Agama Islam Sebagai Agama Moderat (Washatiyyah)


(Sumber Gambar: Fitrah)
Oleh: Fitratul Akbar*

KULIAHALISLAM.COM - Sebagai agama samawi terakhir yang diturunkan Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW, Islam dipersepsikan mengandung ajaran-ajaran moderat di dalamnya. Dalam sebuah ayat Al-Qur’an umat Islam disebut sebagai umatan wasathan, yaitu umat moderat yang tidak ekstrem kanan maupun kiri,(QS.Al-Baqarah [2]:143).

Dalam struktur ajarannya, Islam selalu memadukan kedua titik ekstremitas yang saling berlawanan. Sebagai contoh, ajaran Islam tidak semata memuat persoalan ketuhanan secara esoterik, melainkan juga hal-hal lain menyangkut kemanusiaan dengan beragam implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih detailnya, komponen Islam mencakup tiga dimensi ajaran, yaitu ajaran tauhid, ajaran etika dan moralitas, dan aturan praktis keseharian. Dalam pembahasan ini akan elaborasikan beragam aspek kemoderatan ajaran islam baik dalam konteks ketentuan hukumnya yang bersifat sakral maupun yang profan.[1]

A. Moderat antara Akidah dan Syariat

Akidah dan Syariat merupakan dua komponen islam yang mmepunyai hubungan komplementer. Dengan ungkapan lain, struktur ajaran islam dapat dibelah menjadi dua elemen dasar, yaitu akidah dan syariat. Akidah adalah sistem keimanan hamba secara total terhadap wujud sang pencipta berikut perangkat ajaran yang diturunkannya. Sedangkan syariat adalah panduan hukum, baik menyangkut hubungan hamba dengan tuhan maupun hubungan antarmanusia dalam berinteraksi sosial sehari-sehari. Dengan dua komponen ini, islam memiliki sistem perpaduan antara dimensi esoterik (akidah) di satu pihak dan eksoterik (syariat) di pihak lain.[2]

1.Eksistensi Akidah

Akidah berasal dari akar kata bahasa arab i’tiqad yang berarti keyakinan atau kepercayaan. Akidah, dengan begitu, mengandung perangkat keimanan dan keyakinan akan adanya sang pencipta jagad raya dengan kekuasaan mutlak yang dimilikinya. Dalam tradisi kajian ilmu tauhid, akidah diformulasikan lebih jauh sebagai sistem keimanan kepada Allah swt, para malaikat-nya, kitab-kitab sucinya, para rasul(utusan)-nya, adanya hari kiamat, serta percaya pula akan ketentuan baik dan buruk sebagai takdir tuhan.

Dalam tradisi kajian ilmu tauhid, akidah dapat diderivasikan ke dalam empat jenis pembahasan, yaitu: a. akidah ketuhanan, b. akidah kenabian, c. akidah kerohanian, d. akidah kegaiban.

2. Eksistensi Syariat

Kata syariat mengandung pemaknaan beragam baik dari segi etimologi maupun terminologinya. Makna etimologi syariat adalah tempat mengalirnya air atau sebuah jalan setapak menuju sumber air. Sedangkan menurut makna terminologinya secara luas, syariat bisa diidentikan dengan ad-din (islam), itu sendiri dan mencakup tiga dimensi ajaran yaitu, ajaran tauhid, ajaran moral, dan aturan praktis. Dengan pengertian seperti ini, syariat bisa diesbut sebagai esensi ajaran agama yang dapat menjangkau elemen-elemen penting di dalamnya, seperti masalah ketuhanan dengan berbagai implikasinya, persoalan moralitas dalam pergaulan sehari-hari, serta persolan-persolan transaksi dan interaksi sosial lainnya.

Syariat adalah panduan hukum, baik menyangkut hubungan hamba dengan tuhan maupun hubungan manusia dalam berinteraksi sosial sehari-hari. Mahmud Syaltut, mantanSyekh Al-Azhar Mesir, mempunyai pandangan seperti ini dalam memosisikan syariat dan akidah. Beliau menganggap bahwa akidah dan syariat merupakan dua hal yang mempunyai hubungan komplementer dalam struktur ajaran agama secara keseluruhan. Dalam persoalan ini, beliau pernah menyusun sebuah buku yang diberi Al-Isllamu akidah wa syariah (islam adalah akidah dan syariah).[3]

3. Moderat dalam wujud lapang dan seimbang

Watak dan karakteristik lain yang melekat pada islam adalah al-wasathiyyah atau at-tawazun (moderat), yakni jalan tengah di antara dua kutub yang saling berlawanan. Misalnya jalan tengah antara spiritualisme (ruhaniyyah) dan materialisme (maddiyyah). Islam tidak menafikan keberadaan ritus yang mempunyai nilai-nilai spiritual dalam kehidupan beragama, sebagaimana ia tidak mengingkari wujud materi sebagai sumber daya yang mesti dikelolanya. Contoh lain adalah keseimbangan proporsional antara kepentingan individu dan kolektif dalamkehidupan bermasyarakat. Islam memberikan hak-hak individu maupun masyarakat dengan penuh perimbangan. Baru pada saat-saat tertentu di mana terjadi paradoks antara keduanya, kepentingan umum yang lebih diprioritaskan atas kepentingan individu. Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan: “Kepentingan umum diprioritaskan di atas kepentingan individu”. Pada tataran yang lebih rinci, bentuk-bentuk kemoderatan atau kesimbangan dalam islam dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai ragam pranata kehidupan beragama sebagai berikut: 1. keseimbangan teologi, 2. keseimbangan ritual keagamaan, 3. keseimbangan moralitas dan budi pekerti, 4. keseimbangan proses tasyri (pembentukan hukum).

1. Keseimbangan Teologi

Ajaran islam mengenal doktrin kepercayaaan terhadap benda-benda gaib (abstrak) seperti diisyaratkan dalam QS.Al-Baqarah 2:3. Beberapa bentuk keseimbangan pada level yang ini dapat ditamsilkan sebagai berikut:

a. islam tidak seperti berkeyakinannya kaum mistisisime yang cenderung berlebihan dalam  mempercayai benda gaib. Mereka dapat mengimani esktinsi metafisik sampai pada batas di luar jangkauan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan secara syari maupun aqli.

Pada sisi yang bersebarangan islam juga menentang aliran materialisme yang terkesan mengenyampingkan sebuah esksitensi di balik metafisik. Aliran ini menafikan semua jenis esksistensi di luar jangankuan indra. Sebagai dampaknya, aliran ini ini terjerembab pada praktik penyucian bahkan penyembahan terhadap materi yang dianggapnya sebagai penjelas awal dan akhir kehidupan manusia.

b. akidah islam menentang dengan penuh tegas sistem keyakinan kaum ateis yang menafikan wujud tuhan. Sebagaimana islam juga mengingkari pluralisme Tuhan yang terkadang sampai pada batas menuhankan benda-benda, hewan-hewan, atau pun jenis-jenis mahkluk lainnya. Islam menyerukan penunggalan Tuhan yang digambarkan di dalam QS.Al-Ikhlas:112, sebagai Tuhan yang tidak beranak, tidak diperanakan serta tida ada yang menadingi kemahakuasaannya.

c. islam memberikan porsi berimbang antara pikir dan zikir, antara nalar dan spiritual. Dalam kaitan ini, islam menempatkan akal dalam poisisi sangat strategis guna mencapai maslahah dalam hidup dan kehidupan. Akan tetapi untuk membimbing daya nalar manusia islam memosisikan keberadaan wahyu sebagai pengimbang kebebasan akal budi setiap manusia.

2. Keseimbangan Ritual Keagamaan

Term ibadah dalam islam diperspesikan sebagai amalan suci dalam bentuk ritus-ritus agama. Amalan jenis sengaja diproyesikkan sebagai simbol identitas kehambaan seorang manusia di hadapan sang pencipta. Kalau pengertian ini mau diperlonggar, apa yang disebut ibadah sebenarnya bukan terbatas pada amalan vertikal menyangkut hubungan hamba dengan tuhan semata. Sebaliknya, pengertian ibadah dapat menjangkau pula jenis-jenis amalan horisontal sesama hambanya sejauh amalan terseubut ditransendenkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebajikan dengan niat yang manusia dan bijak pula.

3. Keseimbangan Moralitas dan Budi Pekerti

Di antara sekian banyak jenis dan ragam ciptaan Allah, manusia diposisikan sebagai makhluk paling baik dan mulia.  Betapa tidak, pada anatomi manusia bukan saja terdapat dua komponen yang saling melengkapi, fisik (raga) dan rohani (jiwa), tetapi lebih dari itu pada komponen tersebut kedua (rohani) tuhan menyematkan dua unsur lagi sebagai lambang kesempurnaan manusia, yaitu akal dan nafsu.

Keseimbangan komponen yang melekat pada diri manusia tersebut pada waktu bersamaan menumbuhkan watak keseimbangan pula pada perilaku dan perangai manusia dalam interaksi sosial sehari-hari. Inti ajaran dalam konteks ini yaitu bagaimnana komponen nafsu yang ada pada diri setiap manusia dapat ditaklukan oleh komponen akal. Dengan penaklukan seperti ini maka potensi nafsu bermuara pada apa yang disebut nafsu insaniyyah atau nafsu mutmainnah yang mengajak pada kebajikan, bukan nafsu hayawaniyyah atau nafsu ammarah yang mengajak pada perusakan.Karena itu idiom-idiom islam sarat dengan anjuran berbuat bijak dan santun pada sesamanya. Seperti anjuran merajut tali persaudaran (saliturrahim), menjenguk orang sakit (iyadah al-maridh, menyantuni anak yatim dan fakir miskin(al-birr bi al-yatama wa al-masakin), bahu-membahu dan solidaritas (at-takaful wa at-tadhamun) dan lain-lain. Pada sisi yang berseberangan, islam mengutuk jenis-jenis perbuatan tercela yang dapat merugikan dan menzalimi orang lain. Seperti menggunjing sesamanya (al-ghibah), mengadu domba (an-namimah), dengki dan iri hati (al-hasad wa al-hiqd), egoisme (al-anani), dan penyakit-penytakit hati lainnya yang bersifat akut.[4]

4. Keseimbangan dalam Proses Tasyri (Pembentukan Hukum)

Apa yang dapat ditangkap sebagai keseimbangan tasyri dalam islam adalah penentuan halal dan haram yang selalu mengacu pada asas manfaat-mudarat, suci-najis, serta bersih-kotor. Dalam kjaitan ini Allah SWT berfirman dalam QS.Al-A’araf 7:157.Dengan ungkapan lain, satu-satunya tolok ukur yang digunakan islam dalam penentuan halal dan haram adalah maslahah atau kemaslahatan umat manusia sepanjang sejarahnya.

*)Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi Syariah, FAI, UMM. Pegiat Isu Kemanusiaan dan Perdamaian. 


[1]ISLAM MODERAT, Dr.H. Abu Yasid, M.A., LL.M, Hlm:7-8

[2]Hlm 8.

[3]Hlm 19-20.

[4] ISLAM MODERAT, Dr.H. Abu Yasid, M.A., LL.M, hlm:58.

Fitratul Akbar

Mahasiswa Ekonomi Syariah, FAI, UMM. Peneliti isu-isu Ekonomi Islam, Kerukunan Umat Beragama dan Perdamaian. Redaktur Pelaksana Kuliah Al-Islam. "Membumikan Pemikiran, Membangun Peradaban, dan Memberikan Pencerahan".

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال