Gen Milenial dan Identitas Keagamaan


Gen Milenial dan Identitas Keagamaan

Oleh: Muhammad Rausan Fikri

Pengelompokan dalam keberagaman beragama akan muncul ketika mendekati tahun tahun politik. Di dalam keberagaman beragama jika kita menelaah lagi secara mendalam ada klasifikasi menurut umur yang berada pada suatu kelompok, baik yang muda bahkan anak-anak sekalipun masuk dalam klasifikasi.

Tidak jarang situasi ini di manfaatkan sebaik mungkin untuk beberapa pemuka agama untuk mengorganisir masanya dalam menentukan sikap untuk memilih pasangan calon yang bertarung di arena pertarungan politik Indonesia.

Dalam pergulatan pada pemilu tahun 2019 pergulatan antara Jokowi dan Prabowo tidak kalah seru dengan  yang mendukungnya yaitu  didominasi oleh generasi milenial yang aktif di sosial media. Dan secara titik temu yang beda bisa disebut sebagai generasi yang memperjuangkan kebebasan berekspresi.

Menurut Manheim generasi adalah suatu konstruksi sosial yang di dalamnya terdapat sekelompok orang yang memiliki kesamaan umur dan pengalaman historis yang sama. Individu yang menjadi bagian dari satu generasi, adalah mereka yang memiliki kesamaan tahun lahir dalam rentang waktu 20 tahun dan berada dalam dimensi sosial dan dimensi sejarah yang sama. 

Definisi tersebut secara spesifik juga dikembangkan oleh Ryder (1965) yang mengatakan bahwa generasi adalah agregat dari sekelompok individu yang mengalami peristiwa-peristiwa yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Teori tentang perbedaan generasi dipopulerkan oleh Neil Howe dan William Strauss pada tahun 1991. 

Howe dan Strauss membagi generasi berdasarkan kesamaan rentang waktu kelahiran dan kesamaan kejadian-kejadian historis. Peneliti-peneliti lain juga melakukan pembagian generasi dengan label yang berbeda-beda, namun secara umum memiliki makna yang sama. 

Selanjutnya menurut peneliti Kupperschmidt (2000) generasi adalah sekelompok individu yang mengidentifikasi kelompoknya berdasarkan kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi, dan kejadian-kejadian dalam kehidupan kelompok individu tersebut yang memiliki pengaruh signifikan dalam fase pertumbuhan mereka oleh karena itu untuk benar-benar mengetahui siapakah yang layak disebut sebagai generasi milenial kita perlu mengkaji secara kritis dan berdasarkan literatur yang sangat kuat juga mendalam. 

Jika generasi milenial atau yang biasa disebut sebagai generasi Z adalah yang lahir disekitar tahun 1998-2000-an, sekarang lalu apakah yang menjadi indikator bahwa generasi yang lahir diatas tahun 1998-2000-an adalah generasi milenial? 

Apakah karena sudah tersebar secara merata oleh teknologi yang pesat yang biasa disebut sebagai era globalisasi ? Dimana sampai saat ini terus di modifikasi sampai ke tahap kita disebut sebagai era “post truth”. 

Jika penulis menyatakan bahwa indikator dan identitas generasi Z adalah berupa teknologi canggih itu memang tidak bisa di nafikan sepertinya teknologi canggih yang melahirkan media sosial adalah agama baru dari Rahim era globalisasi itu sendiri, jika generasi Z mempunyai agama baru seperti teknologi yang canggih lalu apakah agama yang sah dimata negara Indonesia sudah tidak berlaku atau sudah tidak terlalu penting bagi kehidupan sehari-hari. 

Meskipun sudah seperti itu dibeberapa media sosial yang digunakan oleh generasi milenial selalu menimbulkan perdebatan hangat tentang banyak permasalahan ini artinya diskusi sudah sedikit terotomasi bukan hanya lewat tatap muka tetapi bisa dilakukan di media sosial dan disamping generasi milenial ada generasi tua sebelum generasi milenial itu muncul.

Sedang membahas permasalahan secara tatap muka daripada harus bertatap di forum diskusi media sosial seperti kaskus justru ini menimbulkan oposisi biner dan pembelahan yang saya sebut sebagai “menarik”.  Tidak jarang ketika diskusi dilakukan di beberapa forum media sosial seperti kaskus.

Beberapa generasi milenial selalu membawa identitas agama yang sah di mata negara sebagai tunggangan untuk menambah referensi diskusi. Jika generasi milenial dan generasi tua berduduk sejajar disebuah tempat untuk berdiskusi tentang sebuah identitas keberagaman agama atau hanya di isi oleh salah satu perkumpulan identitas agama tertentu dan di pimpin oleh pemuka agama tersebut.

Ketika perilaku sesorang berdampak pada orang lain, ketika perilakunya melibatkan pilihan yang sadar akan cara dan tujuan, ketika perilakunya dapat dinilai dengan standar benar atau salah, ketika itulah masalah etika timbul, secara fisikal atau bilogis tidak berpengaruh pada orang lain. 

Bila kita tidak bebas memilih perilaku kita, pertimbangan etis sangat minimal Dibandingkan generasi sebelumnya, generasi milenial memiliki karakter unik berdasarkan klasifikasi umur yang lebih muda dan usia yang sedang produktif. 

Tetapi lebih jauh daripada itu generasi sebelum milenial atau yang disebut sebagai generasi “tua” bisa saja berkorelasi dengan generasi milenial ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan seperti menghadapi pemilu 2019 kemarin, saya ambil contoh yang bisa memberikan keterkaitan antara generasi milenial dan generasi tua selain pola pikir yang sama, senasib sepenangunggan. 

Ada yang lebih penting lagi yaitu identitas agama yang sama, identitas agama merupakan hal yang paling penting untuk menyeragamkan antara generasi “tua” dan generasi milenial  dalam satu wadah yang sama sebelum masuk kedalam pola pikir atau senasib sepenanggungan.

Secara teoritis meminjam istilah Koenta Wibisono (2005) Identitas Nasional merupakan “manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang pada aspek kehidupan sebuah bangsa (nasion) dengan ciri khasnya, yang membuat berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.” 

Agama merupakan  bentuk  kesadaran  manusia  yang  termanifestasi  pada  suatu kultur  dimana  manusia  awalnya  terpasung  karena  keturunan  dan  membuat kemungkinan untuk berubah seiring pembentukan  kesadarannya.  Kesadaran  terbentuk oleh  dan  dari  dirinya  sendiri.  

Menurut  Berger,  manusia  secara  ontogenetis  dilahirkan dalam bentuk kedirian yang “belum selesai”. Keberadaannya di dunia, dengan demikian, merupakan  proses  untuk  “menjadi  manusia”.  Manusia,  dalam  konteks tersebut,  secara terus-menerus  melakukan  proses  eksternalisasi  diri. Ia  selama  proses  tersebut mencurahkan  makna-makna  ke  dalam  realitas  (Irfan  Noor,  M.Hum).  

Maka  Agama menjadi  sebuah  cerminan  bagi  setiap  individu  dalam  keseharian  yang  berhadapan dengan  realitas  sosial. Apa  yang  saya  anggap sebagai  “terpasung”  merupakan  bagian keberhinggaan yang sering di temukan dalam kajiannya Peter L Berger identitas  dalam  keagamaan  merupakan  penanda  bahwa  eksistensi  agama  sebagai katalisator  kehidupan  manusia  itu jelas  sangat  berarti.  

Seluruh  agama memiliki aturan jelas  serta orientasi  dan  perilaku  dalam  menjalankan  agama  pun  sudah  ditetapkan, hampir semua agama seperti itu. Artinya  agama  mempolarisasikan  individu  sesuai  tujuan agama  itu sendiri.  

Dan  ketika seseorang memilih untuk memeluk salah satu agama tentunya memiliki argumen yang sangat kuat kuat, seperti misalnya rasa nyaman, jati diri serta perlindungan. 

Meskipun ada kebanyakan orang mempunyai agama karna keturunan yang sebelumnya dia memang merupakan seorang yang muslim, karena ibu bapaknya muslim akhirnya si anak memutuskan secara tidak sadar menjadi muslim sambil mempelajari agam islam itu sendiri. 

Polarisasi keagamaan di masyarakat, tidak terlalu buruk asalkan ada kesepakatan bahwa perbedaan agama tidak menjadikan suatu indikator  perpecahan. Saat warga terbelah ke dalam beberapa kutub yang berseberangan atas sebuah perbedaan identitas agama, itu harus menjadi hal yang sangat lumrah karena perbedaan itu penting dan Indonesia mempunyai sembohyan bhineka tunggal ika “berbeda beda tapi tetap satu jua.” 

Semua kaum beragama di dunia mempercayai agama sebagai jalan keselamatan. Baik keselamatan di dunia maupun di akhirat (kehidupan setelah kematian). Dua aspek keselamatan ini bukan sesuatu yang berada dari luar agama, melainkan melekat dan inheren dalam diri agama. 

Keduanya, keselamatan dunia dan akhirat tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan keduanya merupakan agama itu sendiri di dalam ajarannya. Karena itu sulit kita bayangkan ada agama tanpa kedua janji keselamatan tersebut antara keselamatan dunia dan akhirat, lalu adakah keterkaitannya antara identitas agama dengan konstelasi politik di Indonesia?

Jika di kaji secara histiografi memang ada kaitannya identitas agama dengan politik di Indonesia, Indonesia adalah negara yang menganut agama Islam paling banyak di asia tenggara, sudah sangat jelas ketika menjadi mayoritas selalu saja menjadi sorotan dan perhatian sendiri bagi kalangan Islam.

Konstelasi politik Indonesia di tahun 2019 membelah identitas agama Islam menjadi 2 kubu, ada yang menyebut dirinya sebagai Islam fudamentalis yang dipimpim oleh beberapa pemuka agama Islam yang sangat terkenal dan selalu muncul di layar TV kita, ada juga yang tidak kalah menarik menyebut dirinya sebagai Islam moderat.

Pada akhirnya mayoritas ter dikotomi. Namun demikian masalah perpisahan antara Islam moderat dan Islam fudamentalis banyak dampaknya kepada warga Islam diseluruh Indonesia, warga Islam di Indonesia akhirnya masuk kepada ranah saling mencurigakan satu sama lain. 

Identitas keagamaan selalu di manfaatkan untuk beberapa kepentinngan selain mendekati tahun tahun politik tetapi juga untuk mengorganisir masa menjadikannya sesuatu acara kegiatan guna memenuhi acara tersebut, lalu apakah jika identitas agama yang di bawa-bawa oleh pemuka agama untuk mengorganisir masa yang  ada di Indonesia akhirnya akan terpecah belah jika di hadapkan dengan Susana politik?

Kecil kemungkinan terjadi karena agama selalu membawa pesan pesan perdamaian kita bisa lihat contoh tersebut setelah melewati fase pemilu 2019. Hasil sebenarnya agama tidak akan hancur karena ada seseorang yang mencongkel basih pengetahuannya.

Agama sebagai sebuah identitas yang di pegang oleh setiap individu biasa saya sebut sebagai mikrokosmos tidak akan bisa di telanjangi oleh siapapun bahkan ketika identitas agama di koyak koyak oleh segelintir orang yang tidak mempercayainya agama tetap berdiri.

Kini untuk membantah desas-desus identitas keagamaan sebagai panglima pergelutan politik 2019 beberapa pemuka agama harus menepis dengan mengeluarkan  pernyataan yang didukung oleh media, di negara modern biasanya pernyataan resmi selalu di terima oleh masyarakat tanpa banyak bertanya, lalu apakah Indonesia bisa di klasifikasikan masuk ke dalam negara modern? 

Pasalnya setiap pernyataan yang di keluarkan oleh media selalu di goreng sebagai berita “hoaks” ini karena tidak ada intregatifnya antara media satu dengan media yang lainnya. Dalam kaitan ini , ada hal yang harus di catat kabar angina atau desas desus yang pada mulanya suatu keniscayaan yang di paparkan media ternyata kebanyakan hanya untuk menggiring ke tempat sampah belaka.     

Daftar Pustaka

  1. Statistik gender tematik : profil generasi milenial Indonesia kerjasama kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan badan pusat statistik.
  2. Idi Subandy Ibrahim dkk “hegemoni budaya” Yogyakarta yayasan bentang budaya hlm 299.
  3. Noor,  Irfan  M.Hum.  Realitas  Agama  dan  Problem  Studi  Ilmiah-Empiris  (Kajian  Filsafat Ilmu atas Pemikiran Peter L. Berger).

Admin

Redaksi Kuliah Al Islam

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال