Revolusi Iran di Bawah Imam Ruhullah Khomeini

Peringatan Revolusi Iran ke-34 (sumber gambar : Detiknews.com)

KULIAHALISLAM.COM - Revolusi Iran digerakan oleh Ruhollah Khomeini. Khomeini bernama asli Ruhollah Musavi Khomeini. Ia dilahirkan di Iran pada tanggal 24 September 1902 dan wafat di Teheran, 3 Juni 1989. 

Penambahan huruf “i” di belakang namanya menunjukan bahwa ia berasal dari Kota Khomein, kota kecil yang terletak tidak jauh dari Kota Arak (Iran bagian tengah). 

Sedangkan kata Ayatullah atau Ayatullah al-uzma di depan namanya menunjukan bahwa ia adalah seorang Ulama tekemuka.

Ayatullah Khomeini telah ditinggalkan orang tuanya sejak bayi. Ayahnya bernama Sayyid Mustafa Khomeini, seorang Ulama terkemuka di Kota Khomein. Ayahnya dibunuh oleh Dinasti Qajar yang tidak suka melihat Mustafa Khomeini menentang kekuasaan mereka.
Ayatullah Ruhollah Khomeini (Sumber Gambar : Wikipedia)

Pada usia 19 tahun, Khomeini  melanjutkan pendidikannya di pusat pendidikan Islam (Hauzah ‘Ilmiyah)  di Kota Arak. Pendidikannya ini langsung di bawah bimbingan Ayatullah Syekh Abdul Karim Hairi Yazdi yang merupakan Ulama terkemuka dimasanya. Khomeini mendalami ilmu filsafat dan ‘irfan Ma’rifa (Mengenal Tuhan). 

Dalam usia relatif muda, Ayatullah Komeini telah mencapai tingkatan Ulama Mujtahid dalam bidang hukum Islam. Dengan demikian ia mempunyai wewenang untuk mengeluarkan fatwa-fatwa. Ajaran dan pemikiran Ayatullah Khomeini dapat dijumpai dalam karya-karyanya. 

Bukunya berjudul “al Hukumah al-islamiyah" (pemerintahan Islam) merupakan karyanya yang terpopuler. Disini tertuang pandangan-pandangan Khomeini dalam bidang politik terutama mengenai ide negara Islam yang berdasarakan prinsip wilayah al faqih (kepemimpinan kaum).

Ide untuk mendirikan negara Islam telah tertanam pada dirinya sejak ia masih muda. Dalam bukunya yang berjudul "Kasyf al-Asrar" (Penyingkapan Rahasia) tahun 1941, Khomeini mengkritik kesewenangan Mohammad Reza Pahlavi sang penguasa Iran saat itu serta menghimbau para Ulama agar terlibat dalam politik.

Pada tahun 1950-an, Ayatullah Kasyani bersama dengan Dr. Mohammad Hidayat Mossadeq (pemimpin politik Iran) berhasil menyingkirkan Reza Shah. Khomeini mendukung Ayatullah Kasyani dan meningkatkan oposisinya terhadap monarki di Iran. Pada saat itu Khomeini belum populer karena tertutup oleh popularitas Ayatullah Kasyani.

Khomeini dikenal luas setelah ia memprotes dengan keras para penguasa Iran di bidang pertanahan (Program Land Reform) dan wanita yang dikenal dengan nama program Revolusi Putih. Revolusi Putih diluncurkan tahun 1963 oleh penguasa Iran yakni Mohammad Reza Pahlavi.

Reza Pahlavi dan keluarganya (sumber gambar : m.lenta.ru)

Dalam Revolusi Putih ini, Mohammad Reza Pahlavi melarang wanita berhijab. Menurut Khomeini, kebijakkan Mohammad Reza Pahlavi di bidang pertanahan dengan programnya justru akan menghancurkan secara total ekonomi agraris di Iran.

Selain itu, kebijakan tersebut juga akan membuat rakyat menjadi budak-budak sejumlah konglomerat yang didominasi keluarga Istana, para pengusaha, dan perusahaan asing. 

Menurut Khomeini, emansipasi wanita yang diterapkan Mohammad Reza Pahlavi justru akan merendahkan martabat wanita dan menciptakan kerusakan moral. 

Ayatullah Khomeini menyerukan perlawanan terhadap Mohammad Reza Pahlavi yang dianggapnya memusuhi Islam, terutama ketika kemudian Mohammad Reza Pahlavi menyetujui desakan Amerika untuk menetapkan Undang-Undang mengenai kekebalan personil militer Amerika di Iran. Dalam penilaian Khomeini, konsesi yang telah diberikan Mohammad Reza Pahlavi kepada Amerika itu telah menghina rakyat Iran dan kaum muslimin secara umum.

Revolusi Iran di bawah Komando Ulama

Seruan Ayatullah Khomeini mendapat dukungan dari rakyat. Protes terhadap terjadi dimana-mana. Tetapi Mohammad Reza Pahlavi menanggapi protes-protes itu dengan kekerasan sehingga menimbulkan banyak korban jiwa. 

Peristiwa ini dikenal dengan "Kebangkitan 15 Khurdad" (Bulan keempat penanggalan Persia). Setelah itu Khomeini dipenjarakan dan kemudian dibuang ke Turki pada tanggal 04 November 1964, dua tahun kemudian ia dipindahkan ke Irak. 

Selama di Irak, ia tidak pernah mengurangi kegiatan politiknya dan tetap mengeluarkan pidato politik. 

Pada akhirnya, rakyat menyambut seruan Khomeini dengan antusias. Tanggal 11 Februari 1979, rakyat melancarkan Revolusi Islam yang menuntut agar sistem monarki dihapuskan dan negara Islam didirikan.

Setelah kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi runtuh, Ayatulah Khomeini kembali ke Iran pasca pengasingannya di Irak selama 15 tahun. Selanjutnya ia dipilih rakyat sebagai penguasa tertinggi dalam sistem Republik Islam Iran.

Revolusi Iran dalam Analisa Karen Amstrong

Karen Amstrong (sumber gambar : Antaranews.com

Dalam Islam, agama dan politik tidak terpisahkan sejak masa Nabi, karena Islam menekankan keadilan sosial, karena itulah selama berabad-abad rakyat meminta para Ulama untuk mendapat panduan politis dan dukungan dalam melawan rezim yang korup.

Contohnya, dalam masyarakat Syiah di Iran, para Ulama membangun tradisi sebagai pelindung rakyat dalam melawan pemerintahan opresif para Syah.

Revolusi Islam Iran bukanlah pengembalikan kaum Fundamentalis kepada barabarisme primitif. Revolusi ini adalah kehendak untuk menemukan diri mereka kembali dan membuang semua gaya-gaya hidup dan nilai-nilai Barat yang asing serta tindakan Barat yang mengambil untung dari sumber daya alam Iran. 

Islam selalu memperjuangkan kelompok miskin. Baik Amerika dan Barat bukanlah sahabat sejati kaum miskin tetapi negara-negara besar itu hanya mengeksploitasi sumber daya alam.

Rakyat memiliki kekuataan yang sangat besar dan jika mereka bersatu bersama dan membentuk sebuah front Revolusi yang solid maka tidak akan ada yang dapat dilakukan negara-negara adidaya untuk menghentikan mereka. 

Dengan dipenuhi visi apokaliptik, Khomeini berargumen bahwa kaum miskin harus merebut nasib mereka ke tangan mereka sendiri dan memulai perubahan dengan menyatakan Perang terhadap kaum mustakbirin, kelas penguasa. 

Ayatullah Khomeini menyatakan bahwa kaum muslimin harus memimpin jalan dan menjadi pembela di garis depan atas semua kaum miskin di dunia yang telah dicerai oleh Imperialisme negara-negara adidaya, jihad kaum revolusioner akan membawa kembali sebuah tata dunia baru.

Negara Iran di Bawah Kepemimpinan Ayatullah Khomeini

Ayatullah Khomeini, mencoba menjalankan sepenuhnya prinsip-prinsip syariat seperti tempat perjudian, pelacuran yang menjamur di zaman Syah dihancurkan. Disamping itu, ia membenci Amerika dan sekutunya yang dianggap sebagai pembuat kerusakan umat manusia.

Khomeini menganggap bahwa Islam tidak dapat dipisahkan dari politik, sehingga ia berusaha mewujudkan negara Islam. Negara Islam yang ia maksud adalah berdasarkan perinsip wilayah al faqih. Konsep ini menurut Khomeini, kekuasaan tertinggi negara ada pada Ulama. 
Mural Ayatullah Khomeini di dinding bekas kedutaan AS di Iran (Sumber Gambar : Liputan6.com)

Khomeini terkenal sebagai seorang yang amat bersahaja, pakaian sehari-harinya pun tidak lebih baik dari rakyat biasa, hal ini karena Khomeini adalah seorang zahid yang tidak suka pada kemewahan dunia. Khomeini telah mengubah secara total pola hidup rakyat Iran dari hidup kebarat-baratan ke kehidupan religius.

Terlepas dari Syiah yang menjadi lawan politik kaum Sunni, Ayatullah Khomeini seharusnya menjadi teladan bagi para Ulama untuk aktif dalam politik Islam serta menentang kekuasaan yang zalim, kekuasaan yang hanya mengeruk sumber daya alam dan mengabaikan kemiskinan.

Menetang para penguasa yang hidup bermewah-mewahan disaat rakyat banyak yang miskin. Pada saat ini, Republik Islam Iran menjadi negara yang memiliki kekuataan besar di bidang teknologi, ekonomi di kawasan Dunia Islam. 

Seandainya Iran, Turki dan Saudi, Mesir bersatu maka akan dapat menghancurkan imperialisme barat walau hal itu tampaknya mustahil terwujud kecuali hari kiamat tiba. 
Dikutip dari berbagai sumber.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال