Dajjal Akan Muncul dari Pulau Socotra

Pohon di Pulau Sokotra (Sumber gambar : Kaskus.co.id)

KULIAHALISLAM.COM - Berdasarkan manuskrip kuno dan penelitian Muhammad Isa Daud (Pakar Futurologi dari Mesir), menyebutkan bahwa ditengah-tengah penduduk Sadum dan Amurah, ada seorang Ayah dan Ibu yang menyembah setan yang berubah wujud menjadi sebuah berhala mirip sapi betina.

Ayah dan Ibu Dajjal merupakan saudara kandung yang menikah (pernikahan sedarah). Ayah dan ibunya Dajjal selalu menyembah berhala tersebut dan menyajikan persembahan. 

Pada malam hari pasangan suami isteri itu mendengar suara dari patung sapi yang memberitahukan bahwa ia memerintahkan Malaikat untuk memberikan mereka seorang anak. Ketika anak itu lahir, anak itu memiliki cacat dimatanya. Ia suka tidur malam dan siang serta jarang bangun dan ia tidak mau menyusu kepada ibunya. 

Yang sungguh mengagetkan adalah bahwa anak laki-laki itu selama beberapa tahun hanya diam dan hanya bergerak beberapa kali sehingga orang tuanya menganggap ia lumpuh. Pada suatu malam, anak tersebut berjalan dengan kedua kakinya. Setanlah yang menuntunnya untuk berjalan.

Ibunya mati karena keracunan dan ayahnya mati karena menderita tekanan batin akibat watak anaknya yang sangat ganjil. Sejak kecil anak tersebut sudah membawa bencana pada orangtuanya. Anak itu dibawa penduduk untuk diobati tetapi mereka sama sekali tidak dapat menyembuhkannya. 

Hanya satu bulan saja ketika penduduk negeri itu sedang tertidur lelap, mereka terkena azab dari Allah seperti azab berupa gempa dahsyat seperti  yang turun kepada kaum Nabi Luth  karena mereka juga melakukan Zina dan Homoseksual.

Allah memerintah Jibril untuk membawa anak laki-laki tadi ke suatu pulau yang terletak di suatu lautan luas yang disebut laut Yaman. 

Anak tersebut ditinggalkan Jibril di pulau itu. Pulau itu dikenal dengan nama “Jazirah ats tsu’ban ar rahib wa adabbah al haba’  (Pulau Ular mengerikan dan hewan berbulu tebal). 
Jassasah merupakan binatang yang dapat berbicara dengan bahasa manusia. 

Jassasah diperintahkan Jibril juga memberikan kabar berbagai perkembangan dunia kepada anak tersebut di pulau itu dan menjaga anak itu. 

Jassasah berkata pada anak itu “Engkau adalah seorang anak yang diselamatkan oleh Allah dari gempa dahsyat ketika bumi terungkir yang terjadi di negeri Samirah, engkau dibawa malaikat yang agung, yakni Jibril, ia membawamu kesini, dan ia juga mengurus makan dan minummu, oleh karena itu janganlah engkau mengkhianati janjimu dengan Allah”. 

Kemudian, Jassasah membawanya ke sebuah panel batu. Disitu tertera tulisan berbahasa Arab, lalu binatang itu mengarahkannya untuk membacanya. Di batu tersebut bertuliskan “La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah), Allahu Wahid la Syarika lahu (Allah Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya), tiada kitab bagimu kecuali apa yang dibawa kepadamu oleh seorang Nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW yang datang menjelang akhir zaman. 

Anak itu tinggal di pulau terpencil tersebut dan tidak meninggalkannya. Anak itu terus tumbuh besar hingga tumbuh menjadi seorang pemuda tetapi ia tidak pernah menunaikan ibadah kepada Allah, sementara itu Jassasah selalu datang kepadanya untuk mengingatkannya agar beribadah pada Allah namun ia tampaknya tetap bersikap sombong dan meremehkan peringatan hewan tersebut.

Pada suatu hari, ia mengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata “Siapakah yang mengetahui bahwa perkataanmu wahai Jassasah adalah benar, sungguh aku hanya sendirian, aku pun tidak pernah melihat Jibril, aku tidak pernah menyaksikan gempa bumi itu, bahkan aku tidak pernah melihat Allah”.

Jassasah berkata  “Sesungguhnya Jibril menyuruku untuk menemuimu dan berbicara denganmu, letakanlah tanganmu pada apa saja, maka engkau akan menemukan suatu tanda bagi kepentinganmu, lalu sembahlah Allah, Tuhanmu Yang Maha Penyayang, jika engkau tidak melakukannya maka aku mengingatkanmu bahwa kelak engkau akan menjadi mahluk yang dijauhkan dari rahmat Allah”.

Lalu ia mencoba mengambil sedikit tinta mirip tanah berwarna dan bercampur air, kemudian ia melemparkannya kepada Burung yang telah menjadi bangkai. Tiba-tiba burung itu hidup kembali dan terbang tinggi di angkasa. Ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Jassasah berkata padanya agar senantiasa menyembah Allah.

Tetapi ia tetap mengingkari Allah, bahkan ia menganggap dirinya sebagai Tuhan di Pulau terpencil itu. Namun demikian, Allah tetap membiarkannya hidup di Pulau itu sampai akhir zaman kelak. 

Ada sahabat Nabi bernama Tamim ad Dari menceritakan pada Nabi bahwa pada suatu ketika dirinya menaiki kapal laut bersama tiga puluh orang dari kabilah Lakhm dan Judzam. Selama satu bulan lamanya, mereka terombang-ambing di atas gelombang lautan.

Sampai akhirnya mereka berlabuh di sebuah pulau yang ada di tengah lautan menjelang matahari terbenam. Mereka duduk tak jauh dari kapal. Beberapa waktu kemudian, mereka masuk ke dalam pulau dan menjumpai sebuah hewan yang berbulu lebat. Saking lebat bulunya hewan tersebut, mereka tidak tahu mana kubul dan mana duburnya. 

Mereka kemudian memberanikan diri berkata kepada hewan tadi, ‘Celakalah, hewan apa engkau?’ Anehnya, hewan itu bisa menjawab, ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka kembali bertanya, ‘Apa itu hewan Al-Jassasah?’ Si hewan berkata, "Wahai kaum, pergilah kalian kepada seorang laki-laki yang berada di sebuah gereja. Sebab, dia sangat merindukan kabar kalian”.

Setelah hewan tersebut menyebutkan hal tersebut, kami menjadi takut. Jangan-jangan hewan itu adalah setan. Meski demikian, kami penasaran dan segera pergi menuju gua yang ditunjukkan hewan tadi. 

Begitu sampai, ternyata benar di dalam gua sudah ada sosok manusia terbesar sejauh yang pernah kami lihat. Dia diikat dengan kuat. Sedangkan kedua tangannya disimpan di tengkuknya. Dari kedua lutut sampai mata kakinya terikat dengan besi. 

Kala itu, kami bertanya, ‘Celakalah, siapakah kau?’ Manusia raksasa itu menjawab, ‘Kalian sudah bisa mengetahui kabarku, sekarang sampaikankah kepadaku, siapakah kalian?’, Tamim Ad-Dari menjawab, “Kami semua adalah orang Arab." 

Kami berlayar dengan sebuah kapal. 
Tiba-tiba kami dihadang ombak dan gelombang. Kami pun terombang-ambing selama satu bulan. Sampai akhirnya, kami berlabuh di pulaumu ini. 

Tiba-tiba, kami berjumpa dengan seekor hewan yang lebat bulunya dan ia meminta untuk ke sini menemuimu. Sebab, tuturnya, kau begitu merindukan kabar kami, sehingga kami pun segera menemuimu.

Laki-laki itu berkata, “Sekarang sampaikanlah kepadaku tentang kurma Baisan.” Dituturkan oleh Tamim Ad-Dari, “Kami balik bertanya, ‘Tentang apanya yang ingin engkau tanyakan?’ Yang aku tanyakan kepada kalian, apakah kurma itu masih berbuah?’’, “Masih”.

Sekarang sampaikanlah kepadaku tentang danau Ath-Thabariyyah, apakah ia masih terisi air?’’. Mereka menjawab   ‘‘Danau itu masih banyak airnya’’. 

Laki-laki itu kembali bertanya, “Sekarang kabarkanlah kepadaku tentang sumur Zughar, apakah sumur itu masih ada airnya? Apakah warga sekitar masih bercocok tanam dengan air sumur tersebut?”   Rombongan Tamim Ad-Dari menjawab, “Masih’’. Bahkan, airnya masih banyak dan para penduduk masih berladang dengan airnya.”

Laki-laki dalam gua itu kembali menanyakan pertanyaan lainnya, “Lalu kabarkanlah kepadaku tentang nabi orang-orang Arab? Apa yang telah dia lakukan? Dia lahir di Makkah dan hijrah ke Madinah. Apakah nabi itu diperangi oleh orang-orang Arab?” . “Betul,” jawab Tamim Ad-Dari. 

Lalu apa yang dia lakukan terhadap orang-orang Arab?”   Kawan-kawan Tamim Ad-Dari pun mengabarkan sejelas-jelasnya bahwa sang nabi telah muncul di tengah masyarakat Arab dan ditaati oleh mereka.   

Terdengar si laki-laki bertanya lagi, “Apakah itu sudah terjadi?”   “Benar,” tegas mereka.   “Nabi itu lebih bagus bagi mereka jika mereka menaatinya. Karena itu, dia memberitahu kalian tentangku. Sesungguhnya, aku ini Al-Masih Dajjal. Aku hampir saja diizinkan keluar.

 Setelah keluar, aku akan berjalan di muka bumi, Tidaklah aku biarkan satu kampung pun kecuali akan aku singgahi dalam empat puluh hari selain kota Makkah dan Madinah. 
Keduanya diharamkan kepadaku. Setiap kali aku akan masuk ke dalam keduanya atau masuk ke dalam salah satunya, aku dihadapi satu malaikat dengan pedang terbungkus sarung di tangannya, yang siap dihunuskan untuk menghalangiku. Setiap jalan bukit yang ada di kota itu akan ada malaikat yang menjaganya.”

Selanjutnya, Pulau tempat Dajjal itu sekarang bernama Pulau Socotra di Samudera Hindia yang masuk dalam negara Yaman. 

Pulau itu memiliki tumbuhan dan hewan yang tidak dapat ditemukan dibelahan bumi manapun. UNESCO mengakui Pulau itu sebagai salah satu warisan dunia. Dajjal akan keluar dari Pulau itu pada akhir zaman, semoga Allah melindungi kita dari fitnah Dajjal.

Penulis : Rabiul Rahman Purba, S.H


Rabiul Rahman Purba, S.H

Rabiul Rahman Purba, S.H (Alumni Sekolah Tinggi Hukum Yayasan Nasional Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara dan penulis Artikel dan Kajian Pemikiran Islam, Filsafat, Ilmu Hukum, Sejarah, Sejarah Islam dan Pendidikan Islam, Politik )

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال