolah, jaringan dan wali. Penilaian pencapaian pelatihan karakter, tentu saja, tidak dapat diukur dengan tes perkembangan atau sumatif yang dinyatakan dalam skor. Bagaimanapun, tolok ukur pencapaian sekolah karakter adalah pengembangan siswa yang berkarakter; karakter, halus, ramah, ketat, inventif, imajinatif yang diterapkan dalam hidup selama hidupnya. Dengan cara ini, jelas tidak ada perangkat penilaian yang sesuai yang dapat menunjukkan pencapaian pelatihan karakter.

Penataan karakter sebagai satu kesatuan siklus mental dan sosial-sosial dapat dirangkum menjadi: Hati (Pergantian Peristiwa yang Mendalam dan Bergairah), Pikiran (Pergantian Peristiwa Secara Ilmiah), Olahraga dan Sensasi (Peningkatan Fisik dan Sensasi), serta Olah Rasa dan Karsa (Penuh perasaan Kemajuan) dan peningkatan daya cipta). Keempat proses psikososial (pemikiran, latihan, dan keyakinan dan tujuan) secara komprehensif dan serasi saling berhubungan dan timbal balik, yang mendorong pengembangan karakter yang merupakan lambang kualitas terhormat emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Keempat proses psikososial (olah hati, olah pikir, olah raga, dan olahrasa dan karsa) tersebut secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur.[1]

Pendidikan agama merupakan salah satu materi yang bertujuan meningkatkan akhlak mulia serta nilai-nilai spiritual dalam diri anak. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama mempunyai peranan yang penting dalam melaksanakan pendidikan karakter disekolah. Oleh karena itu Pendidikan agama menjadi salah satu mata pelajaran wajib baik dari sekolah tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi. Maka sekolah harus mampu menyelenggarakan pendidikan agama secara optimal dengan cara mengaplikasikan nilainilai agama dalam lingkungan sekolah yang dilakukan oleh seluruh guru dan peserta didik secara bersama-sama serta berkesinambungan. Hal yang juga sangat menarik jika sekolah mampu menyusun kurikulum dengan menerapkan nilai-nilai agama yang tercermin dalam setiap mata pelajaran,

Pada dasarnya pendidikan agama menitik beratkan pada penanaman sikap dan kepribadian berlandaskan ajaran agama dalam seluruh sendi-sendi kehidupan siswa kelak. Sehingga penanaman nilai-nilai agama seyogyanya tercantum dalam keseluruhan mata pelajaran dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh guru. Muatan kurikulum pendidikan agama dijelaskan dalam Lampiran UU no 22 tahun 2006, termasuk didalamnya kurikulum pendidikan agama Islam dengan tujuan pembelajarannya adalah menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.[2]

Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik.

Pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek knowledge, feeling, loving dan action. Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan “latihan otot-otot akhlak” secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat (Asmaun Sahlan, 2013; Muslich, 2011). Pengembangan aspek-aspek pendidikan karakter diutamakan pada karakterkarakter dasar yang menjadi landasan untuk berperilaku dari setiap individu.

Indonesia Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter, antara lain : 1). Cinta kepada allah dan semesta beserta isinya, 2). Tanggung jawab, disiplin dan mandiri, 3). Jujur, 4). hormat dan santun, 5) Kasih sayang, peduli, dan kerja sama, 6). Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, 7) Keadilan dan kepemimpinan, 8) baik, rendah hati, dan 9). Toleransi, cinta damai dan persatuan (Purwanti, 2012). Pendidikan sebagai upaya pembentukan karakter adalah bagian integral dari orientasi pendidikan Islam. Tujuannya adalah membentuk kepribadian seseorang agar berperilaku jujur, baik dan bertanggungjawab, menghormati dan menghargai orang lain, adil, tidak diskriminatif, egaliter, pekerja keras dan karakter- karakter unggul lainnya. Menurut Megawangi dalam (Majid & Andayani, 2011; Malik, R, & S, 2013)Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikanya dalam kehidupan seharihari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkunganya.[3]

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, Penanaman dan pembentuk karakter adalah sangat penting dan perlu dilakukan kepada setiap anak, siswa, peserta didik sejak dini karena mereka adalah calon generasi penerus dan pemimpin keluarga dan masyarakat bangsa dimasa depan sesuai dengan cita-cita Pendidikan nasional.

Penanaman karakter pada anak sejak dini berarti ikut mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, mereka adalah calon generasi bangsa yang diharapkan mampu memimpin bangsa dan menjadikan negara yang berperadaban, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dengan akhlak dan budi pekerti yang baik serta menjadi generasi yang berilmu pengetahuan tinggi dan menghiasi dirinya dengan iman dan taqwa. 

Oleh karena itu, pembelajaran Pendidikan agama islam (PAI) sangat penting sebagai salah satu upaya pembentukan karakter siswa di sekolah, pondok pesanteran dan keluarga. Pembentukan karakter akan lebih baik jika muncul dari kesadaran keagamaan setiap siswa dan guru (stakeholder) bukan hanya karena sekedar berdasarkan perilaku yang membudaya dalam keluarga dan masyarakat.

Indikator keberhasilan pendidikan Karakter adalah jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good) (bersifat kognitif), kemudian mencintai yang baik (loving the good) (bersifat afektif), dan selanjutnya melakukan yang baik (acting the good) (bersifat psikomotorik).

Uraian di atas memperkuat pentingnya pendidikan karakter pada anak dilakukan sejak dini, karena karakter seseorang muncul dari sebuah kebiasaan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama serta adanya teladan dari lingkungan sekitar. Pembiasaan itu dapat dilakukan salah satunya dari kebiasaan prilaku keberagamaan anak dengan dukungan lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga. Sedangkan upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam memaksimalkan pembelajaran PAI di sekolah di antaranya:

1) dibutuhkan guru yang profesional dalam arti mempuni dalam keilmuannya, berakhlak dan mampu menjadi teladan bagi siswanya,

2) pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi ditambah dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang dilaksanakan dengan serius sebagai bagian pembelajaran,

3) mewajibkan siswa melaksanakan ibadahibadah tertentu di sekolah dengan bimbingan guru (misalnya rutin melaksanakan salat zduhur berjamaah),

4) menyediakan tempat ibadah yang layak bagi kegiatan keagamaan,

5) membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah dan dilakukan oleh seluruh komunitas sekolah (misal program salam, sapa, dan senyum),

6) hendaknya semua guru dapat mengimplementasikan pendidikan agama dalam 12 keseluruhan materi yang diajarkan sebagai wujud pendidikan karakter secara menyeluruh.

Pembentukan karakter peserta didik sangat penting dan tidak boleh diabaikan oleh siapapun untuk masa depan bangsa dan terpeliharanya agama. Pembentukan karakter peserta didik adalah tanggung jawab setiap orang, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku peserta didik.

Pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku peserta didik. Pembentukan karakter melalui Pendidikan agama islam (PAI) yang berkualitas (membaca, mengetahui, dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya) sangat perlu dan tepat serta mudah dilakukan secara berjenjang oleh setiap lembaga secara terpadu melalui manajemen yang baik.

Referensi: 

[1] Permendiknas No 22 Tahun 2006, Op.Cit, h. 2

[2] Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendiknas, Op.Cit, h. 9

[3] PONDOK PESANTREN: LEMBAGA PENDIDIKAN PEMBENTUKAN KARAKTER Imam Syafe’i syafeiimam6@gmail.com Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 8, No I 2017. Hlm 63. 


Fitratul Akbar

Penulis adalah Alumni Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Pegiat isu-isu Filantropi Islam, Kerukunan Beragama dan Perdamaian Dunia.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال